SANG DEWI VS BOS CEO

SANG DEWI VS BOS CEO
BAB 49


__ADS_3

Sesamanya di rumah Momo, ternyata di sana ada orang menunggu.


"Siapa itu master?" tanya Momo.


"Itu…." ucapan Senja terhenti karena ia tahu betul itu mobil Guntur.


Mobil perlahan memasuki pekarangan rumah Momo dan memberhentikannya di samping mobil Guntur.


"Eh…tuan Guntur rupanya," ucap Momo.


Mereka pun keluar, meskipun dengan malas, Senja harus keluar juga karena Guntur tidak sendirian di sana, ia bersama neneknya.


Melihat Senja datang, di wajah Nenek terlihat senang sekali, ia berdiri sambil tersenyum.


"Senja," ucapnya merentangkan tangan tuannya.


Meskipun itu sangat berat, namun ia tetap harus menghormati sang Nenek, dan lagi, nenek adalah orang baik yang tidak seperti ayahnya.

__ADS_1


Senja mendekati dan meraih tangannya. Nenek itu memeluk Senja.


"Nenek kangen sama kamu," ujar Nenek meletakkan kepalanya di bahu Senja.


"Nenek apa kabar?" tanya Senja menatap sekilas Guntur yang tersenyum lalu memandang ke lantai teras.


"Nenek baik-baik saja, kamu dari mana?" tanya Nenek melepaskan pelukannya sambil menatap mata Senja.


Senja sangat merasa tak enak hati kepada sang Nenek melihat binar ria di mata tua itu. "Aku … dari tempat karaoke nek," jawab Senja.


"Ngapain kamu ke situ malam-malam, nggak baik wanita pergi ke sana," ucap Nenek menekuk alis di wajah rentanya. Terlihat di wajah Nenek tidak menyukainya.


"Kami sedang cari pekerjaan nek," sahut Momo yang tidak ingin jika nenek salah paham pada Senja.


"Momo … habislah aku," ucap Senja dalam hati menutup matanya sambil mengigit bibirnya.


"Ya ampun Senja, kenapa kamu nggak bilang, kamu butuh yang sampai harus kerja? Nenek punya uang," ucap nenek meraih tas kecilnya itu untuk mengambilkan Atm-nya.

__ADS_1


"Jangan Nek! Aku tidak bisa terima uang dari nenek, aku tidak bisa menerima uang begitu saja tanpa jerih payah," tolak Senja.


"Kalau begitu kau kerja saja di perusahaan ku," ucap Guntur.


"Dia lagi … si biang kerok ini nggak ada habis-habisnya," ucap Senja dalam hati sambil menatapnya tajam.


"Guntur benar Senja, jika kamu tidak mau terima uang dari nenek begitu saja, bekerjalah dengan Guntur, nenek pasti akan sangat senang melihat kalian dekat, katakan saja kamu ingin gaji berapa, nenek suruh Guntur keluarkan uang untukmu," ucap nenek itu di matanya penuh harapan.


"Oh Tuhan … kenapa jadi seperti ini? Aku tidak menginginkan begini, aku lebih baik menghadapai 100 orang yang kurang ajar dari pada harus berhadapan seorang yang punya harapan melebihi 1000 orang," keluh Senja.


"Nenek benar Senja, bekerjalah di perusahaan ku, pintu perusahaan selalu terbuka untukmu, dan temanmu juga akan mendapatkan posisi yang layak di perusahaan ku," ucap Guntur.


"Kamu mau ya Senja, biar nenek bisa sering melihat mu, nenek sudah tua, nenek tidak terlalu bisa jalan terlalu jauh, jika nenek rindu denganmu, nenek bisa langsung mendatangimu," ucap Nenek tersenyum sambil memegang tangan Senja.


Senja menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan. "Iya." tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulutnya.


"Astaga! Apa yang aku katakan!" jerit Senja dalam hati, padahal ia ingin mengatakan tidak meski dengan berat hati. "Mampuslah aku," batin Senja.

__ADS_1


Nenek sangat senang, ia memeluk Senja lagi. "Nenek senang sekali karena kamu menerimanya," ucap Nenek tersenyum penuh kegembiraan.


__ADS_2