
"He-he-he, baiklah aku setuju," ucap pria itu.
Ia melempar bola basket itu ke belakang dan maju ke depan di hadapan Senja. Pria itu mendekati Senja dan bersiap-siap melayangkan tinjunya.
Senja menghindarinya, dan pria berbadan besar itu terus melayangkan tinju dan tendangannya agar Senja tak bisa melawannya.
"Heh! Menghindar terus, tidak berani menerima pukulan ku?" tanya pria itu menyengir.
"Patahkan saja tangannya, buat dia seperti apa yang sudah aku rasakan!" teriak pria yang tangannya patah itu.
"Heh! Setelah aku menikmati mu dulu, baru aku akan mematahkan seluruh tulang mu," ucap Pria itu dengan tatapan mesum melihat Senja.
"Dasar kurang ajar," ucap Senja menahan tinju pria itu dengan kuat membuat tangan pria itu tak bisa bergerak.
Pria itu sangat kaget, kenapa tangannya tidak bisa bergerak, ia berusaha menarik tangannya namun tangannya itu tak bisa di tarik.
"Sial! Ternyata dia punya kemampuan itu, seolah-olah, tanganku lengket," ucap Pria itu menekuk alisnya melihat Senja.
__ADS_1
"Lho, ada apa dengan Seno? Kenapa dia hanya diam saja?" tanya teman-temannya.
Senja menyeringai lalu menarik tangan pria kebelakng dengan kuat lalu mengangkat perut pria itu dengan lututnya lalu memukul punggungnya. Ia menarik kerah baju pria itu menghempasnya ke lantai basket itu dan menginjak wajah pria itu.
"Heh! Tadi kau ingin menikmati ku kan? Sekarang nikmati rasa sakit ini baik-baik," ucap Senja memegang kakinya dan memeluknya ke belakang.
Krak!
"Aaaaaaaa!" sakit yang luar biasa itu membuat pria itu benar-benar kesakitan yang luar biasa.
"Aku … Sial! Kaki ku … padahal aku harus ikut kompetisi! Kenapa kau mematahkan kaki ku, bagaimana aku … ikut kompetisi itu!" teriak pria itu sambil menahan sakit.
"Aku hanya memenuhi taruhan kita saja, jangan salahkan aku, salahkan dirimu yang bodoh itu, sudah tau ingin ikut kompetisi Ngapain kamu berlagak ingin membantu para temanmu yang pecundang ini dasar naif," ucap Senja.
"Jadi bagaimana? Apa ada yang ingin melawanku lagi?" tanya Senja melipat kedua tangannya.
Mereka mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu, jika tidak ada aku mau pulang dan istirahat. Ingat! Jika ada yang ingin menantang ku lagi, bawa pasukan yang banyak, percuma saja kalau banyak tapi nyalinya seperti ubur-ubur saja, tapi cari yang banyak dan kuat agar bisa setidaknya tidak membuat tanganku gatal. Ughhhh! Sungguh melelahkan, aku harus tidur cepat nih," ucap Senja masuk ke dalam mobil.
Tanpa aba-aba, Senja langsung menginjak pedal gas mobil dan melaju di jalanan.
Momo dan Guntur terombang-ambing di dalam mobil, karena Senja lagi-lagi membawanya mereacing.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Momo.
"Tuan Guntur yang terhormat, silakan Anda pulang, karena aku dan Momo harus istirahat ya," ucap Senja.
"Baiklah, sampai jumpa besok, aku akan mengantarmu ke kampus oke!" ucap Guntur masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Momo.
"Master! Kepalaku pusing," ucap Momo kelaut dari mobil dan duduk di pinggir jalan.
"Kamu sakit?" tanya Senja membantu Momo untuk berdiri dan membopongnya masuk ke dalam kamar.
"Bukan, ini gara-gara master bawanya terlalu laju," jawab Momo.
__ADS_1