
"Ayo cepat bawa masuk ke ruang UGD," ucap Ari. Guntur membawanya masuk ke dalam ruang UGD.
"Guntur, kamu silakan tunggu di luar ya," ucap Ari memakai sarung tangannya.
"Tidak, aku akan menemaninya di sini," tolak Guntur bersikeras.
"Ayolah Guntur, ini demi Senja juga, kamu ini dari luar dan banyak kuman yang lengket, kalau mau masuk, sana kamu steril dulu sana," ucap Ari tak bisa menolak keras kepala sahabatnya itu.
"Mari Tuan saya antar," ucap perawat itu.
Guntur mengangguk dania pergi terlebih dahulu ke rumah steril.
"Kamu tolong lama-lamain dia di sana," bisik Ari kepada perawat itu.
"Baik Dok," ucap perawat itu mengangguk mengerti.
"Baiklah, mari kita cek sekarang, biarkan si keras kepala itu nongkrong di ruang steril," ucap Ari.
Ari pun segera memeriksa Senja, para perawat yang lain memasang infus di tangan Senja.
__ADS_1
Ari memilih memberikan Senja obat penenang, karena ia tidak punya sakit apa pun pada tubuhnya, tapi perasaannya yang sakit.
"Senja, Senja buka matanya," panggil Ari pelan.
Perlahan-lahan Senja membuka matanya dan melihat sekitar jika tempat itu sudah tidak sama lagi di tempatnya tadi.
Ari tersenyum.
"Dokter," lirih Senja ingin duduk, Ari membantunya duduk dan meletakkan bantal di belakangnya.
"Suster, ini kenapa lama sekali!" teriak Guntur yang tidak sabaran.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ari.
"Aku merasa baikkan," angguk Senja.
"Kenapa aku di bawa ke sini?" tanya Senja heran.
"Hm … kamu sendiri tau jika kamu tidak sakit kan? Aku sudah mengeceknya kamu tidak penyakit apa pun, tapi aku pernah belajar sedikit ilmu psikologi, kamu punya tekanan yang seharusnya sudah kamu lupakan dan itu kembali ya," tebak Ari.
__ADS_1
Senja terdiam sesaat. "Kejadian itu membuat aku dingin yang dulunya adalah periang, karena pemandangan laut itu membuat dadaku sangat sesak yang tak pernah aku rasakan sejak terakhir kali aku rasakan," ucap Senja menundukkan kepalanya melihat tangannya yang mengepal.
Ari mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah, aku akan mengatakan padanya agar tidak pernah membawamu ke laut lagi," ucap Ari.
"Jangan, aku justru berterima kasih padanya, karena sudah membawaku ke tempat yang paling aku takuti, jika tidak aku tidak pernah tahu apa yang paling aku takuti dan aku bisa menaklukan rasa takut itu, agar aku tidak punya penghalang lagi," jawab Senja.
"Kamu benar-benar ya, ternyata Guntur tidak salah memilih orang, aku sangat salut denganmu, biasanya wanita itu akan manja dan bergantung dengan pria, kamu malah sangat berbeda, tidak terikat apa pun, amazing buat kamu," ucap Ari mengacungkan jempol.
"Bagaimana? Apa aku sudah boleh pulang?" tanya Senja.
"Sudah, kamu sudah tenang sekarang, dan boleh aku menyarankan kamu pelan-pelan saja jika ingin menaklukan rasa takutmu itu, aku tau kamu wanita kuat, tapi kamu sayang juga perasaanmu dan jangan terburu-buru," saran Ari.
"Ya aku mengerti itu," ucap Senja. Ari melepaskan infus dari tangan Senja.
Brak!
Pintu terbuka lebar. "Senja!" panggil Guntur.
"Sialan! Kau ingin menghancurkan pintu UGD rumah sakit ku," ucap Ari membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja Senja?" tanya Guntur mendekati Senja tanpa mempedulikan amarah Ari.