
"Sayang." suara Arga terdengar sangat lirih, membuat Vania menghela nafas lega setelah mendengarnya.
"Hubby. Kamu di mana?"
"Aku di suatu tempat, Sayang"
"Tapi di mana?" Vania kembali bertanya khawatir.
"Aku gak tau pasti ini dimana. Aku menghubungi kamu untuk memastikan kalau kamu tidak menghubungi polisi kan?"
"Nggak."
"Minta bantuan papah kamu untuk memanggil dokter ke rumah yang bisa dipercaya, untuk mengeluarkan peluru di kaki ku."
"Iya, Hubby. Aku akan memanggil dokter, kamu cepat pulang ya!"
"Iya, Sayang. Aku pulang sekarang."
Setelah mengakhiri telepon dengan Vania, Arga meminta Evan membeli kain kasa dengan alkohol di apotek untuk menyiram lalu mengikat lukanya. Namun, satu masalah kembali terjadi, membuat Evan tidak mau branjak.
"Kenapa?" tanya Arga sambil merintih kesakitan.
Evan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Gue gak bawa uang, Ga."
"Serius lo?"
Evan mengangguk sedikit menjauh dari jangkauan Arga, karena takut mendapat serangan.
"Kebiasan gak pernah bawa duit kalau jalan sama gue." sungut Arga sambil memukul bahu Evan.
"Lo kan tau sendiri, Ga."
"Tau apa? ngumpulin duit buat kawin? nebeng terus sama gue."
"Yaelah Ga, lo kan banyak duitnya, pelit banget sih."
"Berisik lo. Ambil duit gue di jaket."
__ADS_1
Evan langsung merogoh saku jaket Arga, mengambil uang pecahan seratus ribu sebanyak dua lembar.
"Banyak banget lo ngambil?" kata Arga.
"Kembaliannya buat gue."
"Heh. ketimbang beli kain kasa doang sama alkohol gak bakal nyampe seratus ribu."
"Udah berisik lo ah, mau gue beliin gak? sungut Evan membuat Arga geram dengan tingkah sahabatnya yang selalu menyebalkan, akan tetapi sangat ia sayang.
"Udah sono pergi! gue lagi kena musibah kayak gini malah lo manfaatin. Kalau gue mati gimana?"
Ha.
Ha.
Ha.
Evan tertawa terbahak.
"Berisik lo. Udah buruan pergi!"
Akhirnya Evan pun pergi mencari apotek membeli apa yang Arga minta tadi. Setelah mendapatkan semuanya, Evan menyiram luka Arga dengan alkohol lalu mengikatnya dengan kain kasa, setelahnya mereka pun pulang menaiki motor Evan.
Begitu sampai di rumah, Arga di sambut oleh Vania yang terus menunggunya di depan rumah, dan langsung mendapatkan penanganan dokter yang sudah menunggu kedatangan Arga.
Selama dokter mengambil tindakan mengambil peluru di kakinya, sedikit pun Arga tidak merintih kesakitan karena ada Vania di sampingnya. Namun, berbeda dengan Vania yang terus menangis sambil menggenggam tangan Arga.
"Hubby... kenapa bisa seperti ini?"
Hiks.
Hiks.
Hiks.
"Gak apa-apa, Sayang. Ini mah udah biasa," kata Arga coba membuat Vania tetap tenang, tidak ingin membuat ia panik karena takut akan berpengaruh terhadap janin yang dikandunganya.
__ADS_1
Setelah lima belas menit, akhirnya Dokter berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di kaki Arga, lalu kembali melilitkan kain kasa pada bekas lukanya.
"Ini obat yang harus diminun, anti nyeri, anti biotik, satu lagi obat demam. Semua diminum sehari sebanyak tiga kali setelah makan."
Dokter menyerahkan semua obat pada Bu Inez. Setelahnya, Dokter itu pun berpamitan lalu pergi undur diri.
"Udah enakan?" tanya Vania tanpa melepaskan gengamannya.
"Aku baik-baik aja, Sayang," saut Arga seraya mengusap pipi Vania dengan punggung tangannya.
"Bulan depan, potong gaji Kak Evan!" titah Vania membuat Evan terkejut lalu malayangkan protes.
"What? dipotong? kenapa?"
"karna Kak Evan udah bikin suami aku terluka kayak gini."
"Idiih... dia sendiri yang ngajak gue, kenapa gue yang disalahin?"
"Bodo." Vania memeluk Arga dari samping.
"Tenang, Sayang. Bukan cuma dipotong, aku bakal pangkas habis gaji Evan selama satu bulan."
Vania tersenyum sambil menjulurkan lidahnya di hadapan Evan.
Maaf ya aku jarang UP. idenya suka nyangkut sana sini, mudah-mudahan masih pada suka sama cerita OM ARGA.
Habis kalau UP nya ngasal, nanti ceritanya jadi ngawur kan gak enak, ya gak sih?
Selalu like, komen, vote biar aku lebih semangat nulisnya 🥰🥰
__ADS_1