
"Guru!" teriak Senja mendekati pria tua itu dan memegang kepalanya.
"Guru! Guru! Apa kau baik-baik saja guru! teriak Senja.
Pria tua itu bangun membuka matanya, namun pandangan yang sangat sayup.
"Kau… kau siapa?" tanya pria tua itu dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Aku..." Senja melihat ke kiri dan kanan untuk memastikan jika di sana tidak ada orang.
"Aku Lora guru," ucap Senja dengan suara pelan.
"Lora? Bukannya murid ke sanyangan ku itu sudah meninggal, mungkin ini adalah pemandangan sebelum aku pergi, begini juga bagus, setidaknya aku bisa bertemu dengan murid kesayanganku sekaligus anakku," ucap pria yang di panggil Senja itu guru.
"Tidak guru! Guru jangan mati, guru harus bertahan hidup, guru harus hidup," ucap Senja panik.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku bersyukur jika aku bertemu dengannya, tugas ku sudah selesai, jadi aku harus pergi dulu," ucap gurunya dengan suara buang hampir tidak bisa ia ucapkan dengan jelas.
Tapi tubuh gurunya itu sudah lemas tak berdaya. Senja langsung berlari ke ruangan gurunya yang biasa dia hanya datang saat di panggil saja, ia mencari sesuatu untuk bisa menyelamatkan gurunya.
"Oh iya, ramuan itu, ramuan itu bisa untuk membuat guru bertahan sesaat, aku harus mencarinya," ucap Senja mencari ramuan yang ia maksud di antara ruangan yang sudah beracak-acakkan, sepertinya ada pertarungan di sini tadi.
Senja tak sengaja menendang sebuah botol dan ia memungutnya.
"Benar, ini dia," ucap Senja segera membawanya ke gurunya.
"Guru," lirih Senja, ia memegang kedua pipi gurunya dengan tangan yang bergetar hebat dan melihat wajahnya gurunya. Tubuh itu lemas saat Senja memegang tangannya.
"Guru... Guruuuuuu!" teriak Senja yang tak bisa membendung lagi air matanya, satu-satunya orang yang paling ia percayai sudah benar-benar meninggalkannya.
"Maafkan aku guruuuu, aku terlambat, salahku yang tidak bisa menyamarkan mu, salahku yang bisa menolong mu. Miska dan Donal, lihat saja nanti, aku akan membalas dendam ini, aku akan membunuh kalian berdua dengan sangat sadis, tidak! Aku akan menyiksa mereka berdua hingga mereka memilih untuk mati daripada hidup, lihat saja nanti pengkhianat!" teriak Senja dengan mata yang berapi-api yang bercampur dendam dan amarah yang menggebu-gebu.
__ADS_1
Senja kembali melihat wajah gurunya yang sudah tak bernyawa itu lagi. "Guru! Aku berjanji, ini adalah air mata terakhirku, aku bersumpah atas nama guru, aku akan membalas dendam si pengkhianat itu, pasti guru," ucap Senja menyeka air matanya.
Senja pergi ke belakang dan ia pun mengambil cangkul dan menggali tanah untuk pemakaman gurunya.
Dengan deraian air mata, Senja mengangkat tubuh sang guru lalu memakamkannya.
"Selamat jalan guru, aku pasti akan ke sini untuk melihat guru, menjaga rumah yang penuh kenangan manis dan pahit ini, maaf Guru, aku hanya bisa memakamkan mu seperti ini, semoga gitu tenang di alam sana," ucap Senja yang berusaha kuat.
Ia meninggalkan makam gurunya yang tidak jauh dari rumah tersebut, ia masuk ruangan yang penuh berantakan itu dan mengemasnya.
Senja mendapati sebuah foto waktu ia masih kecil dengan sang guru, ia memungutnya lalu menyimpan di kantongnya.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen hadiah dan iklan
__ADS_1
Terima kasih