SANG DEWI VS BOS CEO

SANG DEWI VS BOS CEO
BAB 59


__ADS_3

"Haishhh … sudahlah, orang yang sedang di mabuk cinta mati pun rela," ucap Ari manyun.


"Ya sudah, aku balik ke perusahaan dulu, aku baik-baik memberinya pelajaran," ucap Guntur berbalik badan dan mendekati Senja.


"Ayo senja kita kembali ke perusahaan," ajak Guntur.


Senja berdiri dan mengikuti Guntur dari belakang.


"Kenapa kamu lambat sekali," ucap Guntur memegang tangan Senja berjalan menuju mobil. Senja menekuk alisnya heran menatap Guntur.


"Ayo masuk," ajak Guntur. Mereka pun masuk ke dalam mobil menginjak pedal gas mobilnya dan mereka melaju di jalanan.


Senja merasa aneh karena mereka tidak menuju ke perusahaan.


"Ke mana kau membawaku?" tanya Senja datar.


"Suatu tempat," jawab Guntur datar.


"Untuk apa?" tanya Senja menatap Guntur sayup.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin membawamu berjalan saja," jawab Guntur.


"Aku peringatkan kepadamu, kau jangan membawaku ke tempat yang tidak senonoh, atau aku akan benar-benar mematahkan lehermu," ancam Senja.


"Tenang saja, aku orang yang baik-baik, aku tidak akan melakukan hal di luar batas," jawab Guntur tersenyum.


"Aku harap begitu, jika tidak nama CEO mu itu ku gadaikan," ucap Senja memandang ke samping keluar jendela.


Tama kemudian mereka pun sampai di suatu tempat. Karena Guntur membawanya ke pelabuhan Senja menjadi curiga. "Kau ingin membawaku kemana?" tanya Senja yang sudah pasang badan.


"Sudah aku katakan, kita hanya ingin pergi jalan-jalan," jawab Guntur menenangkan.


"Mana berani aku menjualmu, pikiranmu jauh sekali," jawab Guntur menekuk alisnya ia menarik tangan Senja dan membawanya ke kapal pesiar.


Mereka pun masuk ke dalam kapal pesiar itu, Perlahan-lahan kapal itu meninggalkan pelabuhan.


Mereka berdua berdiri di depan sambil melihat pemandangan, angin sepoi-sepoi berhembus. Pemandangan yang sangat indah.


"Bagaimana menurutmu? Apa kamu suka?" tanya Guntur.

__ADS_1


Senja mengangguk pelan. Ia menatap jauh. Jika di ingat-ingat lagi, ia juga punya seorang pacar di kehidupannya dulu, pacarnya membawa ia berlayar di laut dengan menggunakan kapal layar, ia sangat bahagia saat itu.


Sayangnya sang pacar meninggal akibat dibunuh oleh sekelompok begal, ia sangat kehilangan saat itu ia hampir saja bunuh diri.


Namun ada seorang bapak tua yang menolongnya saat itu, ia akhirnya berlatih dan berguru dengan bapak itu berlatih tanpa kenal lelah, ia benar-benar harus menjadi kuat. Dan mulai saat itulah ia menjadi seorang perempuan yang dingin ia menghabisi orang yang berbuat kejahatan karena sang pacarnya tidak berbuat salah kenapa harus dibunuh maka dari itu ia tidak punya toleransi kepada orang yang melakukan kejahatan.


Senja tiba-tiba menunduk ia berjongkok, hatinya terasa sakit apabila melihat laut. Sudah tidak pernah ia rasakan sesakit ini sejak kehilangan sang pacar entah itu akibat kenangan yang sangat indah baginya membuat perasaan itu kembali datang. Senja memegang dadanya sangat erat tak terasa air mata itu jatuh di pipinya


"Kenapa ini terasa sakit sekali, kenapa rasanya nyata?" tanya Senja dalam hati dengan nafas yang naik turun.


"Senja, kamu kenapa?" tanya Guntur yang ikut berjongkok.


"Aku ... aku ... tidak apa-apa," jawab Senja memejamkan matanya.


"Apa kamu sakit? Aku akan membawamu kembali," ucap Guntur khawatir.


"Tidak ... tidak perlu, aku tidak apa-apa," ucap Senja kembali berdiri. Guntur melihat air mata Senja mengalir di pipi, tanpa sengaja ia menyekanya.


"Kamu tidak apa-apa kan? Baik-baik saja kan? Jika ada apa-apa beritahu aku," ucap Guntur reflek memeluk Senja.

__ADS_1


__ADS_2