Scandal Cinta Om Arga

Scandal Cinta Om Arga
Part 53


__ADS_3

**Maaf ya baru UP, baru sempet lagi, setelah sibuk di dunia nyata, dan HP pun di tinggal. Semoga masih pada suka dengan kisah mereka.


Happy reading**.


Selesai dengan kegilaan di atas mini bar, Arga membersihkan bercak sisa percintaan mereka. Vania turun lalu merapihkan rambut dan bajunya yang sempat terkoyak tidak karuan. "Lain kali jangan di sobek dong." Keluhnya.


"Beli lagi lah." Selesai membersihkan, ia membuang semua tisyu bekas mereka ke dalam tong sampah yang terletak di samping mini bar. "Kita harusnya beli tong sampah lagi sayang, ini kekecilan."


"Bukan kekecilan Hubby, tapi ini kepenuhan. Buang dulu gih semuanya." Vania mengikat rambutnya, dan berjalan ke dapur sambil memakai celemek.


"Ya udah,aku buang dulu deh." Memasukan semua sampah ke dalam wadah Polyster, lalu keluar membuangnya.


"Udah ngembang belum ya?" buru-buru dia membuka tutup Adonan tadi. dan ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan. "Yaah...gagal deh. Aku emang gak bisa bikin apa-apa, masa buat kue donat aja gak bisa sih." Vania mengutuk dirinya sendiri yang belum bisa memasak.


Akhirnya ia harus membuang adonan gagalnya ke dalam tong sampah. Arga melihatnya. "Apa itu?" Berjalan mendekat.


"Adonan kue." jawabnya ketus.


"Ko di buang?"


"Gagal."


"Kasian." Arga memeluknya dari belakang. Menautkan dagu nya di bahu Vania.


"Maaf Hubby.. Aku gak bisa masak, aku gak bisa buatin kamu apa-apa." Mendunduk dengan wajah sendu.


"Hei.." Arga memutar tubuh istrinya, hingga mereka saling berhadapan. "Emangnya aku nuntut kamu untuk bisa masak?"


Vania terus menunduk dan melingkarkan tagannya di pinggang suaminya. "Tapi.. temen-temen kampus aku bilang, yang bikin suami kangen terus sama istri itu, dari masakannya."


Arga menangkup kedua pipi Vania, membawa wajahnya menatap dirinya. "Yang di bilangin temen kamu mungkin benar."


"Tuh kan..?"


"Suut.. " Meletakan jarinya di bibir Vania. "Jangan dulu di potong dong, aku belum selesai ngomong."


Vania langsung merapatkan bibirnya, dan membuka pendengarannya lebar-lebar.


"Setiap pasangan punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing sayang." Menyelipkan rambut Vania ke belakang telinganya.


"Mereka pinter masak, siapa tau mereka tidak bisa sehebat kamu saat di atas ranjang." Ucapnya menggoda, berusaha membuat hati istrinya senang.


"Iihh..nyebelin sih." Lagi-lagi memukul dada Arga yang kenyal,dan kekar.


"Ioh iya.. Lagian, berhenti pamer di depan orang tentang kelebihan pasangan kita, kalau mereka iri gimana? bisa menimbulkan masalah loh."


"Biasa kalau cewek suka banyak ngobrol, sampe-sampe kegiatan di ranjang aja di umbar di luar, iya?"

__ADS_1


Vania menggigit bibir bawahnya karna merasa yang di katakan Arga itu benar.


"Tuh kan." Arga mencubit hidung Vania gemas. "Kalau temen kamu pasangannya gak sehebat aku.."


"Iihh..ini ujung-ujungnya gak ngenakin niih.." Sela Vania memotong pembicaraan.


"Lohh..ini serius sayang." Wajah Arga memang terlihat serius. mau gak mau Vania harus diam mendengarkan.


"Kalau di hati mereka timbul rasa iri, bisa-bisa mereka ada rasa ingin merebut loh.. Karna menurut mereka, pasangan mereka tidak memuasakan kayak pasangan lainnya. Hayo.. kalau, sampai sejauh itu gimana?" Perkataan Arga berhasil membuat Vania takut, dan dia langsung memeluk suaminya erat-erat.


"Kamu benar Hubby.. Temen aku ada yang bilang, penasaran sama kamu, berarti mereka mengagumi mu?"


"Bisa jadi sayang." Arga tersenyum penuh kemenangan. "Atau.. Aku memang pantas di untuk di kagumi?"


"Hubby.." Sambil memeluk, ia memukul punggung suaminya. "Awas kamu ya."


"Nggak sayang, nggak. Mangkannya berhenti membicarakan kehebatan pasangan kita sama orang lain ya, terutama saat di ranjang, itu yang paling sensitif."


Vania mengangguk paham. "Aku gak bakal cerita-cerita lagi, aku gak mau ada orang yang berusaha merebut kamu dari ku."


Arga semakin tersenyum lebar penuh kemenangan mendengar ketakutan Vania akan dirinya di rebut wanita lain. "Dapet banyak..." Umpatnya dalam hati.


"Hubby..."


"Iya sayang.."


Vania melepaskan pelukannya. "Tubuh kamu keker banget." Ia memijat legan Arga sampai dadanya yang berbentuk dan perut yang memiliki banyak kota-kotak. Berapa kotak? Aahh... Delapan kotak.


"Yang kenyal dan kekar bukan cuma itu loh..ada yang lain .." Katanya dengan berbisik.


"Apa..?" Pura-pura tidak tau.


Lagi asik-asiknya ngobrol, ponsel milik Vania yang ia letakan di atas meja berdering. Ia melepaskan pelukannya, untuk menjawab panggilan masuk.


"Bu Inez..?" Menggeser icone berwarna hijau, lalu menempelkannya di telinga. "Bu Inez.."


"Vania, lagi ngapain?" Tanya bu Inez di sebrang sana.


"Lagi ngobrol-ngobrol aja sama suami. Ada apa bu?" Pegal berdiri, ia pun duduk, lalu Arga menghampirinya dan duduk di sebelahnya sambil menyalakan TV.


"Ibu lagi di jalan sama ayah mu, mau ke Butik, kamu bisa temuin ibu?"


"Boleh, aku lagi free juga. Ibu kirim alamatnya ya, nanti aku ke sana."


"Ok, ibu kirim lewat pesan ya."


"Iya bu." Sambungan telfon pun terputus.

__ADS_1


"Kenapa bu Inez?" Tanya Arga sambil memindahkan Chanel TV.


"Bu Inez nyuruh aku ke butik."


"Antar ya."


"Siap tuan putri."



Yang sedang di mabuk cinta bukan cuma mereka berdua, pasangan yang terpaut usia lebih 20 tahun itu tengah mesra-mesranya menjalani hubungan menuju pernikahan.



Aahh..memang sangat berbeda rasanya menjalin hubungan dengan Om-om.. lain saat Inez menjalin hubungan dengan pria yang usianya hampir sama. Yang Om-om lebih gemesiiin...



"Gimana? Vania mau?" Tanya Burhan sambil memegang kendali stir membawa mereka menuju sebuah Butik.



"Mau, aku udah kirim nama Butiknya." Saut Inez dengan senyum. Ia meletakan ponselnya si sisi sebelah kanan nya.



"Kamu yakin mau nikah di KUA aja? gak nunggu tiga atau empat bulan lagi?" Burhan tidak ingin terkesan buru-buru menikahi Inez, karna ia paham, wanita semuda Inez pasti menginginkan pernikahan yang sangat meriah dan megah.



Apa lagi dia seorang guri, pasti sangat banyak orang yang ingin dia undang ke pesta pernikahannya, tapi.. lain hal dengan Inez, Inez menginginkan pernikahan secepatnya, walaupun cuma di KUA, yang penting sah, dan punya buku nikah. Masalah resepsi bisa di lakukan kapan saja, dua atau tiga tahum ke depan, gak masalah. Ujarnya.



"Lagian... Aku ini udah 32 tahun mas, aku mau cepat punya keturunan, senggaknya sampai usia ku 40 tahun, kita bisa punya anak dua atau tiga. Iya kan?" Kata Inez dengan senyum.



Burhan semakin tersenyum bahagia, mendapat pasangan yang sangat dewasa pemikirannya, berbeda dengan Jehan mantan istri yang hanya menginginkan hartanya saja.



"Terimakasih ya, kamu masih memikirkan memberikan keturunan untuk ku." Kata Burhan sambil mengelus lembut puncak rambut Inez. "Aku mencintai mu bu guru."



"Aku juga mencintai mu mas burhan yang tampan."

__ADS_1



Jangan lupa untuk meninggalakn jejaknya ya setelah selesai membaca, berikan apresisai reader dengan menekan jempol, mengisi kolom komentar, dan bunga bermekaran, kalau ada Vote juga ya. he.. he.. maaf Othor banyak maunya 🙏🙏


__ADS_2