Scandal Cinta Om Arga

Scandal Cinta Om Arga
Part 21


__ADS_3

"Udah puas ketemu pujaan hati?" Tanya Clara yang fokusnya saat ini pada padatnya jalanan ibu kota.


"Kurang.." Merengek di lengan sahabatnya.


"Iisshh..." Clara mendesis.


"Tapi..senggaknya,energi gue sedikit terkumpul lah. Sedikiiiit banget." Ucapnya seolah rindu yang terbalas hanya secuil.. Lumayan kan.


Waktu 15 menit bersama Arga,cukup untuk Vania membakar semangatnya untuk belajar lebih giat lagi. Tak ada hari tanpa ia lewati dengan belajar,ponsel pemberian Satria pun sudah ia kembalikan pada pemiliknya,dia bahkan tidak menyalin no Arga. "Kalau aku menyalinnya,aku pasti berusaha menghubunginya lagi. Aku mau tau sebatas mana kamu mencintai ku Om." Ujarnya.


Dengan bantuan bu Guru Inez,akhirnya Vania berhasil mendapat gelar juara 1 umum di sekolahnya. Ia bahagia,bahkan sangat bahagia,akhirnya ia benar-benar bisa meraih prestasi,yang bisa ia banggakan di depan Arga nantinya.


"Kamu seneng?" Tanya Ines yang saat ini berada di dalam mobil bersama Vania dan Burhan.


Ko bisa?.


Burhan mengajak wali kelas putrinya itu untuk makan siang,selepas menghadiri acara wisuda di sekolah,sebagai bentuk rasa terimakasih.


Kembali ke Vania.


"Seneng dong bu,akhirnya aku juara satu umum." Entah sudah berapa kali ia menciumi piala kemenangan miliknya itu.


"Rencana kamu ke depannya apa sekarang?" Kembali Inez bertanya. Ia menoleh ke belakang karna posisi duduknya saat ini berada di jok samping kemudi,sedangkann Vania dan Burhan berada di jok penumpang.


"Ketemu pacar ku. Iya kan pah?" Tanya Vania sambil menoleh ke arah papahnya.


"Iya nak."


"Pacaran terus mikirnya,maksud ibu,sekolah mu,kamu mau kuliah di mana?"


"Di sini aja,aku gak mau jauh-jauh dari dia?bu."


"Ya ampuun..segitunya suka sama cowok." Ucap Inez dengan senyum manisnya,dan senyum manis itu diam-diam ada yang memperhatikan. Siapa dia...? Jawabannya nanti.


"Iya dong,dia itu lain dari yang lain bu,dia itu unyu-unyu banget..." Saut Vania sangat antusias.


Inez dan Burhan hanya bisa tertawa melihat tingakah Vania. Tiba-tiba,burhan kembali merasakan pising di kepalanya. "Aaw...sshh.." ia memijat sendiri keningnya.


"Papah kenapa?" Wajah Vania berubah panik.


"Gak apa-apa nak,cuma pusing sedikit."


"Anda tidak apa-apa tuan?" Ucapnya sambil menyodorkan botol minum air mineral pada Burhan. "Minumlah."


Vania membantu Burhan untuk minum,tak lama setelah itu,rasa pusing di kepalanya mulai berkurang.


"Kayaknya kita gak usah jadi makan siang di luar deh." Kata Inez.


"Kenapa?" Tanya Burhan.


"Anda sedang sakit tuan,sebaiknya anda istirahat di rumah,istri anda di rumah juga pasti khawatir." Saut Inez merasa tak enak hati karan mengajak dirinya untuk makan siang di luar.

__ADS_1


"Gak apa-apa ko,pusingnya juga sudah hilang." Saut Burhan berusaha biasa saja,karna tidak enak juga kalau harus di batalkan.


"Di rumah juga percuma bu,mamah Jehan pasti lagi ngumpul sama ibu-ibu sosialitanya."


"Vania.." Burhan sedikit menyenggol lengan putrinya,seolah memintanya untuk menjaga ucapannya.


"Ihh..papah."


Burhan bicara dengan ekor matanya,Dan Vania membuang muka menatap keramaian jalanan. "Memang iya ko,selalu seperti itu. Coba kalau bu Inez yang jadi ibu baru ku." Ucapnya pelan,namun masih terdengar di telinga Mereka berdua,bukan cuma mereka berdua,tapi bertiga. Seolah tidak mendengar apa-apa,seketika suasan di sana menjadi hening bak di area perkuburan.


Makan siang yang cukup berkesan,Vania menghabiskan banyak makanan,yang di pesan oleh papahnya,rasanya sangat nyaman kebersamaan mereka tanpa Jehan,andai burhan peka akan hal itu.


Selesai dengan acara makan siangnya,akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Restauran. Burhan mengantar Inez lebih dulu,sebelum pulang ke rumah. "Terimakasih ya tuan,untuk makan siangnya." Ucap Inez setelah turun dari mobil.


"Saya yang seharusnya berterimakasih."


Inez tersenyum.


"Tentang tadi,tolong jangan di ambil hati."


"Tentang apa ya tuan?"


Sekilas Burhan menoleh ke arah Vania yang tertidur pulas di atas pangkuannya. "Vania,,, Sepertinya dia menyukai bu Inez."


"Oh..itu,tidak apa-apa tuan. Saya juga yakin,dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya."


"Syukur lah,kalau begitu,saya jalan dulu bu. Selamat sore."


"Selamat sore."


Kini tiba saat di mana Vania dan Burhan akan menemui Arga di rumahnya. Berbagai persiapan sudah ia siapakan dari semalam. Mulai dari baju,riasan,sepatu,tas..pokoknya semuanya deh.tidak boleh ada yang kurang sedikitpun.


"Sempurna." ia memandangi dirinya di balik pantulan cermin. "Lo emang cantik Vania atmaja,semua cowok ngejar cinta lo,dan pelabuhan cinta lo hanya menepi di hati seorang Arga. Muacch.... " ia begitu antusias.


Masih berias,terdengar ketukan pintu dari luar.


"Tok..


tok..


tok..


"Non,tuan menunggu di mobil." Kata bi Narmi di depa pintu kamar.


"Oh..iya bi,ini udah selesai ko."


Vania segera keluar dari kamarnya,menghampiri Burhan yang sudah lama menunggu di dalam mobil.


Begitu sampai di mobil,ia tidak melihat Burhan berada di sana,bertanya pada supir pribadinya. "Papah ke mana pak?"


"Tuan ke kantor non,mendadak di kantor ada masalah."

__ADS_1


"Ko papah gak bilang sih?" Nampak kekecewaan di wajahnya.


"Tuan titip pesan sama saya non. "


"Terus yang nemenin aku siapa?"


"Gue.. "


Suara itu terdengar dari belakang. ia pun menoleh. "Kak Daniel? " Ucapnya dengan mengeryitkan dahinya.


"Kenapa? Lo gak mau gue temenin?" Ia berjalan cepat menghampiri sang adik lalu masuk ke dalam mobil.


Vania masih berdiri di depan pintu. "Kenapa kak Daniel sih?"


"Kenapa emang? Lo gak mau? Buruan masuk." Titahnya seraya membuka pintu di samping kanannya.


Vania memutar bola matanya jengah,mau tak mau ia pun masuk ke dalam. segera pak Asep melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Arga.


Vania tidak terlalu akrab dengan sang kakak, walaupun sebenarnya, ia sangat menyayangi adiknya.


Tak terasa mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman depan rumah Arga. Vania kembali merapihkan tatanan rambut dan makeup nya di depan cermin yang Sengaja ia bawa di tas kecilnya.


"Buruan turun,lama banget sih?" Kata Daniel yang lebih dulu turun dari mobil.


"Iya.. iya.. nggak sabaran banget sih."


Vania jalan lebih dulu,di ikuti sang kakak dari belakang,di setiap langkahnya,ia menyimpan banyak harapan pada Arga,hanya tinggal selangkah lagi menuju kebahagiaan,ia akan segera menagih janji yang pernah Arga utarakan.


Tiba-tiba. "Pyaarr...." Vania menjatuhkan Pialanya saat melihat Arga sedang berciuman mesra dengan wanita lain.


Seketika Arga pun menoleh ke arah sumber suara.


"Om Arga... Apa ini..?"


"Siapa dia Arga?" Tanya wanita cantik itu.


Diam sejenak. "Gue gak kenal." Jawabnya.


"Om jahat..." Seketika air mata mengalir begitu saja.




Boleh kali jempolnya di tekan.🤗🤗


LIKE


KOMEN


VOTE

__ADS_1


Follow


💋🙏🙏


__ADS_2