
Peluru itu mengenai tepat di kaki Arga. Ia terus berusaha bangkit coba melawan Tristan dengan sisa tenaga yang ia punya.
Jder.
Tristan kembali menembak kaki Arga dan langsung mendapat serangan dari Evan.
Bruk.
Mereka berdua jatuh dengan posisi tubuh Evan berada di atas tubuh Tristan, sedang Jehan yang tadinya berdiri tepat di belakang Tristan ikut jatuh dan kepalanya membentur ujung meja sampai ia tidak sadarkan diri.
Evan segera meraih pistol di tangan Tristan lalu memukul kepala Tristan dengan ujung batang pistol.
Bugh.
"jangan bergerak!" Pistol Tristan berpindah tangan ke tangan Evan. Sekarang dia lah yang memegang kendali penting agar segera lolos dari tempat tinggal Tristan sebelum anak buah Tristan menangkap mereka.
Dengan bantuan Evan, Arga bisa bangun dan berjalan walaupun tertatih dengan luka tembak sebanyak dua kali di kakinya.
Masih memegang pistol, Evan dan Arga pun keluar dari unit tempat tinggal Tristan dimana sudah ada beberapa anak buah Tristan di depan pintu akan menangkap mereka.
Beruntung pistol itu masih dalam genggaman Evan, sehingga akhirnya mereka pun berhasil lolos dari anak buah Trustan.
Eugh.
Sabar, Ga. Kita udah aman sekarang," kata Evan masih memegang Arga membantunya untuk tetap berjalan menuruni tangga darurat.
Kediaman Pak Burhan.
Vania meminta sang Ayah untuk segera melapor polisi untuk mencari tahu keberadaan Arga saat ini. Namun, Pak Burhan masih menahannya karena tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan.
Vania terus menangis menghawatirkan keselamatan Arga yang keberadaannya belum diketahui. Bu Inez yang kasihan melihat kondisi Vania, kembali memaksa Pak Burhan segera meminta bantuan polisi untuk mencari Arga.
"Inez. Arga itu pergi tanpa sepengetahuan kita, dia gak mau ada orang lain yang tau, dan sekarang kita malah meminta bantuan polisi? bagaimana kalau tindakan kita malah mengacaukan rencan Arga?" saut Pak Burhan.
"Tapi aku gak tega liat Vania seperti ini. Dia bisa stres, Mas."
"papah. Cepat hubungi polisi! kalau terjadi apa-apa dengan suami ku bagaimana?"
__ADS_1
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Kembali ia memeluk Inez ketakutan.
"Ayolah, Mas. Setidaknya buat Vania tenang dengan meminta bantuan polisi."
Cukup lama Pak Burhan berfikir, akhirnya ia pun menuruti keinginan putrinya. Namun, saat ia akan menekan tombol hijau pada layar ponselnya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari nomer tidak dikenal, sontak Pak Burhan pun menjawab panggilan itu.
"Ha_halo."
Pak burhan berfikir kalau yang Meneleponnya saat ini pasti penjahat yang meminta tebusan atas tertangkapnya Arga dengan Evan.
"Siapa ini?" tanya Pak Burhan sangat hati-hati.
"Pak. Ini saya Evan."
"Kak Evan?"
"Vania."
"Mana suami ku, Kak? mana Arga?"
Hiks.
Hiks.
"Arga ada di sini, Nia. Dia tertembak." kata Evan membuat seisi rumah semakin panik.
"Tertembak? terus bagaimana keadaan suami ku?"
"Kita akan segera pulang, tapi rumah lo gak di jaga polisi kan?"
"Suami ku tertembak, kenapa pulang ke rumah? cepat bawa dia ke rumah sakit, Kak!" Bentak Vania.
__ADS_1
"Gak bisa, Nia. Arga tertembak, lo mau suami lo di introgasi di sana?" kata Evan.
"Lalu aku harus berbuat apa, Kak? aku bukan dokter," saut Vania.
"Van. siniin handphonenya! biar gue bicara sama Vania," pinta Arga.
Evana memberikan ponsel yang ia pinjam dari seseorang kepada Arga untuk bicara pada Vania.
"Sayang."
"Hubby."
Hiks.
Hiks.
Hiks.
"Kamu di mana?"
Selalu tinggalkan jejak.
LIKE
KOMEN
BUNGA
VOTE
Respon kalian adalah semangat Author untuk kembali menulis. Ditunggu ya 🤗😘
__ADS_1