
Setelah meminum minuman yang ia campur dengan ramuan tadi,tak lama Jehan merasakan pening cukup hebat. "Ini gara-gara anak sialan itu." Batin Jehan bergumam. Lalu ia pun pamit pada sang suami untuk masuk ke dalam lebih dulu. "Mas,aku ke dalem dulu ya,HP ku ketinggalan di dalem." Kata Jehan berbohong.
"Ya udah,masuk lah."
Jehan pun pergi dari sana dengan langkahnya yang gontai. Saat akan menaiki anak tangga,tiba-tiba Megan datang lalu memanggilnya. "Mamah..!" Setengah berlari ia menghampiri sang ibu,dan Jehan menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang,ia menahan diri untuk tidak jatuh,memegang pegangan tangga.
"Kenapa mah?" Taya Megan sambil membantu Jehan untuk berdiri karna lemas.
"Cepat,bawa mamah ke kamar mu." Pinta Jehan yang sudah tak sanggup lagi untuk berdiri.
"I..iya mah." Megan pun segera membawa Jehan ke kamarnya.
Setelah berada di dalam kamar,Jehan meminta putrinya untuk mengambilkan obat penawar racun di kamarnya,sementara ia berbaring di atas kasur. "Mamah taro di mana obatnya?" Tanya Megan kebingungan.
"Laci."
Tak ingin membuang waktu,Megan pun langsung berlari masuk ke dalam kamar mamahnya,guna mengambil obat yang di maksud.
Setelah mendapatkan apa yang di inginkan,ia segera melarikan diri dari sana,sebelum ada yang mengetahuinya,lalu memberikan obat itu pada Jehan,dan langsung menenggaknya.
Tak lama keadaannya mulai membaik,ia bangkit dari tidurnya. "Mah.."
"Anak sialan." Kata Jehan mendengus kesal.
"Kenapa sih mah?" Tanya Megan kebingungan.
"Ini gara-gara Vania yang meminta ku meminum minuman itu."
"Ko bisa sih?"
"Dia tau kalau mamah memasukan sesuatu ke dalam gelas Burhan,dan sialnya dia meminta mamah yang meminumnya lagi." Ucap Jehan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Ya ampun...kan udah aku bilang mah,hati-hati kalau mau naro racun s tua bangka itu."
"Iya,mamah harus lebih hati-hati."
Masih dalam perjalanan menuju bengkel,Vania memeluk tubuh sang kekasih,dan menyandarkan kepalanya pada punggungnya seraya berfikir. "***Aku harus bagaimana lagi untuk mengungkap kejahatan mereka***." Batin Vania bergumam.
Terus larut dalam lamunan,akhirnya motor yang ia tumpangi tiba di tempat tujuan. "Udah sampe kak?" Vania bertanya setelah motor berhenti.
"Udah." Saut Whisnu,merekapun turun dari motor. Ia merapihkan rambut Vania yang sedikit berantakan.
Sedangkan di dalam,Evan yang melihat pemandangan di depannya di buat terkejut dengan Kehadiran Vania yang tiba-tiba. "Mimpi..." Gumamnya sambil mencubit pipinya untuk memastikan.
"Aaw..sstt. "Bukan mimpi,ini nyata,Vania.. di.. sini..? dan Whisnu..dia..kekasihnya?" Terus menatap tak percaya dari kejauhan,bahkan tanpa mencarinya,ia datang sendiri menampakan diri.
"Kamu tunggu sini ya,aku ambilkan air minum,mau minuman dingin atau panas?" Kata Whisnu,setelah berada di dalam.
"Dingin aja kak,otak ku lagi panas." Saut Vania dengan senyum.
"Bisa aja kamu,tunggu ya."
Vania mengangguk.
Sementara Whisnu masuk,Vania menunggu di kursi tunggu,ia melihat keramaian jalan di malam hari,bunyi klakson yang saling bersautan membuat suasana hati Vania membaik.
Kebetulan Whisnu sedang memesan minuman,Evan tak ingin membuang kesempatan emas ini,setengah berlari ia menghampiri Vania. "Vania.."
Yang di panggilpun menoleh. "Iya..?" Saut Vania dengan senyum ramah,ia pun mendongakan kepalanya,seketika senyumnya memudar saat menyadari kalau yang memanggilnya adalah Evan,sahabat Arga. Ia pun langsung berdiri. "K..kak Evan..?"
__ADS_1
Evan mengangguk. "Iya,ini gue Nia,Evan."
"Tapi...gimana kakak ada di..sini..?"
"Gue kerja di sini sekarang,lo keman aja Nia? gue nyariin lo." Kata Evan.
"A..aku.." Belum sempat menjawab,Vania melihat Whisnu berjalan ke arahnya dengan membawa dua botol minuman di tangannya.
"Jangan katakan apapun sama Whisnu,anggap kita tidak saling mengenal ya kak."
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan bilang sama Whisnu kalau kita saling kenal."
"Ok,tapi nati kita harus ngobrol lagi. Janji?"
"Aku gak bisa."
"Kalau gitu,gue bakal bilang sama Whisnu kalau kita saling kenal." Ancam Evan.
"Kakak ngancem aku."
Langkah Whisnu semakin mendekat. "Ok.ok."
"Nia..ini minumannya." Whisnu menyerahkan botol minuman itu ke tangan Vania. Cukup heran melihat Evan berada bersama sang kekasih,akhirnya ia pun bertanya. "Bang..ngapain di sini?" Tanya Whisnu yang langsung membawa Vania untuk kembali duduk.
"Gak apa-apa, ini cewek lo?" Tanya Evan to the poin.
Whisnu mengangguk. "Iya..kenapa? cantik ya?" Ucapnya dengan senyum penuh kebanggaan.
"Kak." Protes Vania yang langsung menarik ujung baju kekasihnya,untuk tidak bicara yang aneh-aneh.
"Kenapa?"
Vania menggelengkan kepalanya.
"Iya,cewek lo cantik." "***Sampe-sampe si Arga tergila-gila sama ini anak***." Batin Evan bergumam.
Whisnu duduk di samping Vania,dan Evan pun kembali bekerja,namun pandangannya terus megawasi dua insan yang tengah di mabuk cinta itu. "Gue harus laporan nih. Tapi...kalau gue laporan,bisa ngamuk si Arga."
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya berdering,sangat kebetulan kalau itu panggilan dari no yag sering Arga gunakan untuk menghubunginya. "Wah..panjang umur lo mas Bro. Nih mesti gue kerjain,biar dia cemburu liat Vania ama cowok laen." ha..ha.. Otak Jahil Evan sedang beraksi.
Evan menggeser Icone berwarna hijau,lalu menempelkan ponselnya ke telinga,dan di himpit oleh bahu,karna ia harus mencuci tangan. "Mas Bro..panjag umur."
"Lo lagi ngomongin gue?" Kata Arga yang saat ini berada di atas balkon sambil menghisap rokok di sela-sela jarinya.
"Gue sih gak ngomongin lo,tapi..kayanya di sini lagi ada cewek yang lagi mikirin lo."
"Cewek? mikirin gue? siapa?"
"Menurut lo siapa?" ejek Evan.
"Lo gak usah maen tebak-tebakan sama gue Van."
"Eeehh..sorry,kayaknya dia gak lagi mikirin lo sih,dia lagi asik sama pacarnya,suap-suapan Bro,romantis banget."
"Wah..lo ngajak perang ya?" Kata Arga medengus kesal,karna dari tadi gak jelas dia ngomong apa.
Ha..ha.. Evan tertawa terbahak.. "Nih..gue kasih tau ya." Evan berdiri menghampiri Vania dengan membawa salah satu alat yang rusak.
"Cil.." Panggilnya.
Refleks Vaniapun menyautinya. "Iya kak?"
Seketika Arga langsung tau kalau itu suara Vania. "Vania...ada di sana? di bengkel Evan?" gumamnya. Arga diam,mencoba mempertajam pendengarannya.
"Nu,ini alat harus di ganti,kebetulan di sini lagi kosong,kayaknya lo gak bisa kencan sama cewek lo deh,atau..kalau mau pake aja motor gua kalau mau jalan-jalan sama Vania." Ucap Evan sengaja,menekan sebutan nama Vania.
Arga langsung mengalihkan panggilan suara,menjadi panggilan Vidio. Evan merespon,maka nampaklah wajah Vania dalam panggilan VC yang sengaja Evan arahkan langsung ke wajah Vania secara diam-diam.
Bertepatan saat itu Whisnu sedang megusap ujung bibir Vania dengan ibu jarinya yang terkena sisa es cream.
Wajah Arga berubah merah padam,Evan menyaksikan itu. "***Gila si Arga,sekalinya liat Vania,lagi beradegan mesra. siap-siap lo Evan kalau dia pulang***. ***Habis lo***."
Arga langsung mengakhiri panggilan dengan tiba-tiba. ***ha..ha..ha.. "Gue yakin,lo pasti buru-buru pulang karna hal ini***."
Sedangkan di sana,pikirannya sudah tidak karuan,dengan susah payah ia menahan api cemburu atas apa yang ia lihat tadi. "Gue harus cari cara,supaya buru-buru pulang ke indo."
Boleh kali jempolnya di tekan.🤗🤗
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
Follow ya,supaya bisa bikin group chat,biar bisa ngobrol santai di sana.😁😁
💋🙏🙏