
Sepanjang perjalanan Vania terus diam tidak bersuara. "Kenapa mesti dateng lagi sih Om? kenapa mesti datang di saat aku bahagia dengan pria lain? Menyebalkan." Vania mengeratkan pelukannya,seakan mengisyaratkan kalau hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Whisnu terus melajukan motornya membelah keramaian kota Jakarta, Sikapnya biasa saja,ia tidak merasakan keanehan apapun pada diri Vania.
Hingga keesokan harinya,tepat pukul 09.00,polisi yang berjaga di sana,tiba-tiba membuka gembok sel,dan membuka pintu sel itu lebar-lebar. "Anda bebas." Ujar polisi itu.
Arga berdiri penuh semangat. "Bebas?"
"Cepat pergi,sebelum keluarga Atmaja berubah pikiran."
"Maksud bapak,Vania atmaja mencabut semua tuntutannya?"
"Iya..pergi lah."
"Terimakasih pak." Arga pun segera pergi meninggalkan kantor Polisi,biar preman,kalau udah ngadepein polisi mah takut juga kali.
Masih di ambang pintu,ia melihat Evan berlari ke arahnya sangat cepat,dia mengepalkan tangannya kuat. "Wah..gak beres nih?"
Bukannya menghampiri Evan,Arga malah lari menjauh dari sahabatnya yang saat ini sedang marah,marah karna Arga tidak memberitahu Evan kalau dirinya sudah ada di Indonesia sejak beberapa hari lalu." Mau ke mana lo?" Teriak Evan.
"Ampun Van,ampun.." Arga terus berlari ketakutan,hingga akhirnya mereka kelelahan sendiri,lalu berhenti di bawah pohon dengan nafas terengah-engah.
"Kelewatan lo ya? lo masih anggep gue sahabat gak sih?"
"Soory Van,gue ngejar si Daniel."
"Siapa Daniel?" Tanya Evan sambil mengatur nafas,ia duduk di bawah pohon untuk istirahat karna lelah bermain lari-larian.
"Cowok yang hamilin si Fiona." Mereka duduk bersama di bawah pohon yang cukup teduh.
"jadi dia ketemu?"
Arga mengangguk.
"Baguslah,lo udah bebas sekarang."
"Rokok.." Pinta Arga.
Evan merogoh kantung celananya. "Tinggal sebatang,gue gak punya lagi."
"Buat gue.."
"Gue juga mau.." Kata Evan,menjauhkan rokoknya dari tangan Arga yang sudah siap merebutnya.
"Steng-steng sama gue,asem nih mulut dua hari gak nemu rokok."
"Miskin amat lo,cuma rokok sebatang aja gak punya."
"Gue kan di dalem sel,mana ada rokok di sana? Udah lo tenang aja,nanti gue ganti satu slop."
"Satu slop? Sebatang aja gak punya." Tukas Evan bergumam.
"Gue denger lo ngomong apa." Ucapnya sambil menghisap rokok yang sudah ia nyalakan. "Ahh...nikmatnya...Dua hari gue gak ngerokok."
Gigit jari Evan.
Tak lama sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan mereka. Evan terheran. "Siapa?"
"Asisten gue." Kata Arga sambil berlalu masuk ke dalam mobil.
Evan malah bengong di luar,menatap tak percaya.
"Mau masuk gak lo?" Kata Arga.
"Gue..? Mau dong." Dengan semangat 45 Evan pun masuk ke dalam,lalu Mark selaku asisten Arga menutup pintu mobil,dan berlari kecil ke sisi kemudi.
"Kita mau ke mana tuan?" Tanya Mark,yang sudah siap membawa tuannya kemana pun ia mau.
"Ke apartemen."
__ADS_1
"Baik." Mark segera melajukan mobilnya menuju Apartemen.
Sepanjang perjalanan menuju Apartemen,Arga menceritakan semua pada Evan,atas apa yang terjadi dengannya sampai bisa masuk ke dalam sel.
"Jadi..Vania itu..orang kaya bro?" Kata Evan dengan membelalakan matanya.
Arga mengangguk.
"Tuh kan gue bilang juga apa,dugaan gue gak pernah salah. Tapi..yang bikin gue gak nyangka,dia ternyata adeknya si Daniel?" Evan menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba Arga duduk tegak menghadap Evan. "Lo tau kampus si bocil kan?"
Evan mengangguk. "Tau,tau.."
"Nanti siang kita ke sana."
"Mau ngapain?"
"Udah,pokoknya ntar siang kita ke sana."
"Ok.."
Di tempat lain,Daniel merasa risih dengan kehadiran Fiona di sana,bukan cuma itu,suara tangis Shofia membuat Daniel tidak bisa tidur semalaman.
Dan bukan hanya dinmalam hari,Bayi itu juga menangis di siang bolong,entah apa yang dia inginkan. Daniel mengacak rambutnya frustasi. "Anak lo bisa di suruh diem gak sih? berisik tau gak." Kata Daniel mendengus kesal.
"Heh..ini juga anak kamu." Bicara pada Daniel yang masih betah rebahan di atas ranjang,padahal kondisi fisiknya sudah membaik.
"Cup sayang cup." Fiona berusaha menghentikan tangis putrinya.
"Iya nyonya,saya ke bawah dulu beli susu." Pengasuh itu pun pergi.
Belum sampai pengasuhnya kembali,mendadak Fiona mau buang air kecil,ia berlari ke arah Daniel,lalu menyerahkan Shofia ke atas pangkuannya "E..eh...apa-apaan ini?"
"Bentar,aku kebelet."
Saat Shofia berada dalam pangkuan Daniel,saat itu juga tangisnya berhenti, Daniel terkejut,dia bahkan tidak melakukan apapun. "Ko bisa?" Fikir Daniel. "Jangan-jangan..?"
Waktu berjalan,posisi matahari saat ini tepat berada di atas ubun-ubun,menandakan hari sudah siang,sekitar pukul 12.30 WIB Arga dan Evan menunggu di sebrang kampus tempat Vania kuliah.
30 menit berlalu,belum ada tanda-tanda gadis itu keluar dari gerbang setinggi 2 meter itu. "Lo yakin hari ini Vania masuk?"
"Menurut info dari si Whisnu sih iya."
"Bagus.."
Masih menunggu,10 menit kemudian,akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang. "Sekarng Van,injek gas,terus puter balik,biar gue yang tangkep Vania." Perintah Arga.
"Siap bos." Mereka mulai melancarkan aksinya.
__ADS_1
Evan menjalankan perintah Arga dengan sempurna,begitu mobil sudah dekat,bahkan sangat dekat,tepat di saat Vania akan masuk ke dalam Taksi,dengan sagat cepat Arga menarik tubuh Vania masuk ke dalam mobilnya.
"Brukk.." Kejadian itu berlangsung sangat cepat,bahkan supir taksi itu pun tidak menyadari kalau penumpangnya sudah di culik. "Loh..bukanya tadi ada cewek yang mau naik ya?" Ucap supir taksi itu sambil menggaruk kepalanya yag tidak gatal.
Sedangkan yang di culik,tidak berhenti menjerit ketakutan saat belum tau kalau ia di culik oleh dua kucrut yang kurang kerjaan.
"Aaaaa.." Arga membekam mulut Vania dengan tangannya,lalu dia menggigit tangan Arga sangat kuat.
"Aaww...." Tangan itu pun terlepas dari mulut Vania.sampai ia meringis kesakitan. "Iisshh..."
"Om Arga..?" Vania mengernyit.
"Gak bisa ya kalau gak ngelawan?" Masih meringis bukan cuma itu,ternyata jarinya terluka dan berdarah.
"Lagian ngapain sih? kurang kerjaan banget kalian."
"Gue sih banyak kerjaan di bengkel,cowok lo yang gak punya kerjaan." Tukas Evan yang sedang fokus ke jalan.
"Om mau bawa aku ke mana? mau aku laporin polisi lagi?" Berteriak.
"Gue kagen Nia,lo gak kagen sama gue?"
"Nggak,aku tuh udah punya pacar Om."
"Biarin udah punya pacar,kalau kangen,ya kangen aja."
"Nggak.." Bentak Vania.
"Terserah,pokoknya sementara lo gue culik."
"Aku lapor polisi." Vania mengeluarkan ponselnya,hendak menghubungi no darurat,namun sangat cepat Arga merebut HP itu dari tangannya. "Om..?"
Arga menyerahkan ponsel Vania pada Evan. "Pegang,matiin HP nya untuk beberapa hari ke depan." Titah Arga.
"Siap bos."
"Apa?" Ucap Vania dengan mata membulat sempurna. "Aku gak mau.. Sini HP aku kak." Berusaha merebut kembali ponselnya.
Di saat waktu yang bersamaan,ada seekor kucing tiba-tiba menyebrang,tak pikir panjang lagi,sangat kuat Evan menginjak pedal rem. "Cekkiit..."
Arga menarik tubuh Vania yang hampir saja jatuh ke depan kemudi,dan akhirnya ia jatuh di atas pangkuannya.
Dengan deru nafas yang memburu,mereka saling menatap satu sama lain. "Om..,lepasin aku." Suara Vania terdengar lirih.
"Vania,tolong jangan menolak lagi,Om kangen sayang."
Aaaahhh.....Om-om lagi masa pubertas 😂😂
Sebagai bonus,akan UP lagi nanti siang,setelah kolom komentar tembus ke angka 50 komentar.
dan like di atas 300 like sampai siang ini.
😁😁😁🙏.
Boleh kali jempolnya di tekan.🤗🤗
LIKE
KOMEN
VOTE
JANGAN LUPA KASIH BUNGA SETAMAN BUAT MEREKA.
__ADS_1
😁😁
💋🙏🙏