
"Hubby. Kenapa pintu kamar kita kebuka?" tanya Vania yang baru saja keluar dari kamar mandi memakai handuk kimono, disusul oleh Arga dengan hanya melilitkan handuknya di pinggang.
"Gak tau. Kayaknya tadi aku tutup deh," saut Arga, tanpa menaruh curiga ia pun menutup kembali pintu kamarnya, lalu mengunci dari dalam.
Lebih dari satu jam Bu Inez, Pak Burhan, juga Dokter Yoga menunggu di lantai bawah. Setelah berpakaian rapih, akhirnya Vania dan Arga pun keluar dari kamar, menghampiri mereka.
"Malam semuanya." Vania mendudukan diri di samping Bu Inez, sedang Arga duduk di single sofa seperti Pak Burhan.
"Malam, Sayang." Bu Inez masih mengingat jelas suara ******* putrinya membuat ia malu sendiri dihadapan dua pria yang berada di samping kanan kirinya.
"Lagi pada ngapain?" tanya Vania.
"Ini lagi... Nunggu," jawab Bu Inez kaku.
"Oh..." Vania menoleh ke belakang.
"Anda?" bicara pada Dokter Yoga.
Dokter Yoga mengulurkan tangannya. "Yoga. Saya Dokter Yoga."
Vania pun meraih tangan ini untuk berjabat tangan memperkenalkan diri. "Vania."
"Dokter? buat siapa, Mah? Mamah sakit?" tanya Vania seraya meletakkan punggung tangannya di atas kening Bu Inez
"Adem, gak demam."
"Nggak. Dia Dokter kandungan, Sayang," saut Bu Inez.
"Dokter kandungan? Buat siapa? aku?"
__ADS_1
"Iya lah. Siapa lagi?"
"Aku kan gak minta, Mah," protes Vania.
"Itu penting, Sayang. Kalau ada apa-apa sama kandungan kamu gimana?" kata Bu Inez seraya memberi pengertian.
"Kandungan ku baik-baik aja ko, kata Papah ibu ku juga mengalami hal itu waktu mengandung ku, Mamah juga bilang kayak gitu kan tadi?"
"Iya, tapi tetap kamu harus diperiksa. Kamu belum tau kan usia kandungan kamu berapa?"
Vania menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Maka dari itu kamu harus diperiksa Dokter kandungan dulu, biar ketauan."
Panjang lebar Bu Inez menjelaskan tentang kehamilan, Akhirnya Vania pun bersedia diperiksa oleh Dokter Yoga.
"Sudah ada," kata Dokter Yoga sambil menekan perut Vania bagian bawah.
"Sebentar, Ga. Itu kan udah tugas Dokter," kata Bu Inez.
Masih menakan bagian bawah perut Vania. "Jalan dua bulan," kata Dokter Yoga lagi.
"Dua bulan?" tanya Vania.
"Iya," saut Dokter Yoga sambil menutup kembali perut Vania, lalu ia pun meresepkan beberapa obat untuk dikonsumsi oleh Vania.
"Ini obatnya." Dokter Yoga menyerahkan beberapa obat pada Bu Inez.
"Selama tidak ada keluhan, Vania cukup mengkonsumsi vitamin itu, istirahat yang cukup, jangan stres, dan kalau sudah empat bulan, saya anjurkan untuk melakukan USG di rumah sakit mana pun, agar bisa melihat perkembangan janin."
__ADS_1
Panjang lebar Dokter Yoga menjelaskan tentang kehamilan muda, perubahan hormon yang mungkin akan memengaruhi emosinya, juga mood yang terkadang tidak stabil.
"Kalau untuk sekarang-sekarang paling sering muntah, ya kan?" lanjut Dokter Yoga.
Vania mengangguk. "Iya."
"Biasanya kalau lagi mual pengennya apa?" Dokter Yoga masih mengajukan beberapa pertanyaan.
Vania melirik ke arah suaminya. "Olah raga." Ia berkata dengan mudahnya dihadapan semua orang.
Perkataan Vania sontak membuat semuanya terkejut, bahkan Bu Inez sampai terbatuk mendengarnya, sedang Dokter Yoga hanya bisa menelan ludahnya kasar.
Pak Burhan yang juga ada disana hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Si Arga, Vania diapain sampe liar kayak gini?"
Dua sejoli tanpa dosa itu saling menatap melempar senyum.
"Don't use style The Plymount Rock Hard, Vania. Itu berbahaya."
Vania terkejut. "Dokter tau dari mana?"
Ayo mulai ramaikan lagi..
Like mencapai 200
Komen mencapai 30
__ADS_1
UP satu part lagi nanti siang. Ok! 🥰🥰🙏