
"Baiklah, malam ini kalian boleh bekerja," ucap bos itu.
"Terima kasih banyak Bos," ucap Yeti menundukkan kepala.
"Ayo, nanti malam kota bertemu di sini, aku akan tunggu kalian di depan sini," ucap Yeti senang.
"Iya," jawab Senja mengangguk. Mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.
"Momo, aku mau pulang ke rumah untuk mengambil semua pakaian ku untuk sementara tinggal di rumahmu," ucap Senja menyetir mobil Momo menuju rumahnya.
"Master, jangankan tinggal sementara, tinggal selama-lamanya juga nggak masalah, aku senang justru Master terus bersamaku," ucap Momo.
"Aku tidak mau membebani mu, Momo dan juga uang yang kau dapatkan itu dari orang tua mu, aku tidak ingin menghabisi uangmu, jika nanti aku sudah gajian, aku pasti akan membayarnya," ucap Senja.
"Jangan seperti itu donk Master, karena master aku banyak belajar, setelah bertemu master hidupku, aku merasa penuh dengan warna, aku tau cara menjalankan hidup dari kehidupan ku yang dulu garing," ucap Momo.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Senja, terlihat dari luar jika lampu di rumah terang, menandakan jika rumah itu ada penghuninya.
"Ya sudah, kamu tinggal di sini, aku akan mengambil barang-barang ku," ucap Senja keluar dari mobil.
__ADS_1
"Master, aku ikut," ucap Momo.
"Jangan, kamu jangan ikut, kamu tunggu saja di sini," ucap Senja. Ia tak mau Momo melihat drama rumah tangga atau drama anak terabaikan itu.
Senja membuka pintu rumah itu dan melihat keluarga bahagia yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
Senja melihat sekilas lalu ia pergi ke dalam kamarnya begitu saja.
"Senja!" teriak Ayahnya.
Dan dengan malas, Senja berhenti.
"Dari mana saja kamu?" tanya Ayahnya. Senja balik badan dan menatap pria asing itu.
"Mulutmu sungguh lancang! Beraninya kau berkata kasar pada aku yang sudah memberikan kehidupan padamu! Kau dan ibumu sama saja, menyusahkan! Tidak tahu di untung, dan sekarang kau melawanku! Kau sungguh berani ya!" ucap Ayahnya murka dengan tangan yang bergetar. Ia berjalan ke arah Senja dan memukulnya. Senja menangkap tangan ayah lalu menghempaskan ke bawah.
"Aduh!" teriak Ayahnya karena hempasan Senja sangat kuat.
"Senja! Kau sungguh anak yang tak tahu di untung, percuma saja aku baik denganmu selama ini dan kau malah menjadi durhaka kepada orang tua mu!" teriak Ibu tirinya. Mona terlihat senyum dengan mengunyah makanan sambil menonton drama keluarga.
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak akan ganggu kalian lagi, aku akan pergi meninggalkan keluarga bahagia kalian," ucap Senja datar. Ia membalik badan dan masuk ke dalam kamar untuk membereskan pakaiannya.
Setelah selesai, Senja pun membawa pakaian menggunakan koper keluar dari kamar.
"Ma, sepertinya dia mau pergi," bisik Mona kapada ibunya.
"Kamu benar!" angguk ibunya tersenyum.
"Bagus jika begitu, akulah yang menguasai rumah ini," ucap Mona.
"Dengan begini ibu lega," ucap Ibu Mona tersenyum lebar.
"Jadi kau ingin pergi?" tanya Ayahnya.
"Iya, aku tidak mau menganggu kalian lagi dan juga, jangan ganggu aku," ucap Senja.
"Bagus, jika begitu warisan ini tidak perlu aku memberikan kepada anak durhaka seperti mu, kenapa saat itu kau tidak mati saja, hidup menyusahkan saja, mulai sekarang kau bukan anakku lagi dan pergilah sesuka hati mu, dengan begitu aku tak perlu malu lagi dengan orang-orang bahwa aku tidak mempunyai anak yang durhaka seperti mu, pergi kau! Pergi jauh-jauh!" teriak Ayahnya murka.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen hadiah dan iklan
Terima kasih