
"Ini adalah hadiah untukmu cucu menantu," ucap nenek tersenyum ke arah Senja. Pelayan itu mengambil hadiah di kotak pertama dan memperlihatkan kepada Senja.
"Ini adalah berlian yang beratnya hanya 670 karat, hadiah kedua kalung yang menurut nenek ini sangat cocok dengan cucu menantuku yang cantik ini. Hadiah ketiga adalah tas limited edition yang hanya ada 2 di dunia salah satunya ini untuk mu dan hadiah ke 4 adalah sepatu sepasang dengan baju yang di pesan khusus untukmu, melihat tubuhmu yang ramping ini, nenek rasa ini muat denganmu, nenek harap kamu bisa memakai baju ini di saat pertemuan keluarga beberapa hari lagi, karena acara itu adalah acara di mana Guntur akan memimpin perusahaan di pertemuan internasional, kamu suka kan dengan hadiah ini?" tanya Nenek.
"Astaga! Aku tidak membutuhkan ini semua," ucap Senja dalam hati sambil melihat Guntur.
Guntur tersenyum manis sambil mengangguk.
"Sialan kau Guntur! Aku akan membuat perhitungan denganmu 100x lipat," ucap Senja dalam hati.
"Iya," angguk Senja dengan senyum yang di paksakan.
"Bawa kembali hadiah ke meja sana, kita akan makan malam," ucap Nenek.
"Huh! Sungguh menyebalkan, aku dulu tidak seperti itu saat menjadi menantunya," ucap bibi ipar Guntur dengan suara pelan.
"Jangankan mendapat hadiah, di terima jadi menantu saja sudah bersyukur," ucap bibi ipar Guntur yang lain.
Para pelayan yang lain membawakan makanan dan menyajikan di atas meja.
"Selamat makan," ucap pelayan.
__ADS_1
"Ayo cucu menantu, makan yang banyak ya," ucap nenek mengambilkan beberapa lauk memasukkan ke dalam piring Senja.
"Terima kasih Nenek," ucap Senja menyantap makanannya, sungguh ia wanita biasa yang hidup di dunia bela diri yang keras, ia sering makan terburu-buru dan dan tak punya waktu makan layaknya seperti konglomerat.
Ia melihat mereka makan dan makan dengan pelan. "Aku mengutuk mu Guntur!" umpat Senja dalam hati sambil menatap tajam Guntur.
Saat mereka sedang fokus dengan makanannya, Senja langsung mengambil makanan itu dengan tangannya dan memasukkan ke dalam mulutnya dengan cepat. Melihat itu, Guntur menahan tawa hingga ia menutup mulutnya.
"Sialan! Dia melihatku," ucap Senja menutup wajahnya malu dan wajahnya berubah memerah.
Guntur melihat ke arah Senja sambil tersenyum, ia mengambil tissue dan menyeka mulut Senja.
"Cucuku sangat romantis sekali," puji sang nenek.
"Tentu saja, aku pasti akan melindunginya," ucap Guntur.
"Heh! sebaiknya kau lindungi dirimu dari ku," bisik Senja.
"He-he-he, baiklah sayang," ucap Guntur lembut. Senja menginjak kaki Guntur membuat Guntur kesakitan.
"Aduh!" teriak Guntur. Semua mata memandang ke arah Guntur.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Nenek.
"Eh, tidak apa-apa Nek, aku terinjak kaki ku sendiri," jawab Guntur berusaha tersenyum.
"Orang bodoh mana yang bisa menginjak kakinya sendiri," ucap Bibi iparnya ketus.
"Kau tidak seharusnya mengatakan cucuku bodoh," ucap Nenek menatap tidak Suka ke arah menantunya itu membuat menantunya itu terdiam ketakutan.
"Sekali lagi kau mengatakan itu, aku tidak akan segan mengusir mu dari rumah ini," ancam Nenek.
"Iya, maaf Ibu," ucap menantunya itu menundukkan kepala.
"Ayo makan yang banyak, kamu jangan sampai kurus ya," ucap Nenek meletakkan beberapa lauk di Porong Senja.
"Tidak usah Nek, aku sudah kenyang," ucap Senja berusaha tersenyum manis, namun yang terlibat malah seperti menyeringai.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen hadiah dan iklan
Terima kasih
__ADS_1