Scandal Cinta Om Arga

Scandal Cinta Om Arga
Part 28


__ADS_3

Setelah cek Drive,Evan menyerahkan kunci motornya pada Whisnu. "Udah beres nih."


"Sip."


"Aku bayar dulu ya,kamu tunggu di sini." Bicara pada Vania.


Vania mengagguk.


Kembali Evan memanfaatkan kesempatan yang ada saat Whisnu pergi ke kasir untuk membayar tagihannya. "Mana no telfon lo?" Pinta Evan yang sudah siap mencatat di telapak tangannya,karna Hp miliknya mati kehabisan batre.


"Buat apa?" pertanyaan seolah tidak suka.


Evan menghela nafas dalam dan melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mencurigai obrolan mereka. "Nia..gue itu udah nyariin lo hampir setaun,masa iya sekarang lo udah di depan mata mesti gue lepas begitu aja?" Kata Evan.


"Isshh...emang aku ini burung yang kabur dari sangkarnya apa?" ia melipat kedua tangannya di dada dengan expresi malas. "Lagian ngapain coba nyariin aku,kita udah gak ada urusan lagi kak."


"Jangan kayak gitu dong,urusan lo dulu sama Arga,buka sama gue,ko gue kena juga."


"Karna kalian itu sama."


"Ceek.. Enak aja,gue mah setia sama satu pasangan,pacar gue sampe saat ini masih si Aura."


"Bodo."


"Hadeuuh..." Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Udah,buruan mana no HP lo. Atau.. gue tanya Whisnu aja langsung."


"Ngancem?"


"Habis lo kalau gak di ancem susah sih."


Melihat Whisnu berjalan ke arahnya,buru-buru ia menyebutkan no telfonnya,dan Evan mencatat langsung di tangannya. "Bocil." nama yang ia tulis.


"Bocil? kebiasaan." Kesal.


"Besok gue hubungin lo,awas kalau gak di angkat."


Tak lama Whisnu pun datang,dan Evan melangkah mundur. "Ayo tuan putri ku.." ajak Whisnu pada Vania.


Vania mengangguk. "Ayo."


Semua berjalan sempurna,Whisnu mengajak Vania berkeliling menikmati indahnya malam kota Jakarta.


Sangat ramai,keramaian ibu kota jauh lebih baik daripada terus berada di dalam rumah bersama nenek sihir Jehan. "Menyebalkan."


Ia kembali melamun,menyandarkan wajahnya di belakang punggung sang kekasih. "Nia.." Panggil Whisnu sambil memegang tangan Vania yang melingkar di perutnya,dan tangan kanannya memegang kendali stir motor.

__ADS_1


"Kenapa kak?" Vania menautkan dagunya pada bahu Whisnu.


"Ko diem aja sih? kamu gak suka naik motor?" Kata Whisnu terus mengusap punggung tangan Vania.


"Ga apa-apa kak,aku lagi menikmati malam sama kamu." Saut Vania dengan senyum. Whisnu memutar kaca spion sebelah kiri dan mengarahkannya untuk melihat wajah cantik Vania. Ia menjulurkan lidahnya ke arah kaca spion,Whisnu hanya tersenyum melihatnya. "Sangat manis."


Sungguh kebersamaan mereka mampu membuat para jomblo penghuni bumi iri pada kemesraan mereka.


Aduh...sampe lupa sama yang lagi cemburu gara-gara ngurusin yang lagi bucin.


Setelah kejadian saat itu,Arga meminta beberapa staf khusus untuk membantu menyelesaikan beberapa proyek yang akan ia tinggalkan sebelum terbang ke Indo. "Mark,saya gak mau tau,minggu ini harus beres."


"Baik tuan." Mark selalu bisa di andalkan dalam hal apapun.


Perusahaan ini bukan miliknya,ia pun sudah bercerai dengan Fiona,hanya saja sekarang ia masih harus bersandiwara di depan mertuanya seolah mereka masih dalam ikatan pernikahan.


Setelah menemukan ayah biologis Shofia,ia berencana memberikan kembali harta milik Fiona,karna ia merasa tidak memiliki hak sedikitpun atas harta itu.


Satu minggu berlalu,hingga tiba saat di mana Arga dan Fiona melakukan perjalanan menuju Indonesia.


Tepatnya sore ini,mereka sudah menginjakan kakinya di salah satu Apartemen ternama ibu kota.


"Dua apartemen." Kata Arga,ia memesan dua apartemen dengan posisi bersebelahan,hidup terpisah tidak masalah bagi Fiona,karna priotitas utamanya kali ini adalah mencari keberadaan pria berengsek itu.


Arga dan Fiona sengaja ikut menghadiri acara tersebut dengan berpura-pura menjadi tamu undangan,dan akhirnya mereka berhasil masuk,bersama dengan Babysiter yang menggendong Shofia.


"Kita harus mendapatkannya malam ini." Arga berkata sambil berjalan masuk dengan menggandeng mesra tangan Fiona.


2 jam lamanya mereka berada di sana,belum juga melihat sosok laki-laki itu,mata Fiona terus berkeliling mencari keberadaanya,hingga pandangannya tertuju pada satu titik. "Arga.." mata Fiona terus menatap ke depan,agar tidak kehilangan jejak lagi.


"Ada apa?" Saut Arga


Fiona menunjukan jarinya ke arah pria yang sedang asik berkumpul bersama teman-temannya dengan di temani wanita penghibur di samping kanan dan kirinya. "Itu dia Ga,dia orangnya." Ucap Fiona menggebu-gebu.


"Yang mana?"


"Yang pakai kemeja biru,bagian lengannya di gulung sampai sikut,dia duduk sama cewek penghibur. Lihat kan?"


Arga mengangguk. "Iya,gue liat."


Tanpa berfikir panjang lagi,Arga menghampiri pria itu dengan emosi berapai-api,tangannya mengepal sangat kuat,dan siap menyerang siapapun yang berani melawannya. "Kali ini lo gak akan bisa kabur lagi berengsek."


Pria itu mendongakan kepalanya saat Arga berdiri tegak di hadapannya. Ia menatap tajam,karna kehadiran Arga sudah mengganggu kenyamanannya,ia pun bangkit dari duduknya. "Siapa lo?" pria itu mendorong tubuh Arga ke belakang,namun tak sedikit pun pertahanannya goyah.


Arga terus menatap tajam,tatapannya seperti seekor singa kelaparan yang sudah siap menerkam mangsanya. "Wah..ngajak berantem nih orang" Kata Evan,dengan nada meremehkan.

__ADS_1


Pria itu hendak menyerang,namun tangan Arga yang lebih siap,berhasil melayangkan pukulan tepat di pelipisnya,hingga ia jatuh tersungkur ke lantai,bahkan Arga tidak memberikan sedikitpun celah untuk pria itu melakukan perlawanan.


Arga terus menghajar pria itu tanpa ampun,perlawanannya di rasa percuma,karna tubuhnya sudah terkunci oleh Arga yang berada di atasnya,hingga ia sangat leluasa menghujani pria itu dengan pukulan.


Teman-temannya yang berada di sana tidak berani membela,mereka hanya menyaksikan perkelahian itu bak menonton pertunjukan.


Tak di sangka,datang seorang gadis pemberani masuk menerobos kerumunan,tanpa rasa takut ia memukul kepala Arga dengan botol minuman di tangannya."Praay..."


Arga terjatuh ke samping,lalu gadis itu memeluk pria yang sudah tak berdaya tergelak di lantai. "Kakak... Bangun.." Gadis itu menangis,ia menangisi pria yang ia panggil dengan panggilan kakak.


Tubuh Arga seketika lemas,jangankan untuk melawan,bahkan untuk berdiri saja sudah tidak sanggup lagi,saat ia melihat wajah gadis pemberani itu adalah gadis yang ia cintai selama ini. "Va..Vania...?"


Ya..dia adalah Vania,dan pria yang sudah tidak sadarkan diri itu adalah Daniel kakaknya,pria yang menghamili Fiona,pria pengecut yang lari dari tanggungjawabnya.


Bukan hanya Arga,Vania pun terkejut saat melihat Arga lah yang menghajar habis-habisan sang kakak. "Kamu..? Om Arga? kenapa? kenapa om memukul kakak ku?"


"Vania..aku.."


Belum selesai bicara Fiona datang menghampiri Arga dan membantunya untuk berdiri. "Cepat bangun Arga.. Sebelum polisi datang." Dan Arga hanya bisa diam menatap wajah Vania yang di penuhi dengan kebencian.


"Dia...wanita itu?" Batin Vania bergumam.


"Nia..dengarkan penjelasan ku." Arga merangkak menghampiri Vania.


Vania menggelengkan kepalanya. "Tidak om. Tidak ada penjelasan,aku tidak akan melepaskan mu."


"Scurity,amankan pria itu,jebloskan dia ke penjara." Titah Vania dengan emosi bergejelok.


"Vania..."




Boleh kali jempolnya di tekan.🤗🤗


LIKE


KOMEN


VOTE


Follow ya,supaya bisa bikin group chat,biar bisa ngobrol santai di sana.😁😁


💋🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2