
"Jangan mengikuti perintah kak Daniel, kalau mau dia saja yang menggoda tante Jehan, Kenapa mesti kamu." Sepanjang perjalanan Vania menggerutu pasal siapa yang akan menggoda siapa.
Jelas diantara mereka tidak akan ada yang mau, dan masih menjadi perdebatan diantara mereka mencari cara agar tiga serangkai cecunguk itu tidak mengganggu keluarga besar Burhan Atmaja.
"Udah dong marahnya, tadi kan udah dikasih hadiah di parkiran," seloroh Arga, membuat ia terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Idih, apaan. Siapa yang tadi duluan nyosor?" ucap Vania dengan kening mengerut.
"Memangnya kamu tidak menikmatinya?" sela Arga terus meledek.
Ia memalingkan pandangannya ke arah lain, membunyikan wajahnya yang kini berubah merah jambu.
"Ayo ngaku, tadi siapa yang sampai merem melek." Tidak berhenti menggoda, Vania pun melayangkan protes sambil melempar kotak tisyu ke arahnya.
"Wis, jangan dibuang-buang, ini tisyu paling berjasa tau."
"Hubby, hentikan!" protes Vania saat Arga tidak berhenti menggodanya. "Awas aja kalau nanti malam minta lagi."
"Idih, dih. Ngancem."
Suasana yang sempat menegang, kini berhasil mencair hanya dengan obrolan ringan saja, hingga tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah.
Di tempat lain, saat ini Megan sedang melakukan perawatan diri di sebuh salon bersama ibunya Jehan, melepas kepenatan setelah cukup lama tinggal di dalam penjara, membuat tubuhnya sangat tidak terawat, ia bahkan sampai meluangkan waktu selama tiga jam untuk memanjakan diri di sebuah salon mewah, dengan paket lengkap.
"Kira-kira berapa biaya yang dihabiskan?" tanya Jehan kepada putrinya.
"Entahlah. Udah mamah nggak usah khawatir, om Tristan itu uangnya banyak, gak bakal habis tujuh turunan." Ia mengeluarkan kartu kredit untuk melakukan pembayaran, menyerahkan kartu itu kepada petugas kasir, mulai menghitung.
"Jumlah total yang harus dibayar sebayak dua puluh juta, Nyonya." kata penjaga kasir itu.
"Gila, sebanyak itu?" ucap Jehan berbisik di dekat telinga Megan.
"Udah deh, Mah. Nggak setiap hari ini."
Selesai melakukan pembayaran, mereka pun pergi ke mall untuk berbelanja pakaian dan lain-lain. Namun, setelah sampai di rumah, kehadiran mereka langsung disambut oleh Tristan yang kini tengah duduk di atas Sofa sambil menyilangkan satu kakinya di atas meja.
__ADS_1
"Dari mana?" tanya Tristan tanpa melihat ke arah mereka, pandangannya terus menatap ke depan layar televisi dalam keadaan mati.
"Habis perawatan di salon, lalu pulang," jawab Megan dengan entengnya, tanpa melihat raut wajah Tristan yang kini tengah menahan emosi.
"Lalu?" tanyanya lagi.
"Ke mall beli baju. Bajuku udah pada jelek." Nampak bisa saja, tetapi Jehan tau kalau saat ini Tristan sedang marah. Dia memilih naik ke lantai atas menuju kamarnya, dari pada menghadapi amarah Tristan yang sangat mengerikan.
Setelah beberapa menit berada di dalam kamar, terdengar suara terikan bersumber dari lantai bawah, tidak lama pintu itu pun terbuka sangat kasar.
"Brengsek!" pekik Megan begitu ia masuk ke dalam kamar.
"Kenapa? dihukum?" ejek Jehan yang yang kini tengah berbaring di atas sofa sambil memainkan ponselnya.
"Dasar sial, kenapa gue mesti punya om pelit kayak dia sih?" mendengus kesal seraya melempar tasnya ke atas tempat tidur. Dengan napas terengah-engah ia pun 'menghampiri Jehan, duduk di sebelahnya.
"Ngeyel sih," lanjut Megan.
"Lihat saja nanti, aku akan membuat Vania celaka, biar tau rasa si Tristan yang pelit itu."
Vania adalah senjata ampuh untuk menaklukkan kedua pria itu, ia mulai merencanakan sesuatu demi mendapatkan fasilitas mewah dari Tristan, juga Arga untuk menjadi miliknya.
Keamanan di rumah lebih diperketat walupun beberapa hari ini tidak ada kejadian yang mencurigakan selepas Megan bebas dari penjara.
Vania yang masih seorang mahasiswi salah satu Universitas ternama di Ibu Kota Jakarta, kini tengah berhias di depan cermin, seraya merapihkan baju yang ia kenakan, juga memperhatikan bentuk tubuhnya yang belum mengalami perubahan. "Apa perutku sudah terlihat buncit, Hubby?" tanya Vania terus memperhatikan perutnya.
Ia yang saat ini tengah mengancingkan kemejanya, menoleh ke arah Vania ikut memperhatikan bentuk tubuhnya. "Belum, memangnya kenapa?" tanya Arga masih mengancingkan bajunya.
"Aku ingin segera melihat perutku buncit, kalau seperti ini, rasanya aku ini tidak terlihat seperti ibu hamil. Bukan begitu?"
"Semua ada prosesnya, Sayang. Masa tiba-tiba membuncit, nanti dikira orang kamu bukan hamil, tapi masuk angin.
"Hubby," geram Vania.
"Lagian aneh-aneh aja deh," ucap Arga seraya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa tertawa? aku terlihat bodoh?" ia memutar tubuhnya, melihat ke arah Arga dengan menautkan kedua alisnya ke atas.
"Tidak, Sayang." Setelah rapi memakai pakaian kerja, Arga menghampiri Vania, lalu mengecup keningnya singkat.
"Kalau begitu kenapa kamu tertawa?"
"Karna kamu lucu," saut Arga seraya menangkup pipi Vania dengan kedua tangannya.
"Aku belum pernah hamil, dan masih banyak hal yang aku tidak tau."
"Seiring dengan berjalannya waktu, kamu akan memahami semua, Sayang," jelas Arga,
mengakhiri percakapan pagi, sebelum akhirnya Arga pun mengantar Vania ke kampusnya.
"Hubby, nanti kalau kamu sibuk, biar aku pulang naik taksi aja." Ia melepaskan sheetbelnya, lalu duduk menyamping hendak mengambil tas ranselnya di jok penumpang.
"Biar aku yang ambil," ucap Arga seraya meraih tas Vania di jok belakang, lalu menyerahkannya.
"Terima kasih, Hubby."
"Sama-sama, Nia Sayang."
"Ingat, kalau kamu sibuk, kamu tidak perlu menjemputku."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin," ucapnya seraya menangkup pipi Arga dengan kedua tangannya.
"Baiklah kalau begitu."
Setelahnya Vania pun keluar dari mobil, seraya melambaikan tangan saat mobil suaminya mulai melaju meninggalkan kampus.
Setelah mobil yang ditumpangi Arga tidak terlihat, Vania pun melangkah masuk ke dalam area kampus, tanpa ia sadari ada dua pasang mata yang kini tengah memperhatikannya dari kejauhan dengan senyum menyeringai.
"Aku akan mendapatkanmu."
__ADS_1