
Cukup dengan semua penjelasan Arga,membuat Vania merasa lebih lega,dan berharap tidak ada lagi kebohongan ke depannya,karna siapapun tidak ada yang mau di bohongi.
"Aku turun di sini aja Om." Kata Vania setelah mobil Arga menepi di depan gerbang rumahnya. Ia melepas setbelnya,begitu pun dengan Arga. "Om mau ngapain?"
"Om antar kamu masuk."
"Jangan." Cegah Vania.
"Kenapa?" Kata Arga.
"Aku takut papah tambah marah."
"Om siap menghadapi kemarahan papah mu." Ia tetap melepas setbelnya,dan turun dari mobil lebih dulu. "Ayo."
"Semoga papah gak tambah marah." Gumamnya,ia pun turun dari mobil.
Berjalan memasuki gerbang setinggi dua meter itu sambil menggandeng tangan Arga,takutnya mang Ucup tiba-tiba nyerang kan? terlebih dia pasti sudah mendapatkan izin dari sang majikan.
Berjalan melewati pos satpam,benar saja mang Ucup langsung berlari ke arahnya. "Stop mang stop.." Ucapnya sambil mengangkat tangannya ke depan. "Aku udah pulang,dan aku baik-baik aja."
"Non bener gak apa-apa?"
"Aku gak apa-apa. Mana papah?"
"Tuan di dalem,lagi ngobrol sama polisi." Jawab mang Ucup khawatir.
"Polisi?" Vania menoleh ke arah Arga. "Ayo Om,kita harus jelasin sama papah." Setengah berlari mereka menghampiri Burhan di ruang tamu,dan benar saja,di sana sudah ada dua polisi sedang mendengarkan penjelasan Burhan.
"Pah.." Suara Vania mengejutkan semua orang yang ada di dalam.Semua menoleh ke arah Vania termasuk Jehan dan Megan yang juga ada di sana.
"Nia.." Burhan bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Vania untuk jauh-jauh dari Arga. "Kamu gak apa-apa kan?" Khawatir Arga melakuakan hal yang tidak-tidak pada putrinya.
"Aku gak apa-apa pah. Aku baik-baik aja."
"Arga.." Megan melangkah berusaha menghampiri Arga,namun Vania langsung menahannya.
"Jangan berani mendekatinya." Ucapnya dengan Tegas.
"Vania.. bicara yang sopan dengan kakak mu." Sambar nenek sihir jehan.
"Dan nasehati putri anda,untuk menggunakan uang papah ku dengan benar,jangan terus dia habisi untuk hura-hura,dan menyewa pria hanya untuk memuaskan dirinya."
"Vania." Lepas kendali,di depan suaminya,Jehan menampar pipi Vania sangat kencang. "Plak.."
"Jehan." Kali ini suara Burhan yang meradang. "Berani kamu menampar putri kesayangan ku?"
"Putri kesayangan mu itu sudah lancang menuduh putri ku yang tidak-tidak."
"Aku berkata jujur."
"Om,beritahu semuanya,beritahu nenek sihir ini sudah berapa banyak uang yang dia habiskan hanya untuk menghabiskan waktu satu malam saja."
__ADS_1
"Sangat banyak,aku sampai tidak bisa menghitungnya." Kata Arga.
"Apa yang kamu katakan Arga,aku menghabiskan uang juga dengan mu." Timpal Megan,coba mencari alasan.
"Aku ini bekerja,wajar kalau aku mendapatkan upah."
"dan satu lagi tuan,saya tidak pernah tau kalau Megan akan mengenalkan saya sebagai calon suaminya pada anda. Dia berusaha menjebak saya, Bahkan saat di Hotel. Benar begitu nona Megan?"
"Arga.." Megan membentak,ia benar-benar marah karna Arga membeberkan semua keburukannya.
"Sekarang udah jelas kan siapa yang salah?" Kata Vania. "Dan papah harus tau,Megan lah yang banyak menghabiskan uang kita."
"Nenek sihir itu dan anaknya sama seperti benalu pah,mereka hanya ingin menghancurkan keluarga kita,mereka hanya ingin menguasai kekayaan kita."
"Mas..putri kamu itu keterlauan,kita di hina seperti ini kenapa mas diem aja?" Kata Jehan mencari pembelaan,namun sepertinya percuma,kali ini Burhan lebih mendengarkan apa yang putrinya katakan.
"Keluar.." Sebisa mungkin Burhan menahan emosinya untuk tidak melakukan kekerasan pada sang istri.
"Mas,anak kamu yang kurang ajar,kenapa aku yang harus keluar?"
Burhan melangkah maju,menatap wajah sang istri dengan sorot mata tajam. "Keluar dari rumah ini? Atau Polisi yang akan membawa kalian?"
"Gak bisa gitu dong mas,masa kamu tega sih usir aku sama anak ku? Ini kan cuma masalah uang,kenapa kita sampai di usir?"
"Ini bukan hanya masalah uang,kamu juga sudah membuat Vania tidak nyaman berada di rumah."
"Bawa dia pak." Kembali Burhan menegaskan.
Vania memeluk sang ayah,sangat erat,ia sangat bahagia dengan perginya Megan dan biangnya. "Makasi ya pah,papah udah percaya sama aku."
"Iya nak,maafin papah ya terlambat menyadari semuanya."
Vania melepaskan pelukannya. "Papah keren."
Burhan kembali memeluk sang putri sambil menoleh ke arah Arga,yang juga merasakan kebahagiaan yang Vania rasakan. "Terimakasih Arga,kamu menjaga putri ku sangat baik."
"Iya Tuan."
Satu bulan berlalu,satu persatu masalah Vania sudah terselesaikan,Burhan memang tidak memenjarakan Jehan dan Megan,dia hanya meninggalkan Istri dan anak tiri nya di sebuah rusu yang hanya memiliki satu kamar tidur,tanpa uang,tanpa fasilitas mewah,dan hanya makan-makanan sederhana yang Burhan kirim melalui pembantunya.
Juga sudah lebih dari satu bulan Whisnu berada di Belanda,hanya 2 kali Vania mendapat kabar melalui email,itu pun cuma memberi tahu kalau dirinya dalam keadaan baik-baik saja,dan mulai di sibuk dengan kegiatan-kegiatan kampus.
Vania memakluminya,tapi di bulan berikutnya Whisnu tidak lagi mengirim pesan email,bahkan sampai bulan ke tiga dan keempat.
Vania mulai gelisah,ia meminta bantuan Arga untuk mengantarnya pergi ke Belanda. "Kamu gila apa? Belanda..bukan Depok."
"Aku tau,tolong aku Om,aku mau ketemu kak Whisnu."
"Nggak." Tegasnya sekali lagi. "Emang aku gak punya kerjaan apa?"
Vania bangkit dari dudunya dengan wajah marah. "Ok kalau gak mau anter,aku bisa pergi sendiri."
__ADS_1
"Pergi aja sono." Mata Arga tak lepas fokus dari laptopnya.
"Nyebelin.." Sikap cuek Arga semakin membuat Vania marah,ia berjalan dengan menghentakan kakinya.
"Sono ke Belanda,tau alamatnya juga nggak." Teriak Arga,berharap Vania tidak berbuat nekad.
Vania menghentikan langkahnya,menoleh ke belakang. "Aku gak sebego itu ya Om,aku udah ngantongin alamat apartemennya."
Arga berusaha untuk tidak terpengaruh dengan wajah polos gadis itu. "Dia bahkan selalu muncul setiap saat." Bagaimana mungkin dia membiarkan Vania pergi ke Belanda sendiri? "Whisnu sialan,kalau sampe lo macem-macem di Belanda,gue bikin perkedel tau rasa." Sungut Arga kesal.
Satu minggu berlalu,Vania betul-betul nekad untuk pergi ke Belanda sendiri,dengan memberikan alasan pada sang Ayah,kalau dia akan liburan ke Bali untuk satu minggu dengan Clara.
Berhasil,alasan yang masuk akal. "Akhirnya,Belanda i'm comeing"
Ide nya berhasil,berada di dalam pesawat,ia mendudukan diri di sebelah cowok yang wajahnya di tutup oleh majalah yang biasa banyak orang lakukan saat di dalam kendaraan.
"Ribet." Kata yang ada di dalam benak cowok yang ada di sebelah Vania.
Vania terus bergerak-gerak tidak karuan,entah aktifitas apa yang sedang ia lakukan,hingga menumpahkan minumannya tepat di atas celana jeans cowok itu,bahkan air itu tumpah tepat di atas senjatanya. "Maaf..maaf.." Berucap maaf,sambil mengusap celana cowok itu dengan saputangannya.
Ya ampuuun...di melakukannya tanpa ragu. "E..eeh.. Jangan Nia jangan,nanti adik ku bangun." Ucapnya spontan,bahkan majalah nya jatuh ke bawah.
Mata Vania terbelalak saat tau pria yang ada di sebelahnya adalah Arga. "Om Arga?." ia memeluk tubuh Arga dari samping. "Aku tau,Om sini karna aku kan?"
"Jangan GR,Om juga punya urusan di Belanda."
"Urusan apa?"
"Banyak lah,catring nikahan,sunatan,lahiran,sukuran rumah,banyak lah pokoknya?"
"Di Belanda ada yang kayak gitu juga?"
"Ada lah."
"Cek..cek..cek.." Vania menggelengkan kepalanya. "Terserah Om mau ngurusin Catring apa,yang penting sekarang Om ada di sini."
"mmm... Makin sayang deh sama Om." Vania mendongkan kepalanya,memasang wajah memelas. "Sekalian tanggung Biaya selama di Belanda ya Om."
"What..?" Mengernyit.
Jangan lupa untuk meninggalakan jejaknya ya Reader.
Buat Author semangat UP setiap harinya. kalau punya Vote,boleh bagi-bagi 😘🙏
Love you 💋💋💋
__ADS_1