
Mereka menghabiskan makanannya, setelah selesai makan, Guntur memanggil pegawai.
"Mbak!" panggil Guntur pegawai itu datang mendekati meja Guntur.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya pegawai itu tersenyum genit.
"Saya ingin bayar bill-nya ucap Guntur
"Sebentar ya saya itu hitung dulu ucap pegawai itu menghitungnya. "Semuanya 2.750.000 Tuan," ucap pegawai itu.
Guntur mengambil kartu ATM-nya dan menggesek di mesin pembayaran.
"Terima kasih Tuan, silakan datang kembali," ucap Pegawai itu mengidipkan sebelah matanya ke arah Guntur, akan tetapi Guntur tidak mempedulikannya.
"Astaga! Ingin rasanya aku mencolok matanya yang genit itu," ucap Senja.
Guntur tersenyum. "Apa dia cemburu?" tanya Guntur dalam hati.
"Ayo kita kembali ke mobil," ajak Guntur. Mereka pun berjalan mendekati mobil.
Saat Senja mau masuk, Guntur menahannya. "UPS … tunggu dulu," ucap Guntur.
"Ada apa?" tanya Senja datar.
"Karena kamu sekarang adalah pengawal ku, jadi kamu yang setir mobil," ucap Guntur menyeringai.
"Baiklah," jawab Senja menurut, ia masuk ke kursi pengemudi.
Perlahan-lahan mobil mereka meninggalkan restoran itu, Senja menyetir dengan kecepatan sedang. Guntur menatap Senja yang sedang serius menyetir sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik," ucap Guntur dalam hati, ia tak bisa mengendalikan tangannya ingin menyentuh rambut Senja.
Senja menyadari jika ada bahaya datang, ia menghindar secara refleks menarik tangan Guntur dan membalikannya.
"Aduuuhhh!" teriak Guntur. Senja langsung melepaskan tangan Guntur.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Senja.
"Aku tadi hanya ingin … di kepalamu ada sesuatu, aku ingin mengambilnya," ucap Guntur beralasan sambil memegang tangannya yang sakit.
"Lain kali kalo ada apa-apa tolong beri tahu aku agar aku tidak menyakitimu," ucap Senja.
"Eh, lain kali aku pasti akan tidak akan melakukan lagi," ucap Guntur.
Senja menepikan mobil dan berhenti di pinggir jalan.
"Sini tanganmu," ucap Senja meraih tangan Guntur yang sakit itu. Senja melihat dan membolaknya dengan pelan.
Trak!
"Aaaaaaaa!" teriak Guntur kesakitan, karena Senja tiba-tiba menyentak tangan Guntur untuk membetulkan tulang beserta urat.
Senja mengelusnya untuk menghilangkan rasa sakitnya.
"Uhuk! Uhuk!" Guntur terbatuk-batuk.
"Bagaimana? Apa sudah tidak sakit lagi?" tanya Senja.
"Sudah tidak sakit lagi," jawab Guntur mengangguk. Senja kembali melajukan mobilnya menuju kantor Guntur.
__ADS_1
Triring
Triring
Triring
Ponsel milik Guntur berbunyi dan ia segera mengangkatnya.
"Halo," jawab Guntur.
"Tuan, Sekretaris Yessy sudah di temukan," ucap Jhony
"Baiklah, tahan dia, sekarang aku sedang menuju ke kantor," ucap Guntur.
"Baik Tuan," jawab Jhony.
"Bisa menambah kecepatan?" tanya Guntur.
"Baiklah, dengan senang hati," ucap Senja menambah kecepatan mobilnya. Di kehidupan dahulu ia sering balapan jadi jalanan itu bagaikan permainan baginya, melintasi dan menyalip mobil di depan, mereacing dan berputar dengan kecepatan tinggi.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan kantor.
"Apa kau seorang pembalap dulunya?" tanya Guntur.
"Bisa di katakan seperti itulah," jawab Senja.
"Ayo, kita lihat orang yang sudah memberiku obat itu, bagaimana nanti kamu mengurusnya," ucap Guntur.
"Kau menyuruhku untuk mengurusnya? Apa tidak takut jika aku di luar batas dan tidak bisa mengendalikan emosi?" tanya Senja ragu.
__ADS_1
"Aku akan memantaunya," jawab Guntur tersenyum.