
"Gue nggak bisa, Daniel."
Arga menolak mentah-mentah perintah Daniel yang meminta ia untuk menggoda Megan, sebagai salah satu cara membuat tiga serangkai itu menjadi terpecah belah, sehingga memudahkan mereka untuk tidak mengganggu keluarga besar Pak Burhan.
"Yang disuruh Pak Burhan kan elo. Kenapa jadi gue yang kena?" tutur Arga.
Mereka yang saat ini sedang duduk di restoran milik Arga, nampak menikmati obrolan santai, sambil menunggu Vania yang katanya ingin sekali makan malam di restoran milik suaminya.
Daniel nampak menyeruput kopi miliknya sebelum kembali bicara mengenai perintah sang ayah yang meminta Daniel untuk menggoda Jehan.
"Dengerin gue adik ipar yang usianya lebih tua dari gue!" seloroh Daniel membuat Arga kesal tetapi ikit tertawa.
"Kampret gue punya kakak ipar yang gak tau sopan santun," ujar Arga sambil melempar buku menu yang kebetulan ada di atas meja, membuat Daniel tertawa terbahak.
Ha.
Ha.
Ha.
"Gini-gini juga gue Kakak ipar lo. Sopan lo sama gue!"
Arga kembali terkekeh ikut menyeruput kopi miliknya yang sudah setengah dingin, karena obrolan mereka yang tidak bermanfaat.
"Papah nyuruh gue deketin si nenek sihir Jehan, ya gue mana mau lah. Kalau bokap nyuruh gue deketin si Megan, baru gue mau. Secara kan di cantik, muda lagi," lanjut Daniel.
"Cantikan bini gue kemana-mana." ujar Arga dengan bangganya.
__ADS_1
"Iya lah, mau digaplok lo sama adek gue kalau lo bilang cantikan si Megan."
"Siapa yang bilang Megan cantik?"
Tiba-tiba Vania muncul ditengah-tengah obrolan mereka, sambil melipat kedua tanganya di dada, menatap wajah mereka secara bergantian dengan tatapan mengintimidasi.
"Sayang. Kamu udah datang?"
Arga bangkit dari duduknya hendak mencium sang istri tetapi malah mendapat penolakan.
"Whay Honey?" tanya Arga seraya meraih tangannya.
"Rasain lo," ejek Daniel.
"Kakak juga samanya, jangan pengaruhin suamu aku ke hal-hal yang nggak-nggak ya, Kak!"
"Kamu juga," tiduh Vania kepada sang suami.
"Ko aku? Kakak kamu tuh yang bilang Megan cantik."
"Kamu juga sama aja. Iihh..." ucapnya dengan memukul bahu sang suami dengan tasnya, lalu ia pun berlalu pergi, Arga mengikuti langkahnya dari belakang, seraya memanggil namaya.
"Honey..."
Vania tidak perduli. Ia terus berjalan cepat menuju parkiran mobil, dengan sigap Arga menangkap tubuh itu yang hendak membuka pintu di samping kemudi
"Hubby, lepasin aku!"
__ADS_1
Di yang memiliki otot kuat itu, dengan mudanya menggendong tubuh Vania, masuk ke dalam mobil sisi sebelah kanan.
"Aku yang mengemudi."
Lalu Arga segera masuk ke dalam sisi kemudi, mengunci otomatis semua pintu, sehingga Vania tidak bisa kemana-mana lagi.
"Aku mau turun!"
Arga yang tau harus berbuat apa demi menenangkan emosi sang istri, langsung menyerang bibir Vania tanpa aba-aba, sehingga yang diserangpun hanya bisa pasrah, dan terus menikmati setiap kenikmatan yang Arga berikan.
Vania memukul dada sang suami, setelah Arga melepaskan cengkramannya, tetapi dalam hati ia mengutuk diri sendiri yang dengan mudahnya luluh hanya dengan satu sentuhan saja.
"Iihh..nyebelin."
Arga terkekeh, menyeka bibir Vania dengan jarinya.
"You'r the one, nggak ada yang lain lagi," ungkapnya sambil membuka rel sleting Vania, menurunkannya sampai bawa, mengusap lembut punggung sang istri bahkan sampai ke bawah.
"Hubby..."
"Mumpung parkiran sepi," ujar Arga membuat Vania terkekeh, seraya memukul dadanya. Pergulatan singkat pun terjadi.
Like komen yang banyak ya, nanti aku lanjut lagi 🥰
__ADS_1