
"Kamu fikir, dengan memberikan aku ciuman, aku bakal kasih kamu izin gitu?"
Arga tersenyum penuh arti.
"Jangan harap. Itu gak akan pernah terjadi. Mengerti?"
Vania beranjak dari atas pangkuan Arga, lalu pergi. Arga hanya bisa menghela nafas panjang karena sang istri belum memberikan izin untuk dirinya ikut terlibat dalam misi menjebak Satya untuk membongkar keburukannya.
"Apa aku harus melakukannya secara diam-diam lagi?"
Kalau keadaan memaksa, mungkin saja Arga akan melakukan hal itu. Ia keluar dari ruang Kerja, lalu mengikuti langkah sang istri dari belakang, yang terus saja berjalan menaiki anak tangga, tidak ada niatan untuk merespon panggilan Arga yang terus memanggil namanya.
"Come on, Baby."
"Aku bilang nggak, ya nggak."
Terus melangkah semakin cepat, hingga suara Arga merintih kesakitan, membuat Vania menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.
"Hubby..."
Melihat Arga terduduk di atas tangga sambil memegang kakinya, Vania pun turun menghampiri sang suami melihat keadaannya.
"Mana yang sakit?" tanya Vania sangat panik.
"Ini, Sayang."
"Yang mana?"
"Hati aku," seloroh Arga membuat Vania kesal, lalu memukul bahunya.
"Iih... nyebelin banget sih?"
Bukan tidak ingin selalu berada di samping sang istri, keadaanlah yang memaksa Arga harus ikut bersama anak buah pak Burhan demi menjalankan misinya.
Saat malam itu tiba, Arga sudah berdiskusi terlebih dahulu dengan pak Burhan, juga bu Inez mengenai misi itu, dan dia tetap harus ikut walaupun tanpa persetujuan sang istri.
Sebetulnya Pak Burhan tidak setuju, karena kebahagiaan putrinya lah yang ia utamakan, begitu pun dengan Bu Inez yang sama-sama tidak setuju. Namun, demi kebaikan dan ketenangan hidup mereka, terpaksa Pak Burhan pun mengizinkannya.
Sebelum pergi, Mahardika menghabiskan waktu bersama Vania mendatangi suatu tempat yang sejuk, pas untuk mereka jalan-jalan, tempat itu berada di bagian selatan kota Jakarta.
"Kamu suka?" tanya Arga sambil menggandeng erat tangan Vania, memasuki area Ragunan setelah membayar tiket sebesar lima ribu rupiah.
"Tau aja tempat wisata murah, sejuk lagi," kata Vania terus tersenyum bahagia.
Saat berkunjung ke Taman Margasatwa Ragunan, mereka tidak hanya melihat berbagai jenis hewan-hewan yang ada di sana, mereka juga bisa sekaligus berfoto di banyak spot foto Taman Margasatwa Ragunan.
Vania melakukan itu, di area kandang singa, berjalan sedikit ke utara, ada kandang beruang, hingga terakhir mereka lama berada di area hewan unggas.
"Cantik," kata Vania menatap burung merak yang saat ini ekornya sedang bermekar sangat indah dengan berbagai jenis warna yang terdapat pada bulu merak.
__ADS_1
Arga berdiri di belakang Vania sambil memeluknya dari belakang, mengusap perut sang istri yang sudah mulai membuncit.
"Kamu lebih cantik dari burung itu, Sayang."
Vania tersenyum tersipu malu. "Gombal."
"Kalau burung itu lebih cantik dari kamu, masa aku pilih kamu jadi istri aku?"
Vania kembali tersenyum, lalu Arga mencium pipi Vania masih memeluknya dari belakang.
"Hubby, dia mendekat." Vania sangat antusias saat burung merak itu menghampiri dirinya.
"Aku mau punya burung merak," pintanya tiba-tiba.
"Nggak bisa, Sayang, gak sembarangan orang bisa pelihara burung merak."
Vania duduk di pinggiran pembatas, melihat burung itu dari jarak yang lebih dekat lagi, membuat senyum Vania semakin mengembang.
Puas melihat burung merak, Vania mengajak Arga ke sebuah taman, untuk makan siang karena perutnya yang tadi sudah di isi saat dalam perjalanan menuju ragunan, cacing di dalam perutnya kembali berteriak meminta di isi.
Vania memilih duduk di lesehan, memesan ketoprak, lengkap dengan kerupuk tangkil, juga rasanya yang pedas menambah cita rasa ketoprak khas betawi terasa lebih nikmat.
"Minumnya apa, Sayang?" tanya Arga hendak memesan minuman.
Sambil mengunyah ketoprak, matanya berkeliling mencari sesuatu yang segar, seperti sup buah, atau mungkin Es doger. "Iya. Aku mau itu, Hubby." Dia menunjuk ke arah es doger yang berada di seberang jalan.
"Dua dong. Kamu nggak mau?"
"Boleh deh. Tunggu sebentar, ya!"
Sementara Arga membeli sup buah, Vania melanjutkan makan, sambil membuka handphone, memeriksa pesan masuk yang belum sempat ia buka.
Papah Burhan : "Di mana, Nak?"
Vania mulai mengetik balasan pesan dari sang ayah.
Vania : "Ragunan, Pah."
Papah Burhan : "Suami mu ada di sana?"
Vania menoleh ke arah sang suami yang saat ini masih memesan sup buah, lalu kembali mengetik membalas pesan.
Vania : "Ada, Pah. Kenapa?"
Papah Burhan : "Jangan jauh-jauh dari suami mu, Papah takut Tristan mengikuti kalian."
Masih mengetik, belum sempat pesan terkirim, tiba-tiba datang seorang pria menghampiri Vania, lalu memanggil namanya.
"Vania," sapa pria itu.
__ADS_1
Vania mendongakan kepalanya ke atas. "Kak Whisnu?"
"Kamu sapa siapa ke sini?" tanya Whisnu masih berdiri di depan Vania.
"Sama suami ku."
"Di mana?"
"Di sini," sela Arga menyambar pertanyaan Whisnu.
"Sialan, pake ketemu aja lagi di sini, heran gue," batin Arga menggerutu. Ia menyerahkan satu mangkuk sup buah langsung ke tangan Vania.
"Terima kasih," ucapnya sangat manis, lalu ia mulai menyantapnya sambil mendengarkan Arga berbincang dengan Whisnu.
"Ngapain di sini?" tanya Arga sedikit ketus,Vania langsung menyenggol lengannya.
"Hubby...!"
Ia menoleh sekilas, lalu kembali melihat Whisnu dengan tatapan tidak suka, apa lagi dia terlihat sangat muda, tampan, pintar pula, membuat Arga selalu ketar-ketir saat Vania bertemu dengan Whisnu.
Hanya obrolan singkat, lalu Whisnu pun pergi sambil menerima panggilan telepon, yang diduga dari kekasihnya.
Arga menghela nafas lega, setelah Whisnu pergi. "Sial, gue ko lebih takut sama si Whisnu sih, dari pada sama si Tristan?"
"Hubby...!" panggil Vania sedikit mengguncang bahunya, demi menyadarkan sang suami dari lamunan, ia pun menoleh ke arah Vania.
"Kenapa, Cinta ku?"
"Habis ini kita pulang, yuk!" ajak Vania yang sedikit merasa lelah.
Arga mengangguk. "Siap Tuan Putri."
Setelah berkeliling sebentar, juga menghabiskan satu mangkuk sup buah, mereka pun pulang.
"Gendong!" pintanya sambil mengulurkan tangan, memenuhi keinginan sang istri, Arga menggendong Vania masuk ke dalam bak Koala sedang menggendong anaknya.
"Kis me!"
Muach.
Vania menjauhkan wajahnya dari jangkauan Arga, menggoda sang suami yang sudah ingin sekali menerkam bibir itu yang terus menggodanya.
"Kis me!" lagi-lagi Vania meminta Arga untuk menciumnya, sambil berjalan masuk ke dalam, dan masih dengan posisi yang sama, menggendong tubuh mungil itu dengan mudahnya.
"No." kali ini Arga yang menolak. Karena gemas, lalu Vania meraih tengkuk leher Arga, dan akhirnya berhasil, ia berhasil mencium bibir itu sehingga seseorang di dalam sana membuat kemesraan itu harus terhenti.
"Cie, cie. Mesra terus ini.
Vania juga Arga menoleh ke arah sumber suara , yang mana di sana sudah ada Evan, juga burhan, sedang menunggu kedatangannya, untuk membicarakan sesuatu hal.
__ADS_1