
Burhan langsung pulang,setelah mendapatkan kabar dari Daniel kalau terjadi sesuatu pada Vania saat menemui kekasihnya tadi. Metting penting dengan rekan bisnisnya pun ia tinggalkan demi putri tercintanya.
"Tok..
tok..
tok..
Terdengar suara ketukan pintu di depan kamar Vania. "Vania... Buka dong.. Ini papah nak." Ucapnya membujuk.
"Nggak mau pah,Nia mau sendiri." Ia masih membenamkan wajahnya di atas bantal. Sudah tidak ada tangis,namun bayangan kemesraan Arga masih berputar di pikirannya.
Tidak mudah bagi Vania untuk bisa melupakan sosok Arga dalam hidupnya.. Dia terlalu berharga,dia seperti pelindung,bagaimana mungkin ia bisa menghapus nama yang sudah terukit jelas di dasar hatinya?
Dan entah sudah hari keberapa Vania banyak mengurung diri di kamar,hampir semua hal ia lakukan di dalam sana,ia bahkan tidak ingin menemui siapun,bahkan kedatangan Clara dan Satriapun pun selalu ia tolak.
Burhan sudah kehabisan cara untuk mengembalikan kenceria putrinya. "Semua sudah ku lakukan,tapi Vania masih saja mengurung diri dikamar." Ucap Burhan dalam sambungan telfon.
Burhan meminta bantuan Inez untuk membujuk putrinya agar mau keluar kamar,dan kembali ceria seperti semula.
"Apa aku bisa tuan?" Kata Inez sedikit ragu.
"Saya yakin,bu Inez pasti bisa membujuk Vania untuk berhenti mengurung diri."
Sempat terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban.
"Bu Inez?"
"Iya tuan."
"Bagaimana? bisa datang ke rumah saya? atau..mau saya jemput?"
"Oh..gak perlu tuan,biar saya ke sana pake taksi."
"Terimakasih ya bu,saya tunggu di rumah."
"Baikalah."
Burhan merasa lega,setelah menghubungi Inez,dan sangat berharap Inez bisa membantu Vania terlepas dari keterpurukannya.
1 jam kemudian,akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang. "Terimakasih ya bu,sudah menyempatkan waktu datang ke sini." Kata Burhan sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Vania.
"Sama-sama tuan,saya juga seneng ko bisa tuan andalkan." ia mengikuti langkah Burhan dari belakang.
Akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar Vania.
Tok..
tok..
tok..
Ketukan pertama tidak mendapat jawaban.
Kembali ia mengetuk pintu itu.
Tok..
tok..
tok..
"Nia..."
"Mmmm.. " Sautnya tanpa berkata. saat ini ia tengah melamun di atas balkon menatap birunya langit kota Jakarta.
"Boleh papah masuk?"
"Nggak.." Selalu itu yang menjadi jawabannya
"Papah gak akan ngerti perasaan ku,aku butuh ibu. Aku mau ibu." Air mata itu kembali mengalir. Di saat seperti ini,hanya sosok ibu yang bisa menenagkan hatinya.
"Kalau begitu,boleh ibu masuk?" Kali ini Inez membuka suara.
"Bu Inez?" Gumamnya. Ia bangkit dari duduknya lalu berlari membuka pintu. "Jglek.."
Begitu pintu terbuka,ia langsung memeluk Inez dan kembali menangis di dalam pelukannya. "Bu Inez.." Hikss...hikss...
"Vania.." Ucapnya sambil mengusap lembut puncak rambutnya. "Ko nangis sih?"
"Dia jahat bu..,dia selingkuh." Hikss..hikss..
Melihat Vania memeluk Inez seperti itu,membuat hati Burhan merasa tersentuh,ia seperti memeluk ibunya sendiri. "Seandainya saja Jehan bisa mengambil hati Vania seperti ini,aku tidak perlu sibuk mencari orang lain untuk datang. Bahkan sekarang saja aku tidak tau ke mana perginya Jehan dengan Megan." Batin Burhan bergumam
__ADS_1
"Udah ya nangisnya." Inez terus berusaha menenangkan.
Perlahan tangisnya mulai mereda,dan melonggarkan pelukannya. "Ajak bu Inez masuk dong,masa mau berdiri di sini?" Kata Burhan.
"Ayo bu,di dalam." Ia menggandeng tangan Inez masuk ke dalam,lalu mereka duduk di sofa depan TV. Sedangkan Burhan kembali ke ruang kerjanya.
"Kenapa?" Inez memulai percakapan setelah mereka sama-sama dusuk bersedekap saling berhadap-hadapan.
"Om Arga." Ucapnya lirih.
"Om..? pacar kamu?"
Vania mengangguk "Iya."
"Ko Om?"
"Karna usianya gak jauh beda sama papah."
"Jadi kamu suka sama...?"
"Jangan bahas usianya,bahas perasaan ku bu." Sela Vania memotong pembicaraan.
"Oh..iya maaf. Ya udah,terusin."
"Dia selingkuh bu." Vania mulai menjelaskan semuanya pada Inez,atas kejadian saat itu. Dan air mata itu kembali mengalir. "Dia jahat."
"Udah,jangan nangis,rugi tau nggak." Kata Inez sambil menyeka air mata Vania.
Vania pun diam menyimak perkataan Inez. "Kamu berapa hari diem di kamar? sedangkan cowok itu lagi seneng-seneng sama selingkuhannya,apa gak rugi?"
Masih diam.
"Dia bukan pria satu-satunya di dunia ini Nia,masih banyak yang jaaauuh lebih baik dari.. Siapa namanya tadi?"
"Arga bu."
"Iya..Om Arga?"
Vania mengangguk "iya."
"Lupain dia,dia bukan pria baik buat kamu."
"Tapi aku cinta."
Vania menatap wajah Inez.
"Vania.. Jangan terputuk hanya karna satu pria,masih banyak hal yang harus kamu fikirkan,dia tidak berhak merusak kehidupan mu,kamu haru bangkit."
"Iya..ibu benar,air mata ku terlalu berharga untuk menangisi pria brengsek kayak Om Arga."
"Nah itu tau."
Vania merapihkan tatanan rambutnya yang berantakan,ia menyeka sisa air mata di pipinya. "Mulai sekarang aku gak akan mikirin dia lagi bu."
"Pasti dong,siap bangkit?" Kata Inez.
"Aku siap,aku harus tunjukin,kalau aku baik-baik aja tanpa dia." Saut Vania semangat 45 setelah mendapat pencerahan dari mantan wali kelasnya itu.
"Lagian,kalau kalian jodoh,gak akan ke mana ko,pasti dia kembali lagi ke kamu."
Di tempat lain,hampir setiap hari Fiona datang ke rumah Arga untuk mengurus keberangkatannya ke Italy.
Mereka akan menikah di indonesia,secara siri,selepas itu mereka akan terbang ke Italy dan berencana menetap di sana.
Sebelum Fiona datang,buru-buru Arga menemui Evan di bengkel tempatnya bekerja,untuk menanyakan tugas yang Arga berikan padanya tempo hari. "Gimana? udah ada info?" Tanya Arga pada Evan yang saat ini sedang duduk beristirahat.
Evan menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Ko bisa sih Van,lo datengin sekolahannya kan?"
"Gue masuk ke dalem sekolahannya malah. Kata Evan meyakinkan.
__ADS_1
Bingung,kemana lagi ia harus mencari Vania,sementara waktu yang tersisa tidak banyak lagi,keberangkatannya ke Italy semakin dekat karna lusa ia akan menikah siri dengan Fiona.
"Ga.." Suara Evan memecah keheningan.
"Apa?" Saut Arga.
"Lo yakin itu anak lo?"
"Sebenernya sih gue kurang yakin,tapi gue gak punya bukti." Ucapnya seraya menyalakan rokok yang sudah di selipkan di bibirnya.
"DNA Ga,tes DNA." Kata Evan antusias. Ia merubah posisi duduknya menjadi tegak.
"Gue tau,dan DNA bisa di lakuin kalau bayi itu udah lahir. Iya kan?"
Kembali lemas. "Iya..lo bener,lo harus nunggu bayi itu lahir,baru bisa tes DNA."
"Tapi dia mau ya nikah siri sama lo?"
"Harus mau,karna gue yang minta. kalau nggak,gak bakal ada pernikahan.
"Ntar kalau anak itu udah lahir,dan terbukti bukan anak lo,nyesel deh lo udah nikah sama dia."
"Gue bakal lebih nyesel kalau sampai anak itu benar-benar anak gue,gue gak mau anak gue lahir tanpa seorang ayah."
"Ya..ya..terserah lo deh."
"Udah,pokoknya,selama gue pergi,lo terus cari tau keberadan Vania,dan setiap hari,lo harus kasih gue laporan."
"Kalau gue ketemu tuu bocah gimana? Lo mau nyuruh dia nunggu?" Tanyanya lagi.
"Gak usah,kalau nanti terbukti anak itu bukan anak gue,nanti gue sendiri yang bakal nyamperin dia."
"Iya kalau dia masih single,kalau udah nikah juga?" Kata Evan.
"Gue serahin semua sama takdir."
Boleh kali jempolnya di tekan.🤗🤗
LIKE
KOMEN
VOTE
Follow me....
__ADS_1
💋🙏🙏