
"Makan dulu baru lihat berkasnya nanti," ucap Guntur mengambil berkas dari tangan Senja lalu meletakkan berkas itu di atas meja.
Karena Senja sudah sangat lapar, ia langsung membuka makanan yang dan melahapnya.
"Bagus akhirnya dia memakan makanan yang berisi obat itu," ucap Yessi dengan membulatkan matanya dan senyum yang sangat lebar.
Satu suapan, dua suap, tiga suap. tiba-tiba saja Guntur merasa kesakitan
"Aduh kenapa perutku sakit sekali?" tanya Guntur tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Mungkin jika sakit sedikit ia bisa menahan imejnya, tapi ini beda, ini beneran sangat sakit.
"Jangan membohongiku," ucap Senja santai sambil melahap makanannya.
"Aku … aku tidak bercanda, ini … ini … beneran sakit sekali," ucap Guntur menekan perutnya,
terlihat wajah Guntur yang berubah dan juga dia mengeluarkan keringat dingin.
"Ternyata dia beneran sakit aku akan membawamu ke rumah sakit." Senja menarik tangan Guntur lalu membopongnya keluar.
"Apaaaaaaa! Jadi yang makanan berisi obat itu dimakan oleh Tuan Guntur," ucapnya Yessi terbelalak. "Kadi aku salah memberikannya makanannya? Bagaimana donk." Yessi mencoba mengingat-ingat makanan yang ia bawa ia ingat betul jika di tangan kirinya adalah makanan yang berisi obat setelah ia ingat-ingat ternyata makanan sebelah kanan lah yang berisi obat
"Sial! Matilah aku!" teriak Yessy gelagapan, ia berjongkok sambil membenturkan kepalanya di tembok.
Senja membawa Guntur masuk ke dalam mobil lalu ia pun menginjak pedal gas mobil melaju di jalanan menuju rumah sakit milik Ari.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Senja dengan cepat membawa Guntur ke dalam rumah sakit itu. Melihat sahabatnya itu datang lagi ke rumah sakitnya Ari pun mendekatinya.
"Ada apa ini?" tanya Ari kepada Senja.
"Dia bilang dia sakit perut," jawab Senja. "Wajahnya sekarang sudah pucat mungkin beneran sakit," ucap Senja memberikan Guntur kepada Ari.
"Ayolah aku beneran sakit," ujar Guntur dalam hati.
"Ayo cepat masuk UGD," perintah Ari kepada pegawainya.
Mereka pun membawa masuk Guntur dan segera mengobatinya sedangkan Senja duduk di luar kursi tunggu.
Ari segera memeriksanya lalu memberi obat penahan rasa sakit dan memberi infus.
"Aku tadi hanya makan sarapan bersama Senja," jawab Guntur dengan suara yang sedikit lemas.
"Kau makan di mana?" tanya Ari sambil memeriksa perut Guntur.
"Makanan itu dibawa oleh Yessi, aku menyuruh dia untuk membelikan sarapan," jawab Guntur.
"Aku akan mengurus lambungmu," ucap Ari.
Pengobatan dilakukan Ari mengambil sedikit sampel lalu memberikannya kepada pegawainya.
__ADS_1
"Coba periksa ini di laboratorium," perintah Ari.
"Baik dokter," jawab pegawainya berlari menuju laboratorium.
"Bagaimana sekarang? Apa masih tidak enakan?" tanya Ari setelah pengobatan dilakukan.
"Ini sudah nyaman kok," jawab Guntur.
"Aku sudah memberikan sampel kepada pegawaiku mungkin kita akan mengetahui penyebabnya nanti," ucap Ari.
"Apa aku sudah boleh keluar?" katanya Guntur.
"Kenapa keburu-buru sekali keluarnya? Kenapa kau tidak berpura-pura saja?" tanya Ari memutar bola matanya.
"Sial! Aku sudah sembuh, kau mendoakan ku mati," ucap Guntur.
"Sudah sembuh apa kau sudah kangen dengan wanita yang menunggumu di luar itu," tebak Ari.
"Dua-duanya," ucap Guntur duduk tempat tidur itu lalu ya turun dan membuka pintu UGD.
"Kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Senja berdiri melihat kedatangan Guntur.
"Ya aku sudah sehat cuman kita tunggu sebentar lagi di sini, tidak apa-apa kan?" tanya Guntur.
__ADS_1