SANG DEWI VS BOS CEO

SANG DEWI VS BOS CEO
BAB 58


__ADS_3

"Oh baiklah," jawab Senja kembali duduk.


Guntur dulu di samping Senja. "Kamu masih lapar? Mau cari makanan dulu?" tanya Guntur.


"Ya aku masih lapar," jawabnya jujur.


"Ya sudah kita makan di restoran saja," ajak Guntur berdiri.


"Tunggu dulu! Tunggu sampelnya keluar baru kalian boleh pergi,' larang Ari.


Tak lama kemudian sampel itu pun sudah diperiksa pegawai itu datang dan memberikan sampel itu kepada Ari beserta datanya.


Ari melihat isi data tersebut. "Di sini di jelaskan bahwa dari sisa makanan yang kamu makan itu terdapat obat pencahar, mungkinkah ada seseorang yang tidak menyukaimu?" tanya Ari.


"Makanan itu di bawa langsung oleh sekretaris Yessy, mana mereka tahu jika makanan itu untukku," jawab Guntur berpikir.

__ADS_1


"Mungkinkah Yessy sendiri yang meletaknya untuk membunuhmu?" tanya Ari sambil tersenyum kecil.


"Membunuhku? Ayolah, dia sudah bekerja lebih dari 3 tahun dan tidak melakukan kesalahan seperti itu, atau mungkin dia sebenarnya ingin …." ucap Guntur terhenti sambil melihat Senja dan Ari juga menerka-nerka bahwa makanan itu bukan untuk Guntur, melainkan untuk Senja. Senja menekuk alisnya melihat ke arah kedua pria yang menatapnya.


"Maaf ya Senja kamu tunggu di sini sebentar," ucap Ari menarik tangan Guntur dan segera menjauh dari Senja agar Senja tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Ada apa dengan dua orang itu?" tanya Senja heran.


Setelah mereka menjauh. "Tapi apa alasannya?" tanya Guntur tak habis pikir.


"Tentu saja, cemburu sosial, apa kau melakukan Senja lebih spesial?" tanya Ari.


"Apa kamu pernah melakukan hal yang sama dengan Sekretaris mu itu?" tanya Ari lagi.


"Aku pernah dia membawa makan bersama di luar saat kami ada klien, itukan juga makan bersama," jawab Guntur.

__ADS_1


"Astaga! Sepertinya kau tidak pernah peduli dengan orang di sekitar mu," ucap Ari.


"Untuk apa aku memikirkannya?" tanya Guntur.


"Sekretaris mu itu pasti cemburu, sepertinya dia menyukaimu, di tambah lagi perlakukan mu sangat berbeda dengan wanita ini, itu membuat dia gelisah, tapi tetap saja perlakuan dia tidak bisa di toleransi, untuk membuat seseorang kesakitan malah kena bosnya, Ha-ha-ha, sial sekali nasib sekretaris mu itu," ucap Ari tertawa.


"Sepertinya aku harus ganti sekretaris baru," ucap Guntur.


"Dia mungkin lebih cocok jadi Sekretaris mu," ucap Ari melihat ke arah Senja.


"Dia lebih cocok jadi pengawal saja, wanita keras kepala dan strong itu, dia menyelesaikan masalah tidak menggunakan pikiran, ia selesaikan dengan cara kekerasan barulah baginya puas untuk membalas dendam," ucap Guntur melihat ke arah Senja yang sedang menunggunya di sana.


"Apa dia sangat sadis?" tanya Ari memajukan wajahnya mendekati Guntur.


"Dia bukan hanya sadis, kejam dan dingin, tak kenal takut dengan apa pun, ia akan menghancurkan segala sesuatu yang menghalanginya dan penganggu, dia benar-benar bersemangat," ucap Guntur terlihat seulas senyum bangga melihat ke arah Senja.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau membiarkan dia di sisi mu, tidak takut di pukul olehnya lagi seperti yang kemarin itu, jika tidak aku yang cepat menyelamatkan mu, mungkin kamu sudah lewat," ucap Ari melipat tangannya.


"Meskipun begitu aku suka, aku suka dia yang punya semangat yang tinggi, dia benar-benar unik," jawab Guntur yang terus memandangi Senja. Sedangkan Senja bermain ponselnya.


__ADS_2