Scandal Cinta Om Arga

Scandal Cinta Om Arga
Part 33


__ADS_3

"Om..bau.."


Suasana romantis tiba-tiba lenyap begitu saja terbawa angin saat kata BAU terucap dari bibir yang baru saja ia ketahui rasanya. sangat manis.


"Khaahh.. " Arga sampai harus mengendus nafasnya sendiri. "Gak bau ko,Om udah gosok gigi tadi."


"Bukan itu,tapi bau gosong."


"Ya ampun Nia.." Kalau bukan karna tercium bau gosong,mungkin Arga tidak akan melepaskan pelukannya.


Arga berlari kocar-kacir saat menyadari masakannya telah habis di makan api,dan benar kan,semua masakannya masih berada di atas kompor yang menyala dengan api yang sangat besar,kepulan asap memenuhi dapurnya.


"Hati-hati Om." Teriak Vania dari kejauahan. Ia tertawa kecil saat melihat wajah panik Om-om yang sedang mengalami puber kedua itu.


"Kamu jangan ke sini."


"Siapa juga yang mau ke situ." Ucapnya pelan,ia berdiri jauh sambil memegang hidungnya.


Kebayang gak sih,seberapa lama mereka berciuman?sebelum tercium bau gosong,bukan cuma itu,keributan bahkan terjadi di meja makan,Arga menggeser piring yang sudah tertata rapih di atas meja makan,hanya untuk mendudukan Vania di atas sana.


Aah..posisi yang sangat pas. "Om mabuk ya?" Ucap Vania di sela-sela kegiatan yang mereka lakukan


"Nggak. Kenapa emang?"


"Kalau mabuk jangan deket-deket aku,nanti minta lebih."


"Ya nggak lah,kamu itu sangat Om jaga."


Vania sedikit mendorong tubuh Arga saat akan menyerangnya kembali. "Apanya yang menjaga? apa yang Om lakuin sekarang?"


"Cuma Kiss sayang."


"Cuma..?" Kata Vania.


"Aduuh...kenapa sih harus debat di saat seperti ini?" Kata Arga sedikit mengacak rambutnya frustasi.


Masih duduk di atas meja makan yang berantakan,Gadis itu tersenyum kecil,lalu menarik kerah Arga dan kembali melanjutkan kegiatan tadi yang sempat tertunda.


Nafas mereka saling memburu,sesekali mereka melepaskan ciumannya hanya untuk menghirup oksigen dalam-dalam,agar paru-paru mereka terisi kembali dengan oksigen.


Kejadian itu berlangsung cukup lama,yang mengakibatkan kepulan asap di dapur sangat pekat,dalam arti masakannya gosong se gosong-gosongnya.


"Kalu udah gini,kita makan apa?" Kata Vania sambil menatap makanan yang gosong itu,masih berada di atas wajan.


Ia merasa sangat lapar,semua cacing-cacing di dalam perutnya sudah berdemo meminta di isi oleh makanan. "Aku laper." Merengek.


"Nanti Om cari bahan masakan lagi." Ucapnya sambil membuang masakannya yang gosong ke dalam tempat sampah,setelahnya ia mencuci tangan,lalu membuka kulkas berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa ia olah untuk makan siang.


"Mie,telor?" Arga menoleh ke arah Vania.


"Gak apa-apa lah,dari pada harus masak. Lama." Ia berdiri di belakang Arga yang sedang mengambil 2 telur dan 2 mie rebus di dalam kulkas,lalu memasaknya,kali ini tidak ada kegiatan apa pun selain Vania menunggu di kursi sambil memainkan ponselnya,dia mengabaikan benerapa telfon dari Clara dan Daniel.


"Mau ngapain mereka?"


Cekroll lebih ke bawah,tidak ada pesan atau panggilan dari Whisnu. "Ke mana dia?" Bertanya sendiri.


Mie Rebus siap di santaaap... wangi in**mi tercium dari radius 10 kilo meter,Vania langsung memasukan ponselnya ke dalam saku celana.


"Ini punya kamu." Satu mangkuk Mie kuah ia letakan di depan gadisnya.


"Ini punya ku." Arga duduk di sebelahnya.


Akhirnya,bisa makan juga,ya..walaupun cuma mie rebus.


Selesai menyantap makan siang,yang kesorean itu,Vania memilih berkeliling melihat-lihat kemewahan apartemen yang sekarang sudah di miliki oleh Arga.

__ADS_1


"Kak Fiona betul-betul kasih apartemen ini buat kamu Om?"Tanya Vania tanpa menghentikan langkahnya yang terus berjalan menyusuri setiap sudut ruangan.


"Iya." Jawab nya singkat.


Terus berjalan,hingga ia menghentikan langkahnya di depan kotak kaca yang berukuran cukup besar yang terisi oleh piala kemenangan miliknya saat lulus SMA dengan nilai terbaiknya. "Om ini..?"


Selesai dengan kegiatannya di dapur,Arga menghampiri Vania yang saat ini sedang berdiri menatap piala yang ia simpan dengan baik. "Ini piala kamu sayang." Ia memeluk Vania dari belakang.


"Om sengaja simpen?"


Arga mengangguk. "Iya,dia selalu Om bawa,kemanapun Om pergi."


Arga menautkan dagunya di bahu Vania,sedangkan Vania terus memandangi pialanya. "Maafkan Om saat itu Nia,saat itu Om syok,dan benar-benar berfikir kalau Fiona benar-benar hamil anak Om."


"Seharusnya saat itu Om kasih penjelasan."


Arga memutar tubuh Vania hingga mereka saling berhadapan,saling menatap satu sama lain. "Saat itu Om dan Evan nyariin kamu sayang,tapi gak ketemu. Dan saat itu..kamu juga bohong kan sama Om tentang status kamu?" Tangan kekar itu tidak berhenti membelai puncak rambut gadisnya.


"Iya..Om benar. Maaf."


"Udah lah,jangan bahas masa lalu."


Vania tersenyum. "Karna kita sama-sama bohong? Tapi kebohongan Om keterlaluan."


"Iya..maaf,maaf."


"Oh iya.. sekarang malam minggu,jalan-jalan yuk."


"Malam minggu?" Vania mengernyit.


Arga mengangguk. "Iya."


Vania melepaskan tangan Arga yang melingkar di pinggangnya. "Antar aku pulang Om." Ia buru-buru mengambil tas yang ia simpan di sofa ruang tamu.


"Kenapa?"


"Om yang ajak jalan-jalan ko malah pergi sama Whisnu sih?" Arga mengikuti langkah Vania dari belakang.


"Aku lebih dulu membuat janji dengan kak Whisnu, Om." Ia memelirik jam di tangannya,30 menit lagi Whisnu akan menjemputnya di depan rumah,dan perjalanan menuju rumahnya membutuhkan waktu lebih dari itu.


Arga malah diam tak bergerak. "Om,ayo..antar aku." Ajak Vania yang saat ini sudah berada di depan pintu yang sudah terbuka lebar.


Menghela nafas dalam. Mau tidak mau,akhirnya ia mengantar Vania pulang. Sepanjang perjalann,tangan Vania terus ia genggam,sampai kesulitan hanya untuk mengangkat telfon saja. "Gimana mau angkat telfon? tangan ku."


Ponselnya terus berdering. "Om lepas."


"Masih ada tangan kiri kan?"


"Susah.."


"Bisa."


Dengan susah payah,ia mengangkat telfon dari pacarnya. "Kak.."


"Di mana Nia?"


"Aku di perjalanan."


"Masih lama?"


"Mmm..nggak sih,sekitar 10 menit lagi."


"Aku udah ada di depan rumah mu."


"Di depan rumah?" Ia melirik ke arah Arga sekilas.

__ADS_1


"Iya."


"Kakak masuk aja dulu,takut lama nunggu."


"Gak apa-apa,aku tunggu d luar aja,ngobrol sama satpam rumah mu."


"Baiklah. Sebentar lagi aku nyampe."


"Bay.. Muach.."


Vania terperanjak,ia langsung menoleh ke arah Arga.


Arga sedikit mengangkat bahunya. "Kenapa?" Tanpa bersuara.


"Iya..udah ya kak,tunggu."


"Ko gak di bales sih sun jauhnya." Ini kali pertamanya Whisnu bersikap seperti ini. Vania kebingungan.


"Gak mungkin kan di depan Om Arga?"


"Kamu lagi sama seseorang ya?"


"Aah..ng..gak ko kak."


"Ya udah,gak usah di paksain."


"Tunggu..tunggu."


Sekilas Arga menoleh ke arah Vania.


"Muach."


Sun jauh untuk Whisnu membuat Arga langsung menghentikan mobilnya di bahu jalan. "Cekiiit..." Ia langsung merebut HP Vania.


"Apa tadi?" Arga mengerutkan keningnya.


"Sun jauh." Ucapnya sedikit ragu.


"Buat siapa?"


"Buat kak Whisnu lah."


"Di depan ku?" Arga menunjuk hidungnya dengan telunjuk.


"Kenapa? dia pacar ku ko." Vania menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil.


"Lalu Om..?"




Kolom komentarnya terus isi ya,biar Author semangat lagi nulisnya.



Likenya juga di tekan.



Bunganya juga di tebar,puasa niih..tebar kebaikan. 😁🙏.pahalanya berlipat.



Yang punya Vote,boleh juga bagi Vote nya .

__ADS_1



TERIMAKASIH 💋💋💋🙏\*\*


__ADS_2