
"Senja." Guntur melihat karyawannya di hajar Senja hingga punyeng dan hampir pingsan, ia mendekatinya.
"Senja," panggil Guntur.
Sebelum Senja melepaskannya, Senja meninjunya sekali lagi.
Buk!
Tinjuan keras itu membuat pria itu kesakitan dan menjerit, hingga ia terguling-guling menahan sakit.
Senja pun berdiri dan melihat ke arah Guntur. "Kenapa? Kau marah aku memukul karyawan mu?" tanya Senja dengan tangan yang terbalut darah pria itu.
"Tidak, kau melakukan itu pasti punya alasan, tidak mungkin kau asal pukul kan?" tanya Guntur.
"Kau meragukan ku?" tanya Senja mengangkat alisnya.
"Tidak, aku percaya padamu," jawab Guntur tersenyum. "Dan kamu, jangan datang lagi ke perusahaan ini, bawa barang-barang mu keluar dari sini," ucap Guntur kepada pria yang sedang kesakitan itu. Seketika pria itu terdiam lalu berlari ke arah kaki Guntur.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak sengaja tadi, aku benar-benar minta maaf," ucap pria itu memegang mulutnya yang berdarah.
"Jangan meminta maaf padaku, kau melakukan kesalahan padanya, minta maaf padanya jika kau ingin pergi dengan selamat," ancam Guntur.
"Nona, aku minta maaf, aku tidak sengaja sudah berani memegang boko …"
__ADS_1
Buk!
Tendangan keras ke arah wajah pria itu membuat ucapan pria itu terhenti.
"Beraninya kau mengatakannya lagi, aku sangat kesal," ucap Senja keluar dari ruangan itu dengan kesal.
"Kamu lebih baik pergi sekarang," ucap Guntur meninggalkan pria itu dan mengejar Senja.
"Senja, tunggu," panggil Guntur. Senja berhenti lalu Guntur menarik Senja ke dalam ruangannya dan itu di lihat oleh beberapa pegawai lainnya.
"Siapa yang Tuan bawa itu?" tanya beberapa karyawati.
"Aku tidak pernah melihat sebelumnya, pacarnya? Sekretaris barunya?" tebak mereka.
"Asistennya?" tebak mereka lagi.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya sekretaris Yessy.
"Eh tidak ada apa-apa Nona, cuma tadi kami melihat jika Tuan Guntur membawa seorang perempuan ke dalam ruangannya," jawab karyawan itu.
"Begitu ya, aku akan melihatnya," ucap Yessy pergi meninggalkan para karyawan itu dan menuju ruangan Sekretaris yang bersebalahan dengan ruang CEO.
Guntur mengambil kotak obat dan ia berjongkok di depan Senja.
__ADS_1
"Berikan tanganmu," ucap Guntur.
"Untuk apa?" tanya Senja mengangkat alisnya.
"Untuk mengobati lukamu," jawab Guntur.
"Aku tidak terluka," jawab Senja menarik tangannya yang ingin di pegang Guntur.
"Tapi tanganmu berdarah," ucap Guntur.
"Bukan, ini darah pria itu," ucap Senja menghapus darah itu dengan tangan kirinya.
"Tunggu, aku akan mengambilkan mengambilkan lap hangat untuk menghapus darah itu," ucap Guntur berdiri dan mengambil handuk kecil lalu membasahi dengan air hangat dan membawanya ke arah Senja.
Guntur duduk di sebelah Senja. "Berikan tanganmu," pinta Guntur.
"Aku bisa menyekanya sendiri," ucap Senja datar.
"Berikan tanganmu," pinta Guntur tegas. Dengan terpaksa Senja mengulurkan tangannya dan ia melihat ke samping.
"Beraninya dia berkata dengan nada tinggi denganku," ucap Senja dalam hati.
"Sudah," ucap Guntur meletakkan tangan Senja ke pahanya.
__ADS_1
Dari kaca yang berdampingan dengan ruang CEO, sepasang mata melihat Senja dengan tatapan yang tidak suka. "Kurang ajar! Dengan cara apa dia bisa dekat dengan CEO sedangkan aku yang sudah lama bekerja di sini saja tidak pernah menyentuh tangan CEO sedikit pun," ucap Yessy geram.