SANG DEWI VS BOS CEO

SANG DEWI VS BOS CEO
BAB 65


__ADS_3

Mobil pun melajukan di jalanan, tak lama kemudian mereka pun sampai di perusahaan.


Asistennya sudah menunggu di perusahaan, ia memberi hormat saat Guntur datang.


"Tuan," sapa Jeff.


"Di mana dia?" tanya Guntur.


"Ada di ruang tunggu," jawab Jeff.


"Mari kita ke sana," ajak Guntur kepada Senja.


Mereka berjalan menuju ruang tunggu, saat di buka, Sekretaris Yessy duduk di sofa yang sedang di jaga oleh 3 petugas keamanan.


Sekretaris Yessy terlihat ketakutan, ia benar-benar gugup, di tambah lagi datangnya Guntur dengan wajah yang tidak bersahabat.


Guntur duduk di sofa di hadapan Yessy tanpa berkata sepatah kata pun.


Tangan Yessy bergetar, ia benar-benar ketakutan, suasana ruangan itu berubah.


"Senja, kamu interogasi dia," perintah Guntur.

__ADS_1


Senja mendekati Yessy. "Katakan kamu punya dendam apa pada Bos mu?" tanya Senja.


"Dendam? Bagaimana aku bisa punya dendam dengan Tuan Guntur," ucap Yessy menatap Senja.


"Lalu kenapa kau memasukkan obat ke dalam makanan bos?" tanya Senja lagi.


"Mana ada aku memasukkan obat itu ke dalam makanannya, jangan asal menuduhku tanpa bukti!" teriak Sekretaris Yessy.


"Katakan saja, sebenarnya kau ingin memasukkan obat itu ke dalam makananku kan? Tapi kau salah memberinya dan malah kena bos mu, katakan kau punya dendam apa padaku?"


"Sudah aku katakan aku tidak meletakkan obat itu! Kau jangan menuduhku sembarangan! Aku bisa menuntut mu atas kasus pencemaran nama baik!" teriak Sekertaris Yessy tak terima.


"Aku tidak meletakkan obat itu!" terima sekretaris Yessy di depan Senja.


Secepat kilat, Senja menarik kepala Yessy lalu menekan kepala Sekretariat Yessy di sofa dengan kuat. "Beraninya kau berteriak di depanku, kau lebih baik katakan sebenarnya, atau aku tidak akan segan-segan mematahkan seluruh bagian tubuhmu," ancam Senja.


"Gadis ini, dia benar-benar kejam, tidak memilih wanita atau pria, baginya sama saja, tapi aku suka," ucap Guntur dalam hati tersenyum minat Senja.


"Tidak! Aku tidak melakukannya!" teriak Sekertaris Yessy membela diri.


Senja menarik tangannya Yessy, memutarnya lalu melipatnya kebelakang tubuh Yessy.

__ADS_1


"Aduuuhhh! Lepaskan! Sakit tau!" teriak Yessy keras.


"Oh, ternyata kau tau sakit juga? Aku pikir mulut mu lebih kuat, jika kau tidak ingin aku benar-benar mematahkan tulang tulang tangani yang indah ini, katakan yang sebenarnya," ucap Senja menekan tangannya dengan kuat.


"Aduuuhhh! Iya, iya aku katakan," jawab Yessy pasrah.


"He-he-he, dengan dengan kekerasannya akhirnya ia berhasil membuat Yessy mengaku juga," ucap Guntur dalam hati sambil menyengir.


"Kau ingin Jujur?" tanya Guntur membungkukkan tubuhnya melihat ke arah sekretarisnya itu.


"Iya, aku akan jujur," jawab Yessy melemah.


"Lepaskan dia," perintah Guntur. Senja melepaskan Yessy.


Yessy meringis kesakitan memegang tangannya yang di tekan sangat kuat oleh Senja, ia menatap Senja dengan tatapan tajam dan kesal.


"Katakan!" ucap Guntur menatap Yessy dengan tatapan membunuh.


"Itu … itu … memang … aku yang meletakkannya, tapi … aku tidak melakukanya untuk Tuan," ucap Yessy berlari ke arah Guntur dan berlutut di depan Guntur.


"Aku melihat jika Tuan sangat dekat dengannya, aku merasa iri karena selama ini aku terus bersama tuan, kenapa Tuan tidak pernah sedikit pun memperhatikanku," ucap Yessy berurai air mata dan memeluk kaki Guntur.

__ADS_1


__ADS_2