
Di tempat lain,Vania yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan cara mengendap-endap,langsung mendapat kejutan berupa sapaan sinis dari saudara tirinya. "Heh.."
Vania mengerjap kaget.
"Dari mana lo?" Tanya megan yang saat ini sedang duduk di kursi meja makan dengan segelas minuman beralkohol di tangannya.
"Udah pulang dia."
Megan baru saja pulang dari kota paris,setelah lebih dari satu bulan ia menghabiskan waktu liburannya di sana,yang kebetulan Tristan selaku adik sepupunya juga memang tinggal di sana,pria yang pernah akan di jodohkan oleh Jehan dengan Vania.
"Gue tanya dari mana?" Kembali Megan bertanya dengan nada membentak.
"Bukan urusan lo." Sebisa mungkin Vania menghindari pertengkaran dengan Megan,baginya hanya membuang-buang waktu dan tenaga saja.
"Songong tuh anak." Tidak terima dirinya di abaikan,ia pun bangkit dari duduknya menghampiri Vania yang sudah cukup jauh melangkah naik ke lantai atas. "Heh.."
Ia menghentikan langkahnya,tanpa menoleh ke belakang.
"Lo itu bisu? Tuli? Atau keduanya?" Kata Megan lantang,ia berani membentak karna Burhan sudah tertidur lelap dalam pelukan mamah Jehan.
Vania memitar tubuhnya malas. "Mau lo apa sih? Gue cape,gak ada waktu buat ladenin lo." Kata Vania kesal.
"Jawab pertanyaan gue,lo dari mana?" Kembali membentak.
"Dan sekali lagi gue tegaskan ya Megan sanika,itu.. bukan..urusan lo." Vania terus menaiki anak tangga,berusaha tidak perduli dengan semua ocehannya.
"Ok,kita liat besok,apa lo masih bisa aman setelah gue aduin ke papah kalau lo pulang larut malam?"
Tidak perduli,ia terus berjalan menuju kamarnya,dan Megan tidak ada hentinya mengancam Vania dengan berbagai macam ancaman.
"Sialan."
Keesokan harinya,saat keluarga Atmaja sedang menikmati sarapan nya,tiba-tiba bi Narmi menghampiri Vania lalu berbisik. "Di luar ada tamu non."
Vania menoleh ke arah bi Narmi. "Tamu ku?"
Bi Narmi mengangguk. "Iya non."
"Lagi makan bi,nanti aja bicaranya." Kata Jehan tegas.
"Oh..iya nyonya,maaf." Ia pun melangkah mundur lalu meninggalkan ruang makan.
"Siapa?" Gumamnya.
Selesai sarapan,Vaniapun keluar menemui orang itu. "Di mana tamunya bi?" Tanya Vania saat tidak mendapati siapapun di ruang tamu.
"Masih di luar non,nyonya Jehan melarang tamu non masuk."
"Sialan tuh nenek sihir."
Vania keluar,ia melihat mobil yang tertinggal di Restauran Arga sudah terparkir di tempatnya. "Mobil ku? Om Arga di sini."
Setengah berlari ia menghampiri pos satpam,siapa tau dia masih nunggu di sana,dari luar sudah terlihat hanya ada pak Ucup,tidak ada siapapun. "Pak.."
Pak Ucup berdiri. "Iya non?"
"Tamu saya mana?"
"Oh..tamu non,barusan aja pulang."
"Ko di suruh pulang sih?"
"Saya gak nyuruh pulang non,dia..." Belum selesai bicara Vania sudah berlari keluar gerbang berusaha mengejar Arga.
Ia melihat Arga baru saja menyebrangi jalan. "Om.." Ia berteriak.
Arga menoleh lalu melambaikan tangan dengan senyum.
Vania memberi isyarat dengan tangannya seolah mengatakan,tunggu aku ke situ."
"Gak usah Nia,biar Om yang ke sana." Teriaknya dari sebrang.
__ADS_1
Vania diam menunggu di tepi jalan,Arga kembali menghampirinya. "Ko gak masuk sih Om?" Katanya.
"Kan cuma anterin mobil."
"Seenggaknya masuk dulu dong."
"Takut ganggu."
"Iisshh..pasti nenek sihir itu kan yang nyuruh Om pulang?
"Nggak.." Sautnya lagi sambil mengusap puncak rambut Vanai.
"Ayo ah masuk.." Gak perlu nunggu dia jawab mau atau nggak,Vania langsung menarik tangan Arga masuk ke dalam rumahnya.
Melewati pak Ucup yang bersiap siaga di depan pos. "Masih ada tamunya non?"
"Lain kali,kalau ada tamu ku,kalau aku belum ke luar,jangan di izinin pulang."
"Pak Ucup gak nyuruh pulang ko non."
"Tapi ini,kalau aku gak ngejar pasti udah pulang."
"Tapi.."
"Gak usah tapi-tapian." Vania terus menarik tangan Arga untuk masuk ke dalam rumahnya,setidaknya hanya untuk menikmati secangkir teh,atau kopi panas sebagai rasa terimakasih karna sudah mengantarkan mobilnya.
Vania meminta Arga menunggu di ruang tamu,sementara ia membuatkan minum. "Tunggu di sini ya Om,aku buatin minum."
Menggangguk. "Ok."
Keduanya terkejut,Arga langsung bangkit dari duduknya menatap tak percaya,begitu pun dengan Burhan,yang juga tidak menyangaka kalau ia di pertemukan lagi dengan pria yang dulu pernah di perkelankan putrinya sebagai calon suami.
"Arga..?" Kata Burhan untuk lebih memastikan.
Arga diam tak mampu berkata. "***Apa ini? dia kan ayahnya Megan?dan Vania juga adiknya***?" Masih menatap tak percaya.
"Kalian udah kenal?" Kata Vania setelah menyimpan dua cangkir yang sudah terisi kopi itu di atas meja
"Kenal dong,dia kan calon suami kakak mu,Megan." Kata Burhan.
"Calon suami?" Vania mengerutkan keningnya.
"Nia.." Belum sempat menjelaskan,tiba-tiba Megan hadir di antara mereka yang sedang kebingungan.
"Ada apa sih? rib..." Ucapannya mengambang di udara saat melihat Arga berada di depan mata.
"Arga..?" Megan langsung menghampiri Arga,dan memeluknya erat-erat. "Kemana aja kamu..? aku rindu." Kata Megan yang langsung bersandiwara di depan sang ayah.
"Ada apa sih sebenarnya?" Vania semakin di buat pusing dengan keadaan.
"Bisa kalian jelasin?"
"Nia,dia Arga calon suami ku.." Kata Megan dengan bangganya.
"Calon suami?"
__ADS_1
"Iya nak,calon suami kakak mu." Timpal Burhan.
Arga menggelengkan kepalanya. "Tidak Nia,Om bukan calon suami Megan." Berusaha menjelaskan.
"Megan,kamu berbohong sama ayah?" kali ini Burhan yang bertanya pada Megan.
"Aku gak bohong pah."
"Arga,mengaku calon suami gue lebih baik,dari pada lo ngaku sebagai cowok bayaran,cepat bilang." Ucapnya setengah berbisik di telinga Arga.
"Om,jelasin semuanya.ada hubungan apa kalian?"
"Nia.." Berusaha meraih tangan Vania,namun segera ia menjauhkan tangannya dari jangkauan Arga.
"Jelasin Om."
"Ok,Om jelasin."
"Lepas Megan." Arga mengibaskan tangan Megan dengan kasar.
Megan Tercengang.
"Saya akan menjelaskan semuanya. Saya..." Sempat berfikir akan berkata jujur atau kembali berbohong? dari kedua sisi tidak ada pilihan yang bisa menguntunhkan dirinya,hingga ia kembali membuka suara. "Saya bukan calon suami putri anda tuan."
"Arga.." Megan berusaha mencegahnya untuk tidak berkata jujur.
"Diam Megan,tidak akan ada kebohongan lagi,apa lagi di depan Vania,aku akan mengatakan yang sebenarnya."
"Saya.. Pria.. Bayaran yang di sewa putri anda Megan,untuk menemani dia bersenang-senang."
Vania semakin mengerutkan keningnya.
"Termasuk menjadi calon suami bohongan?" Kata Burhan.
Arga mengangguk. "Iya." Ia mengucapkannya sambil menatap wajah Vania yang sedang kebingungan,bercampur emosi.
"Dia bohong pah,dia benar calon suami ku. kita bahkan sudah melakukan hubungan suami istri."
"Megan.." Suara Arga membentak.
"Mengakulah Arga."
Vania melangkah mundur,sudah cukup penjelasan mereka,semua di penuhi dengan kebohongan. "Muak,aku muak dengan kalian."
"Nia..aku tidak melakukan apapun."
"Aku marah bukan karna aku cemburu Om,aku marah karna Om tidak ada habisnya berbohong pada ku,Om anggap aku ini apa? aku boneka yang tidak punya perasaan? atau cuma mainan buat kamu?"
"Nia,Om benar-benar tidak melakukan apapun dengan Megan,apa lagi berhubungan badan."
"Vania,kita sudah melakukannya beberapa kali."
"Plak.." Kali ini Burhan menampar pipi Megan sangat kencang.
"Papah?"
"Om keterlaluan."
__ADS_1