
Tidak lama sekuriti pun datang setelah dipanggil oleh Bu Inez.
"Ada apa, Tuan?" tanya sekuriti itu berdiri di belakang Megan,
"Bawa wanita ini keluar, dan jangan pernah membiarkan dia masuk lagi ke rumah ini."
"Baik, Tuan."
Megan mengibaskan tangan sekuriti itu saat akan menarik tangannya. "Jangan menyentuh saya, saya bisa sendiri."
Lalu Megan melirik ke semua orang yang ada di sana.
"Saya sudah bebas, saya sudah kembali untuk kalian, dan saya akan segera mengambil apa yang seharusnya saya miliki, bukan begitu, Arga sayang?"
"Kurang ajar."
Vania yang benar-benar sangat emosi hampir saja menampar Megan kalau tidak Arga yang mencegahnya, lalu Megan pun pergi dari kediaman Pak Burhan penuh kepuasan terutama melihat raut wajah Vania yang ketakutan.
"Lepasin aku!" tegas Vania. Arga pun melepaskan tangan sang istri yang saat ini sedang sangat marah.
"Ini yang Kakak bilang aman? Megan bebas dari penjara, Kak. Dan dia akan terus menggangu kehidupan aku," hardiknya.
"Kamu hanya tinggal mengendalikan emosi kamu, Nia. Kalau tadi kamu menampar Megan, dengan tuduhan kekerasan, bisa-bisa kamu yang masuk penjara."
__ADS_1
"Kak, dia menggoda suami ku, lalu Kakak bilang aku jangan marah? aku harus diam?"
"Kakak tau, tapi setidaknya kendalikan emosi kamu untuk tidak menyakiti fisik, Karna kalau mereka sampai melapor ke kantor polisi, maka kita yang akan kalah."
"Maka dari itu lakukan sesuatu."
Vania yang sangat marah, langsung pergi ke kamarnya, diikuti oleh Arga. Sedang Pak Burhan terus diam seraya berfikir. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tiba-tiba saja ia teringat akan pengaduan Daniel mengenai sikap Jehan saat masih menjadi istrinya.
"Daniel..." panggil Pak Burhan masih duduk di tempat yang sama.
Daniel yang saat ini sedang berdiri, menoleh ke arah Pak Burhan.
"Dulu, kamu sering mengadu sama Papah mengenai sikap genit Jehan terhadap kamu. Kamu masih ingat?"
Mengingat hal itu, Daniel benar-benar merasa jijik, apa lagi dulu Jehan pernah mencium bibir Daniel saat ia sedang tidur.
"Merinding aku setiap kali ingat itu, Pah."
Pak Burhan tertawa.
"Iihh.. nggak banget sih kamu disukain sama emak-emak berdaster," ujar Fiona geli sendiri.
__ADS_1
"Jangan salah, dia itu model loh Fie dulunya, iya kan Pah?" tanya Daniel kepada sang ayah. Ia kembali duduk di samping sang istri.
Pak Burhan mengangguk. "Iya. Dia model tercantik diantara teman-teman lainnya." ujar Pak Burhan tanpa sadar sudah memuji mantan istrinya di depan Bu Inez, membuat Bu Inez marah, lalu memukulnya bahunya.
"Aku ada di sini loh, Mas." Suara Bu Inez menggeram, Pak Burha yang baru saja melakukan kesalahan langsung meminta maaf lalu mencium bibir Bu Inez di depan fiona juga Daniel.
Cup...
"Mas." Bu Inez melayangkan protes.
Seketika wajahnya memerah menahan malu, karena serangan sang suami yang tiba-tiba, bahkan di depan anak tirinya.
"Aduh. Ini lagi, begini nih kalau dapet yang gres, nyosor terus, kayak soang," seloroh Daniel membuat dua wanita cantik yang ada di sana malah tertawa terpingkal.
Klepak..
Pak Burhan melempar buku tepat di kepala Daniel, sampai ia meringis sambil mengusap kepalanya, sedangkan Fiona juga bu Inez tidak berhenti menertawakan kekonyolan mereka
"Sakit tau, Pah."
"Rasain," kata Pak Burhan.
"Lagian, ngapain sih bahas nenek sihir itu? bikin badmood aja."
__ADS_1
"Kamu harus membuat Jehan kembali mencintai kamu lagi, Daniel."
"Apa? papah gila apa? kenapa aku yang dijadikan tumbal?"