
"Hubby. Ada apa?" tanya Vania setelah Arga kembali.
Arga pun masuk ke dalam menghampiri Vania. "Gak apa-apa, Sayang."
"Bohong." Vania tidak percaya dengan melihat raut wajah Arga seperti menyembunyikan sesuatu.
"Nggak, Sayang... aku gak bohong. Makan siang yuk! laper nih," ajak Arga seraya meraih tangan Vania. Namun, Vania langsung mengibaskannya.
"Nggak. Aku mau kamu jujur dulu, apa yang kamu sembunyiin dari aku?" kekeh.
"Nia. Gak ada yang aku sembunyiin, serius."
Arga terus coba meyakinkan Vania agar tidak curiga.
"Aku gak mau kamu melakukan hal yang berbahaya di belakang aku, Hubby. Kamu sama kak Evan sedang merencanakan sesuatu kan?" tegas Vania.
"Gak ada. Kita hanya membicarakan masalah restoran, Sayang..."
"Kalau masalah restoran, kenapa harus kamu sembunyiin dari aku?"
"Aku gak mau kasih kamu beban, aku takut kamu kepikiran."
Vania diam hampir meneteskan air mata.
"Ayo lah, Sayang. Kamu jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting, cukup jaga kesehatan kamu dan bayi kita. Ok?" ucapnya seraya menagkup pipi Vania dengan kedua tangannya, lalu Vania pun memeluk Arga.
"Jangan berbuat konyol di belakang ku!"
"Siap Bidadari ku."
"Jangan meninggalkan aku secara diam-diam lagi!"
"Iya."
__ADS_1
Sekalipun Arga mengiyakan permintaannya, Vania tetap merasa takut. Takut Arga akan berbuat sesuatu tanpa sepengetahuan dirinya.
Malam pun tiba. Sedang asik menyaksikan acara televisi bersama sang istri, diam-diam Arga mengirim Evan sebuah pesan.
Tak lama ia pun mendapat balasan. "Ok. Gue tunggu di depan."
Hari semakin larut, tak lama Vania pun tertidur dalam dekapan Arga. Setelah memastikan Vania tertidur pulas, Arga memindahkan Vania tidur di atas ranjang, lalu ia pun bersiap-siap pergi bersama Evan untuk mencari keberadaan Satya.
Mengenakan jaket kulit berwarna hitam, Arga pun keluar secara mengendap-endap menemui Evan yang sudah cukup lama menunggu di depan rummah.
Mereka pergi menggunakan motor trail milik Evan, menuju Apartemen tempat tinggal Tristan bersama Jehan.
Dengan keahlian yang mereka miliki, akhirnya mereka pun berhasil masuk ke dalam secara diam-diam, mencari apa pun untuk dijadikan bukti kejahatan Tristan.
Ia menggeledah semua tempat, membuka semua laci, lalu tiba-tiba lampu utama menyala.
Prok.
Prok.
Prok.
"Sial." Arga mendengus kesal.
Dengan penuh keberanian Tristan berjalan menghampiri Arga, diikuti Jehan dari belakang.
"Kita gak perlu susah-susah nangkep orang ini, Tante. Tante liat kan, dia sendiri yang datang ke rumah kita." sungut Tristan menatap puas.
"Kalau rajanya saja sudah berada di dalam perangkap, kira-kira bagaimana dengan yang lainnya? sangat mudah bukan untuk kita habisi mereka?" kata Jehan, yang langsung mendapat teriakan dari Arga.
"Hei... "
Arga langsung menyerang Tristan, lalu. " Jdeer..."
__ADS_1
"Arga...!"
Dengan deru nafas yang memburu Vania pun terbangun dari tidurnya, dan langsung mencari keberadaan Arga yang sudah tidak ada di sampingnya.
"Mah. Bangun, Mah."
Vania berteriak di depan pintu kamar Bu Inez, lalu Bu Inez pun keluar dari kamarnya.
"Vania. Ada apa?"
Vania menangis lalu memeluk Bu Inez.
"Mamah. Suamiku gak ada."
Hiks.
hiks.
hiks.
"Gak ada gimana?" tanya Bu Inez kebingungan.
"Arga pergi, Mah. Dia dalam bahaya."
Terus Vania menangis dalam pelukan Bu Inez, kepanikan semakin terasa saat nomer handphone Arga tidak bisa dihubungi, begitu pun dengan nomer handphone milik Evan.
"Hubby... Kamu di mana?"
Respon kalian adalah semangat Author untuk kembali menulis. Ditunggu ya 🤗😘
__ADS_1