
"Kenapa Papah nggak nyuruh Vania aja yang deketin di Tristan? kenapa harus aku? mending kalau yang digoda masih muda, cantik, ini malah mantan ibu tiri."
Daniel tidak berhenti menggerutu atas perintah Pak Burhan yang menurutnya tidak masuk akal, bahkan sangat menjijikan.
"Kalau Vania yang deketin Tristan, mau kamu diamuk si Arga? habis kamu dibantai sama dia," ujar Pak Herlambang.
"Kalau gitu, kenapa bukan papah aja yang deketin tante Jehan?" kata Fiona ikut mencari jalan keluar, dan langsung disambut antusias oleh Daniel.
"Brilian, Sayang. Ide bagus."
Keduanya saling melempar senyum penuh arti.
"Kenapa harus suami ku?" kali ini Bu Inez yang melayangkan protes keras, karena tidak ingin sang suami kembali berkomunikasi dengan mantan istrinya yang licik itu, sedang Pak Burhan yang merasa bahagia atas protes yang dilayangkan sang istri, Pak Burhan pun tersenyum bahagia sambil menautkan kudua alisnya ke atas.
"Bangga banget dia." ejek putranya sendiri.
Mereka terus berdebat memperdebatkan siapa yang akan mendekati salah satu dari ketiga pengganggu itu.
Daniel tetap menolak perintah sang ayah yang memintanya untuk mendekati Jehan, begitu pun dengan Pak Burhan yang tidak mendapatkan izin dari sang istri.
__ADS_1
Apa lagi Vania. Arga lebih baik memilih mati, dari pada harus menyerahkan Vania kepada musuhnya sebagai umpan.
Siang Hari, Bu Inez sedang mengawasi petugas memasang CCTV disetiap sudut ruangan, kecuali kamar mereka.
"Rumah sebesar ini baru dipasang CCTV, Nyonya?" kata petugas itu sambil memasang CCTV di area dapur, sedang Bu Inez bersama Pak Burhan berdiri sambil memperhatikan kerja mereka.
"Dulu sempat ada, cuma nggak sebanyak ini sih," ujar Bu Inez.
"Tapi semua CCTV dimatikan oleh Jehan, supaya kebusukan dia tidak diketahui oleh siapapun," sela Pak Burha.
"Oh ya?" ucapnya terkejut.
"Dulu aku terlalu mencintai dia, sampai-sampai aku mengabaikan semua pengaduan anak-anak tentang kebusukannya. Termasuk CCTV ini," jelas Pak Burhan.
"Ruang kerja, Pak?" tanya petugas itu.
"Di sana gak usah," saut Pak Burhan.
Setelah memasang CCTV disetiap sudut ruangan, petugas itu pun pamit, lalu Bu Inez juga Pak Herlambang pergi ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Kenapa di ruang kerja nggak dipasang CCTV?" tanya Bu Inez sambil berjalan menyusuri setiap sudut memperhatikan sekitar ruang kerja sang suami memeriksa apa saja yang ada di sana.
Dia berhenti di satu lukisan keluarga yang begitu indah, di mana di dalamnya terdapat wanita cantik naan anggun duduk diantara kedua putra putrinya.
"Ini mending istri mu?" tanya Bu Inez terus menatap lukisan itu.
"Iya, Sayang."
Pak Burhan mendekat, lalu memeluknya dari belakang. "Kenapa? kamu nggak suka ada lukisan itu di sini? kalau kamu nggak suka, aku bisa pindahkan lukisan itu ke tempat lain," ujar Pak Burhan yang tidak ingin membuat sang istri merasa tidak nyaman dengan lukisan masa lalunya.
"Biarkan ini di sini, biarkan menjadi kenang-kenangan kalian, ada kalanya kamu merasa rindu dengan mending istri mu, Mas. Dan dengan adanya lukisan ini, setidaknya rasa rindu mu sedikit terobati dengan menatap wajahnya di sini."
Pak Burhan tidak menyangka Bu Inez akan mengatakan itu, dia melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah sang istri penuh rasa kagum.
"Kamu istri yang luar biasa, Sayang."
Seketika itu juga, Pak Burhan langsung menyerang bibir Bi Inez dengan sebuah ci**an panas, mengangkat tubuh itu naik ke atas meja, lalu membuka satu-persatu kancing baju sang istri tanpa melepaskan cengkramannya.
"Mas..."
__ADS_1
"Aku akan memberi mu hadiah."