
Senja pun berjalan mengarah ke rumah makan tersebut lalu masuk ke dalam.
"Mau pesan apa Neng?" tanya pemilik rumah makan itu datang mendekati Senja.
"Aku ingin nasi dan lauknya ayam bumbu," jawab Senja
"Lalu minumannya apa Neng?"
"Jus jeruk saja," jawab Senja.
"Baik Neng tunggu sebentar ya," ucap pemilik warung berjalan ke tempat penjualannya.
Seorang pria berjalan masuk ke dalam rumah makan itu dan melihat ke arah Senja. Senja menaikkan alisnya karena ia mengenali pria itu.
"Hay, kamu di sini juga, baru mau makan?" tanya pria itu tersenyum, dia adalah anak ibu kontrakan.
"Iya," jawab Senja singkat.
"Kebetulan sekali, aku juga ingin makan di sini. Bude pesan kan aku makanan yang sama dengannya, semuanya biar aku yang bayar!" ucap pria itu dari kejauhan.
"Iya Dedi sebentar ya," ucap Bude yang sedang sibuk.
"Oh ya, karena kita tetanggaan kedepannya, jadi boleh aku tahu tahu siapa nama mu?" tanya Dedi melihat wajah Senja lekat.
"Senja."
__ADS_1
"Perkenalkan, namaku Dedi," ucap Dedi Mengulurkan tangannya.
"Sudah tahu," jawab Senja yang tidak terlalu mempedulikannya, ia melihat ke arah lain tanpa membalas jabatan tangan Dedi. Dedi menarik kembali tangannya dan merasa canggung.
Bude pun mengantar makanannya di hadapan Senja dan Dedi.
"Silakan di nikmati," ucap Bude ramah.
"Terima kasih Bude," ucap Dedi tersenyum.
Senja melahap makanannya tanpa mempedulikan Dedi di sampingnya, sedangkan Dedi terus melihat ke arah Senja.
'Dia benar-benar cantik, aku jatuh cinta pada pandangan pertama,' batin Dedi tersenyum.
Setelah selesai makan, Senja berdiri dan mendekati pemilik warung makan.
"Berapa makanan itu?" tanya Senja.
"Tidak, kamu tidak perlu membayarnya, aku yang akan membayarnya," ucap Deni cepat dan buru-buru mengeluarkan dompetnya.
Senja lebih dulu memberikan selembar uang berwarna merah. "Ambil saja kembaliannya," ucap Senja yang langsung meninggalkan bude itu sebelum ia sempat mengucapkan terima kasih.
Dedi melongo melihat kepergian Senja yang melewatinya.
"Ini bude uangnya, ambil saja kembaliannya," ucap Dedi memberikan selembar uang berwarna biru dan buru-buru mengejar Senja.
__ADS_1
"Senja! Tunggu!" panggil Dedi mengejar Senja. Senja berhenti lalu membalikkan badannya.
"Ada apa?" tanya Senja datar.
"Tidak ada, aku hanya ingin berjalan dengan mu saja," jawab Dedi berjalan beriringan dengan Senja.
Dedi senyuman senyum sendiri, rasanya ia tak percaya bisa berjalan bersama wanita secantik Senja.
Triring
Triring
Triring
Ponsel milik Senja berbunyi dan yang menelpon adalah Guntur.
Dedi mengintip sedikit nama yang menelpon Senja. Nama yang di buat di ponsel Senja adalah "Penguntit". Dedi sangat terkejut dan mengambil ponsel Senja lalu mengangkatnya.
"Hey! Dasar penguntit! Beraninya kau menelpon kemari! Di mana kau sekarang! Ayo kita bertemu!" teriak Dedi kesal.
Guntur menjauhkan ponselnya dan melihat layarnya dan memastikan jika ia benar-benar menelpon Senja.
"Hey kau! Jangan diam saja! Jangan hanya menjadi penguntit saja, mari kita selesaikan secara jantan!" teriak Dedi lagi.
Guntur langsung memutuskan panggilannya. "Sial! Siapa berani menghardik ku, aku sangat ingin melihat siapa dia." Guntur berdiri mengambil jasnya lalu menuju mobilnya.
__ADS_1