
Mohon maaf atas kebingungan nama yang berubah.
Tristan bukan tokoh baru, tetapi tokoh satya yang saya rubah menjadi Tristan karena, ada kesalahan nama tokoh di beberapa BAB dan saya sudah koreksi semuanya.
So, jadi Tristan itu adalah Satya ya, readers sayang 🙏.
Happy reading.
Saat melihat ada Evan di sana, seketika raut wajah Vania berubah masam. Bukan karena tidak suka, hanya saja setiap kali mereka bertemu diluar jam kerja, selalu saja ada hal lain yang mereka sembunyikan dari Vania.
"Ngapain Kakak ke sini?" tanya Vania sambil turun dari pangkuan Arga, lalu berdiri membentengi sang suami dari jangkauan Evan.
"Gini-gini amat sama gue, Nia. Gue gak bakal ngerebut Arga dari lo. Gue normal kali ciiin.." ucapnya dengan melambaikan tangan, menautkan rambut ke belakang telinga, bersikap seperti wanita, membuat Arga geli sendiri melihatnya.
"Idih, amit-amit gue punya temen kayak lo," sungut Arga saat melihat laga si Evan seperti perempaun.
"Jangankan elo, gue aja geli kali."
Ha.
Ha.
Bu Inez yang juga ada di sana, ikut tertawa melihat tingkah Evan, tetapi tidak dengan Vania yang terlihat lebih serius takut sang suami melakukan hal yang tidak diinginkan, tanpa sepengetahuannya lagi.
"Aku ngobrol dulu sama Evan ya, Sayang," ucapnya sambil memegang bahu Vania dari belakang.
"No, Hubby. Ikut sama aku ke kamar." Vania langsung menarik tangan Arga, tetapi di cegah oleh Pak Burhan.
"Arga," panggil Pak Burhan yang baru saja datang.
Seketika langkah mereka pun terhenti, Vania juga Arga menoleh ke belakang.
"Papah.."
"Kalau papah yang minta, boleh dong papah ngobrol dulu sama Arga."
Vania menoleh ke arah sang suami, menatap penuh kekhawatiran, lalu kembali menatap sang ayah.
"Boleh kan?"
"Nggak. Papah sama Kaka Evan sama aja. Kalian selalu merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan aku," tegas Vania tanpa melepaskan tangan sang suami dari genggamannya.
"Repot, mending gue di restoran aja, Ga," saut Evan.
"Iya, itu lebih baik. Sana Kakak ke restoran, kenapa dibiarin kosong nggak ada orang?"
"Ya ampun, Ga. Galak banget bini lo."
Arga hanya bisa tertawa. "Mangkanya yang sopan sama bini gue."
"Ampun, Nyonya."
Arga memberikan kode kepada Pak Burhan untuk membiarkan ia ikut dengan sang istri ke kamar, dan akan menemui mereka setelah satu jam.
__ADS_1
Pak Burhan mengangguk setuju, Arga bersama Vania naik ke lantai atas, sedang Pak Burhan bersama Evan menunggu di ruang kerja, sedang Bu Inez masuk ke dalam kamarnya.
"Pokonya aku nggak mau kamu terlibat lagi dengan masalah Tristan, Megan, juga tante Jehan," tegas Vania menolak keras sang suami terlibat misi berbahaya lagi.
Vania berdiri di atas balkon, sambil menatap jauh ke depan dengan perasaan marah, lalu Arga menghampirinya, memeluk dari belakang.
"Sayang. Kalau kita tidak segera mengambil sikap, Tristan dan anak buahnya gak akan berhenti mengganggu keluarga kita." Arga coba memberi pengertian secara perlahan, berharap sang istri mengerti.
Vania menangis. "Aku bilang nggak, ya nggak." Suara Vani membentak, melepaskan tangan Arga yang melingkar di perutnya.
Vania mulai menangis, Arga yang tidak tega melihatnya, kembali membawa sang istri ke dalam pelukannya, mengusap puncak rambutnya yang sedikit berantakan.
"Jangan pergi, aku nggak mau."
Hiks.
Hiks.
Hiks.
"Iya, Sayang. Aku nggak akan pergi, aku di sini sama kamu."
Vania semakin mengeratkan pelukamnya, dia sama sekali tidak ingin terpisah walaupun hanya sebentar.
Cukup lama menunggu, Akhirnya Arga pun menemui mereka di ruang kerja Pak Burhan.
"Gimana Vania? dia izinin kamu" tanya sang mertua setelah Arga masuk ke dalam, duduk di sebelah Evan.
"Sudah ku duga," saut Pak Burhan.
Mereka hanya bisa menghela nafas dengan rencan yang kemungkinan akan gagal dilaksanakan, dan akhirnya Pak Burhan pun memutuskan kalau misinya akan tetap berjalan walau tanpa Evan juga Arga.
"Apa anda yakin, Pak?" tanya Arga.
"Saya tidak terlalu yakin. Tapi, dengan diam pun kita tidak akan mendapat apa-apa." pikir Pak Burhan.
"Saya rasa kita jangan terlalu gegabah mengambil keputusan, Pak. Dan menurut saya, Tristan dan anak buahnya tidak akan menggangu kita."
"Bagaimana kamu meyakini itu, Arga? putri ku dalam bahaya," kata Pak Burhan sangat khawatir dengan keselamatan putri tercinta.
"Tristan sangat mengingikan Vania, dia tidak akan menyakiti Vania," ucapnya penuh keyakinan.
"Vania mungkin gak bakal kenapa-napa, Ga. Tapi, si Tristan itu ngincernya elo," sela Evan memotong pembicaran.
"Apa yang Evan katakan itu benar, Arga. Kamu target sebenarnya," kata Pak Burhan membenarkan ucapan Evan.
"Elo kayak nggak tau gue aja, lo ragu sama ilmu bela diri gue?" kata Arga mendengus.
"Lo lupa gue pernah numbangin berapa orang waktu kita hidup di jalanan?"
__ADS_1
"Heh, kampret. Ngadepin orang berotot, sama orang berduit itu beda. Kita harus pake trik." sungut Evan sambil menujuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuk.
"Yang dikatakan Evan benar, kita harus punya trik," lanjut Pak Burhan.
"Maka dari itu, kita jangan nyerang mereka duluan, Pak. Bisa-bisa kita yang terjebak perangkap mereka," saut Arga.
"Tumben otak lo cair akhir-akhir ini." Arga bicara kepada Evan, membuat Evan merasa bangga pada diri sendiri dengan menggerakkan kedua alisnya ke atas, juga senyum kebanggan.
"Gak usah kegirangan, cuma kadang-kadang."
Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya mendegar ucapan sahabat seperjuangannya sejak dulu, hingga sampai pada saat ini masih tetap bersama.
Tok.
Tok.
Terdengar suara ketukan pintu di depan, Pak Burhan pun mempersilahkan masuk.
Pintu itu terbuka, berdiri seorang ART memberi tahu Pak Burhan kalau Daniel bersama dengan keluarga kecilnya sudah sampai setelah menempuh perjalanan udara berjam-jam menuju Indonesia.
Pak Burhan mengakhiri pembicaraan hari ini, dan keputusan akhirnya adalah menunda semua rencana, lalu mereka menemui Danail.
"Pah." Daniel menyapa begitu melihat sang Ayah keluar dari ruang kerjanya bersama Arga, juga Evan.
Dia yang sudah lama tinggal di luar negeri, baru bisa kembali ke Indonesia setelah beberapa hari mendapatkan kabar dari sang ayah mengenai adik tersayangnya.
Dia datang bersama dengan Fiona, juga putrinya yang bernama Sofia yang saat ini sudah berusia empat tahun.
Begitu melihat Arga, Sofia langsung berlari memeluknya sangat erat, karena bagaimana pun, Arga pernah menjadi ayahnya.
"Daddy.."
"Putri, Daddy."
Much.
Mencium puncak rambut Sofia penuh kasih sayang, juga kerinduang yang cukup dalam. Arga sudah menganggap Sofia seperti putrinya sendiri, mengingat dulu mereka pernah tinggal bersama.
"Daddy, kenapa tidak menghubungi ku?" kata Sofia sambil mendongakan kepalanya ke atas, juga bibirnya yang mengerucut membuat Arga merasa gemas, lalu mencium pipinya.
"Daddy sibuk, Sayang."
Arga menggendong Sofia, membawanya duduk di sofa bersama Fiona, Pak Burhan, juga Bu Inez, mereka saling berbincang.
Lapas.
Di depan pintu gerbang setinggi lima meter itu, terdapat dua orang sedang berdiri menunggu seseorang keluar dari sana, menyambutnya sangat antusis.
"Mah."
"Sayang. Akhirnya, kamu bebas juga." kata Jehan kepada putrinya Megan, mereka saling berpelukan bahagia.
"Terima kasih ya, Mah, Om Tristan."
"Hhmm. Dan sekarang bukan waktunya berleha-leha. Sekarang, waktunya kita beraksi."
"Kita bicarakan hal ini di apartemen."
__ADS_1
"Baik, Om."