SANG DEWI VS BOS CEO

SANG DEWI VS BOS CEO
BAB 73


__ADS_3

"Aku ingin mengontrak di sini, siapa pemilik kontrakan ini?" tanya Senja.


"Oh itu saya sendiri, adek mau kontrak berapa lama?" tanya ibu itu.


"Kemungkinan akan lama, berapa perbulannya?" tanya Senja.


"Satu bulan 400 ribu, satu tahun 4 juta," jawab ibu itu.


"Baiklah, aku sewa satu tahu," ucap Senja.


"Baiklah jika begitu, aku akan bersihkan tempatnya dan adek tunggu di sini sebentar ya," ucap ibu itu kembali ke rumahnya untuk mengambil sapu dan peralatan lainnya.


Senja duduk di kursi depan teras melihat kendaraan yang lalu lalang.


Tririt!


Tririt!


Tririt!


Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Senja.


"Kamu sedang apa? Sudah tidur?"


"Aku sudah istirahat, selamat malam."

__ADS_1


Ibu pemilik rumah kontrakan datang bersama anak laki-lakinya dan suaminya membawakan lemari dan membawa ranjang.


Anak laki-laki pemilik kontrakan itu terpesona melihat Senja, hampir saja ia kejatuhan lemari.


"Ibu, dia kah yang akan mengontrak di sini?" bisik anaknya melihat ke arah Senja.


"Iya," jawab ibunya sambil menyapunya.


Senja sibuk dengan ponselnya dan tak lama rumah itu sudah selesai di bersihkan.


"Dek, rumahnya sudah selesai di bersihkan, ayo masuk," ajak ibu itu sambil tersenyum.


Senja mengeluarkan uang dari sakunya dan memberikan kepada ibu kontrakan. "Ini uangnya buk."


"Iya," ucap Senja mengangguk dan mengikuti ibu itu masuk ke dalam.


Anak laki-laki ibu itu terus melihat Senja hingga ia masuk ke dalam kamar.


"Ini kamar kamu, tapi ya barang-barang dapur nggak ada," ucap ibu itu.


"Nggak apa-apa, aku bisa makan di luar," ucap Senja.


"Ya udah, semuanya sudah selesai, kami pulang dulu ya, kalau kamu ada perlu apa-apa rumah kami di belakang, tinggal panggil aja," ucap ibu itu tersenyum menepuk pundak Senja dan pergi meninggalkan kamar Senja.


Senja merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit-langit.

__ADS_1


"Kira-kira kapan ya pergi ke kompetisi itu? Aku sudah tak sabar ingin melihat teman-teman ku di sana," ucap Senja. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Guntur.


"Maaf menganggu, kira-kira kapan kita pergi ke kompetisi itu?"


"Oh, ternyata kau belum tidur dan masih memikirkan kompetisi itu ya? Mungkin dalam waktu dekat, jadi kau berlatihlah dengan giat."


"Ayolah, aku sering bertarung, apa itu tidak termasuk latihan kah?"


"Kau harus mengendalikan kekuatanmu sebelum kau mematahkan para peserta yang seperti kamu lakukan pada para berandalan itu."


"Heh! Aku sudah sering ikut kompetisi, peraturan mana nggak aku ketahui," omel Senja.


"Kau tidak perlu meragukan kemampuan ku, aku tau apa yang harus aku lakukan dan aku tau batasannya."


"Baiklah kalau begitu. Jika sudah waktunya aku beri tahu kamu, selamat malam dan sampai jumpa besok."


Senja langsung mematikan ponselnya, ia berusaha memejamkan mata.


Krucuk! Krucuk!


"Astaga! Perut ini benar-benar ya," ucap Senja yang terpaksa bangun.


Ia menutup pintu lalu pergi mencari makan, tak terlalu jauh, ia melihat rumah makan, ia pun menyebarang jalan, akan tetapi dari arah kiri ada 2 mobil melaju sangat kencang, jika di lihat mereka sedang balapan. Satu cm lagi, mungkin Senja akan tertabrak.


Namun Senja melompat meringankan tubuhnya melewati mobil yang melaju itu dan mendarat dengan anggun.

__ADS_1


__ADS_2