
Dengan menggunakan mobilnya,Arga bersama Evan mengantarkan Vania ke bandara,berharap masih ada kesempatan untuk mempertemukan Vania dengan kekasihnya Whisnu.
Ia sudah tidak memikirkan perasaannya lagi,yang ada di dalam pikirannya hanya kebahagiaan Vania,dan hanya kebahagiaan dia.
Arga bahkan tidak mau memeksa Vania untuk kembali mencintainya. Ia menyadari kalau kesalahannya saat itu memang sangat fatal,ia belajar untuk merelakan kalau akhirnya gadis mungil yang ia cintai dulu,harus mencintai pria lain. "Aku anggap itu sebagai hukuman."
"Sabar ya,kita pasti bisa menyusul Whisnu." Kata Arga sambil mengusap puncak rambut Vania,mereka duduk di jok penumpang,sedang Evan yang membawa kendali mobil.
Ia melihat wajah gadisnya sangat gelisah,tidak mendapat respon pun tidak masalah baginya. Yang penting adalah kebahagiannya.
Begitu mobil menepi,tanpa berfikir panjang lagi,Vania langsung turun lalu berlari masuk ke dalam bandara. "Kak Whisnu..!" Ia berteriak,semua orang menoleh ke arahanya,menatap aneh "Ngapain sih tuh orang?"
"Kayak di movie-movie aja ya."
"Teriak-teriak kayak di hutan aja."
Banyak orang yang mencibir tingkah Vania,yang menurut banyak orang sangat norak,dan mungkin mengganggu pendengarannya. Arga tidak bisa berbuat apa-apa selain terus mengikuti langkahnya yang semakin cepat memasuki bandara.
"Kak Whisnu..." Vania terus berteriak,hingga akhirnya ia berhenti di satu titik,melihat cowok itu dari kejauhan,beberapa kali ia menyeka air mata,demi memperjelas penglihatannya,dan meyakinkan kalau pria yang berdiri di sana adalah kekasih hatinya.
Ia tersenyum,berlari begitu cepat menghampiri pria itu,raut wajahnya memancarkan kebahagiaan,tatkala cowok yang bertubuh tunggi putih dan berkacamata itu benar ada di depan mata. "Kak.." hikss...hikss.. Menangis terisak.
"kak... Jangan pergi..!"
"Kamu sama siapa ke sini?" Memeluknya sangat erat.
"Jangan pergi." Terus kata itu yang terucap.
Whisnu merasa lega,akhirnya ia bisa melihat wajah Vania sebelum ia berangkat. "kamu sama siapa ke sini Nia?" Kembali ia bertanya.
Vania melepaskan pelukannya.. "Gak penting aku sama siapa ke sini,pokoknya jangan pergi,jangan pergi aku mohon."
Ia tertawa kecil,melihat tingkah manja kekasihnya. "Hei.." Mencubit hidungnya yang mancung. "Aku ini mau menuntut ilmu,bukan liburan."
"Nggak mau..sama aja,nanti siapa yang ajak aku jalan-jalan? Siapa yang bantu aku ngerjain tugas-tugas kampus yang menggunung?"
"Belajar sayang.."
"Aku tau,tapi siapa yang ngajarin akuuuuu..?" Memukul dada kekasihnya.
"Vania,dengarkan aku." Ia menangkup pipi Vania dengan tangannya. "Dari ribuan mahasiswa yang mengharapkan beasiswa ke Belanda,cuma ada 3 orang yang terpilih,dan salah satunya aku,apa aku harus menyia-nyiakan kesempatan itu?"
Vania terus diam mendengarkan Whisnu bicara,walau masih dengan tangis terisak.
"Aku ini hanya pria sederhana,kalau bukan karna beasiswa,mana mungkin aku bisa menimba ilmu sampai ke negri orang,kamu tau sendiri kan,kalau bukan karna beasiswa,jangankan keluar negri,kuliah di dalam negri pun aku mana bisa?" Ucapnya mencoba memberi pengertian.
Perlahan tangisnya mulai reda. "Apa yang harus aku lakukan tanpa kamu kak?"
"Banyak sayang,banyak hal yang bisa kamu lakuin,kamu bisa ajak Clara ke mana pun kamu mau."
"Bukannya kamu juga harus memimpin perusahaan ayah mu kan? belajarlah lebih giat di bidang itu."
"Tanpa kamu?"
Whisnu mengangguk. "Iya."
__ADS_1
"Apa aku bisa?"
"Kamu pasti bisa sayang."
Terdiam sejenak sebelum kembali bicara. "Aku akan menunggu mu kak."
"Benarkah?" Ucapnya dengan senyum.
Vania pun mengangguk. "Iya kak."
"Terimakasih Nia. Nanti aku kirim alamat tempat tinggal ku di sana,aku usahakan kirim kamu email seminggu dua kali."
"Gak bisa tiap hari?"
"Kalau sempat ya."
"Baiklah."
Menatap wajah gadisnya,rasanya ingin sekali ia meneteskan air mata,biarpun seorang pria,Whisnu juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Vania rasakan saat ini.
Sedih? Jelas ia juga merasakannya,ia berusaha untuk menyebunyikan kesedihannya di depan Vania dengan senyum. Dia tidak mungkin menunjukan sisi kelemahannya di depan wanita,terlebih wanita yang ia cintai.
Whisnu mencium puncak rambut Vania,lalu mencium bibir mungil itu untuk yang terakhir kalinya,bahkan ia melakukannya di depan Arga,apa lagi yang bisa ia lakukan,selain diam,dan menyaksikan pemandangam menyakitkan di depannya. "Ini yang dia rasakan saat itu,bahkan lebih dari ini sakitnya.."
"Sabar ya Bos. Mungkin udah nasib lo terus jagain jodoh orang." Kata Evan sambil menepuk bahu sahabatnya,seraya menguatkan,berbeda tipis dengan meledek.
"Jodoh orang?" Arga mengernyit.
"Lo gak sadar ya? Pertama si Fiona,emang sih.. lo sempet kawin sama dia,tapi..pada akhirnya,dia kawin juga sama si Daniel? Iya kan?"
"Dan sekarang,si Vania.. Lo malah nganterin dia ke sini nemuin cowoknya. Aduuh.." Geleng-geleng si Evan.
"Woy..tunggu. Jangan ngambek dong" Arga melangkah lebih cepat,hingga Evan harus berlari kecil untuk mengsejajarkan langkah kakinya.
Tak lama mereka menunggu di dalam mobil,Akhirnya Vania pun datang dengan wajah sedikit lebih ceria. Ia duduk di jok penumpang,sedangkan Arga di jok samping kemudi. "Udah beres?" Tanya Arga menghadap ke belakang.
Vania mengangguk. "Udah."
Evan dan Arga saling melirik seolah memberikan isyarat tertentu.
"Ayo jalan kak. Ko malah pada diem sih?"
"Oh..iya..iya.. Kita jalan." Evan segera menyalakan mesin mobil,lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Gue anter lo pulang ya Cil." Kata Evan,yang sedang fokus pada jalan.
"Tapi turunin aku di persimpangan ya kak." Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok,sambil menatap ke luar,menatap keramaian kota Jakarta di malam hari.
"Kenapa di persimpangan? Kenapa gak langsung ke rumah?" Timpal Arga.
"Gak ah,nanti kalau nenek sihir tau,aku baru pulang larut malem,kepo lagi dia,apa lagi tau kalau aku pulang di anter dua cowok,bisa-bisa dia ngadu ke papah yang nggak-nggak." Kata Vania.
"Oh..ya udah kalau gitu."
Mobil terus melaju membelah keramaian kota menuju kediama Vania. Hampir satu jam lamanya,akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di persimpangan tempat yang ia minta. "Habis ini lo naik apa sampe ke rumah?" Tanya Evan setelah menepikan mobilnya di bahu jalan.
__ADS_1
"Naik Taksi."
"Uangnya ada?"
"Ada." Setelahnya Vania pun turun. "Makasih banyak ya Om,udah anterin aku."
"Iya." Saut Arga dengan senyum.
"Sama kak Evan nggak nih?"
"Iya iya.. kakak juga,makasih ya kak."
Belum jauh melangkah,Arga memanggil nya kembali. "Vania.."
Ia pun menoleh. "Iya kak?"
Arga turun dari mobilnya menghampiri Vania. "Ini kunci mobil kan?" Kata Arga.
"Oh iya..aku kan tadi ke restauran bawa mobil Om. Gimana dong sekarang?" Bingung.
"Ya ampuun..sampe lupa gitu?"
he..he..he.. "Maklum banyak pikiran Om."
Arga menggelengkan kepalanya. "Ya udah,besok Om anterin mobil kamu ke rumah."
"Iiihh..baik banget sih Om,makasi banyak ya Om." Ucapnya dengan senyum.
"Rumah kamu gak jauh kan dari sini?"
"Gak ko,kurang dari 10 menit.nanti aku fotoin deh gerbang rumah ku."
"Ok.."
Adakah yang tau,Burhan kenal gak sama Arga? Hayooo.....
Kolom komentarnya terus isi ya,biar Author semangat lagi nulisnya.
Likenya juga di tekan.
Bunganya juga di tebar,puasa niih..tebar kebaikan. 😁🙏.pahalanya berlipat.
Yang punya Vote,boleh juga bagi Vote nya .
__ADS_1
TERIMAKASIH 💋💋💋🙏