
Setelah di perhatikan, Guntur ingat jika mereka adalah mahasiswa yang datang ingin menghajarnya atas perintah Senja.
Ia keluar dan menghampiri para mahasiswa itu.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Guntur.
"Kami sedang menunggu Master," jawab mereka takut-takut.
"Apa kalian tahu ini sudah malam kan? Untuk apa kalian datang malam seperti ini untuk menemuinya?" tanya Guntur mengintrogasi mereka.
Senja datang mendekati para pria itu. "Ada apa kalian ke sini?" tanya Senja.
"Kami ke sini untuk memberi tahu, jika ada beberapa orang yang ingin menentang master," ucap para pria itu.
"Oh di mana mereka?" tanya Senja.
"Mereka menunggu Master di lapangan basket, di jalan Mahoni," ucap mahasiswa itu.
"Baiklah, aku mengerti kalian pulanglah. Dan untuk Tuan Ceo yang terhormat, Anda silakan pulang," ucap Senja menatap Guntur.
__ADS_1
"Apa tidak bisa aku ikut saja?" tanya Guntur tersenyum.
"Ini adegan berbahaya, di larang lihat. Ayo Momo, kita pergi lihat," ajak Senja.
"Oke! Siap Master," ucap Momo berlari ke dalam rumahnya lalu mengambil kunci mobil. Ia kembali berlari dan masuk ke dalam mobil untuk mengeluarkan dari garasi.
Momo mengerakkan mobilnya mendekati Senja. "Ayo master," ajak Momo.
"Aku yang setir," ucap Senja, Momo pun pindah ke kursi penumpang dan Senja duduk di kursi pengemudi.
Brak!
Suara pintu mobil tertutup rapat.
"Jalankan saja mobilnya!" perintah Guntur.
Senja menarik tuas mobilnya lalu menginjak pedal gas mobil dan mobil itu melaju di jalanan.
Mereka yang ada di dalam mobil berguncang hebat, karena Senja membawanya mereacing lalu melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Astaga! Gadis ini? Di kehidupannya dulu dia pasti juara pembalap," ucap Guntur dalam hati.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di tempat lapangan basket itu, ada 15 orang pria yang sudah menunggu dan mereka sedang bermain basket untuk pemanasan, dia antara mereka juga ada orang-orang yang Senja kenal, mereka lah orang yang pernah ia pukul, sebagian lagi ada yang yang masih memakai perban di tangannya.
"Kalian di sini saja, jangan melakukan apa pun dan jangan keluar!" perintah Senja.
"Nah itu dia, dia datang," ucap pria dengan tangan yang di perban, ia masih ingat jelas saat Senja mematahkan tangannya, dan itu apa bila melihat wajah Senja, rasa sakit yang ia buat itu terasa.
"Wah, wah tidak menyangka kamu beneran datang, dan hanya sendiri saja? Tidak membawa teman?" tanya seorang pria yan tubuh di besar dan tinggi, dia adalah pria jago bela diri dan jago basket.
"Aku sendiri saja sudah cukup, kalian yang hanya segini datang menantang ku apa yakin? Tidak membawa pasukan yang lebih banyak lagi?" tanya Senja.
"Kau bukan hanya seorang gadis, kau juga sangat sombong di depan orang juara satu tingkat nasional, tak lama lagi aku akan naik ke kompetisi ajang internasional, apa kau takut dan ingin menyerah?" ucap pria itu mengejek.
"Beh! Baru saja ingin naik ke kompetisi internasional saja kau sombong, aku sudah sering ikut kompetisi internasional, dan itu bukan apa-apa bagiku, bagaimana jika kita bertaruh.
"Apa yang kau inginkan?" tanya pria itu.
Senja tersenyum licik. "Jika kau menang, aku akan menuruti keinginan mu, tapi jika kau kalah, kau bersedia tidak mengikuti ajang
__ADS_1
kompetisi internasional itu," tantang Senja.
Yuk readers, langsung cus ke novel [Transmigrasi Dewi Pembunuh]