SANG DEWI VS BOS CEO

SANG DEWI VS BOS CEO
BAB 36


__ADS_3

Saat setelah selesai makan. "Apa kau masih punya orang tua?" tanya nenek memulai pembicaraan.


"Aku…" ucapan Senja terhenti karena ia sendiri tak punya orang tua, guru juga sudah meninggal, saat ini ia tinggal di tubuh yang bukan miliknya, sedangkan sang pemilik tubuh masih mempunyai orang tua, namun pemilik tubuh ini tidak di sayang, apa dia masih di anggap punya orang tua?


"Jika kamu tidak bisa menjawabnya tidak apa-apa, nenek tidak akan memaksa, mari ikut nenek, kita lihat-lihat rumah ini sambil mengobrol," ajak Nenek yang terlebih dahulu berdiri dengan tongkatnya.


Senja berdiri juga ikut berdiri, Guntur meng-kode Senja agar ia memapah neneknya. Senja langsung memegang lengan nenek Guntur.


"Sial! Kenapa aku mengikuti apa yang Guntur suruh," ucap Senja melepaskan tangannya.


"Tidak apa-apa cucu menantu ku, pegang saja tangan nenek," ucap nenek membuat Senja dengan terpaksa memegang kembali lengan nenek. Ia benar-benar mati kutu di hadapan keluarga Guntur.


"Awas saja kau Guntur, aku akan mencincang daging mu dan memberi makan harimau," ucap Senja geram.


"Ayo kita ke kamar cucu nakal ku itu dulu, aku akan memperlihatkan kamarnya kepadamu," ucap nenek berjalan pelan menuju kamar Guntur.


"Ayo masuk, lihatlah kamarnya yang besar ini, dia sendirian di kamar ini, seharusnya jika ia mencari pasangan agar kamar ini tidak sepi," ucap nenek berjalan mendekati ranjang.


"Apa semua orang tinggal di sini?" tanya Senja.


"Iya, meskipun Guntur punya villa sendiri, terkadang ia pulang untuk makan bersama, lihatlah foto saat dia masih kecil, dia sangat imut, saat sudah dewasa ia tumbuh menjadi pria tampan," ucap nenek melihat ke arah dinding yang terpasang foto Guntur saat masih berusia 1-6 tahun.


Senja mendekatinya dan melihatnya dari dekat. "Tampan? Di itu menyebalkan," umpat Senja dalam hati.


"Bahkan mainan sewaktu ia kecil pun masih ada," ucap Nenek tersenyum melihat sebuah box bening yang berisi burung kertas warna warni yang sangat cantik.

__ADS_1


"Ini… dia yang membuat semuanya?" tanya Senja.


"Tidak, itu adalah peninggalan dari mendiang ibunya, sayangnya ibunya meninggal saat ia masih berumur 8 tahun, ayahnya menikah lagi dengan wanita yang sangat tidak aku sukai," ucap nenek itu terlihat kesal.


"Oh," jawab Senja singkat, ia juga tidak tertarik untuk mengetahui tentang keluarga Guntur, karena ia tidak punya ikatan apa pun.


"Ayo ikut nenek ke tempat lain," ajak Nenek.


"Baik," angguk Senja.


Mereka pun berjalan mengikuti sebuah balkon di lantai 2, tempat itu sangat cantik, menghadap ke sebuah taman yang penuh bunga mawar dengan lampu yang berkelap kelip.


"Kamu… apa benar menyukai cucuku itu?" tanya Nenek membuat Senja tersontak. Bagaimana mungkin ia mencintai pria yang baru tadi siang ia temui di saat pertandingan. Pria yang menyebalkan itu.


"Nenek, sebenarnya kami itu tidak..."


"Nenek, nenek kenapa jalannya ke sini, apa Nenek tidak capek," tanya Guntur yang tiba-tiba saja datang, ia memastikan jika Senja tidak membocorkan rahasianya.


"Kamu ini menganggu aku berbicara dengan cucu menantu ku saja," ucap Nenek.


"Hm bukan begitu Nek, ini juga sudah malam banget, jadi aku harus mengantarnya pulang," ucap Guntur merangkul pundak Senja


"Oh baiklah, kamu harus hati-hati," pesan nenek.


"Iya Nek, nenek tenang saja dan jangan khawatir," ucap Guntur.

__ADS_1


Mereka pun berjalan menuju pintu utama, sedangkan meja besar itu sudah tidak ada lagi, sepertinya meja besar itu khusus untuk acara keluarga saja.


"Nenek kami pamit pulang dulu, jaga kesehatan ya," pesan Guntur.


"Iya, kamu juga jaga kesehatan, dan untuk cucu menantuku, kamu tolong jaga dia dari wanita lain," pesan nenek.


"Iya," angguk Senja.


"Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Guntur berpamitan. Guntur mengandeng tang Senja masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan pelayan yang lain membawakan 4 buah kotak kaca itu ke mobil Guntur dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Guntur dan Senja pun masuk mobil, sang nenek melambaikan tangannya saat mobil Guntur Perlahan-lahan meninggalkan rumah tersebut.


Batu saja meninggalkan rumah itu dan ingin keluar ke jalan besar. "Stop! Stop!" teriak Senja. Guntur pun memberhentikan mobilnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Senja menarik kepala Guntur dan menekannya dengan kuat.


"Apa yang sudah kau lakukan! Kau bilang ini hanya makan malam biasa, kenapa kau berbohong!" teriak Senja.


"Aduh sakit, sakit, sakit, lepaskan dulu, aku akan menjelaskannya pada mu," ucap Guntur kesakitan.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen hadiah dan iklan


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2