Scandal Cinta Om Arga

Scandal Cinta Om Arga
Part 58


__ADS_3

"Apa kata mamah Inez?" tanya Vania.


"Gak apa-apa," saut Arga.


"Papah?"


"Aku gak tau, tadi kan ngomongnya sama bu Inez."


Arga berdiri di depan Vania dengan kedua tangannya memegang tepian ranjang besi, seperti ingin menunjukan kemesraan di hadapan Whisnu.


"Nia. Suami kamu udah dateng, aku pergi dulu."


"Oh iya, Kak. Makasi banyak."


Dengan sudut matanya Vania memberikan isyarat pada suaminya untuk mengucapkan terima kasih pada Whisnu. Arga pun menurutinya.


"Terima kasih, Whisnu," ucap Arga tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.


"Iya," jawabnya singkat. Whisnu pun pergi.


Setelah Whisnu pergi, Akhirnya Arga bertanya pada Vania kenapa sampai Whisnu ada di klinik dengannya.


"Kenapa?" tanya Arga.


"Aku muntah pas di kelas. Kebetulan kelas kak Whisnu belum selesai, dianterin deh ke klinik."


"Tadi juga sebelum kamu dateng aku masih muntah-muntah, kak Whisnu yang anterin aku ke toilet," lanjutnya lagi.


"Whisnu nganterin kamu ke toilet?" tanya Arga sedikit menekan.


Vania pun mengangguk. "Iya."


Arga menghembuskan nafas kasar lalu menunduk wajahnya ke bawah.


"Hubby...!"


Vania tau kalau saat ini suaminya sedang cemburu, dia memeluk Arga masih dalam posisi yang sama.


"Jangan cemburu, apa lagi berfikir yang aneh-aneh. Aku sama kak Whisnu gak ada hubungan apa-apa ko. Dia juga gak berusaha deketin aku?" kata Vania berusaha meyakinkan untuk membuat Arga tenang, lalu Arga membalas pelukan itu.


"Iya, Sayang."


"Pulang yuk, kita ke rumah mamah Inez."


"Ok."


Sepanjang perjalanan menuju kediaman sang ayah, Vania tertidur lemas efek perubahan hormon kehamilannya yang membuat ia harus mengalami muntah-muntah beberapa kali. Bahkan dalam perjalanan pulang pun Vania muntah lagi sebanyak dua kali, jelas hal itu membuat Arga semakin panik.


"Sayang. Kita ke dokter kandungan aja ya!" ajak Arga sesui dengan perintah Bu Inez.


Vania menggelengkan kepalanya. "No, Hubby. Aku mau ke rumah papah, pengen ketemu bu Inez."


Arga meraih tangan sang istri, lalu mengecupnya mesra.


Bu Inez sedang mempersiapkan kamar untuk Vania tempati, sedangkan pak Burhan berada di dalam ruang kerja sedang memeriksa email masuk yang ternyata terdapat satu email dari keponakan Jehan yang dulu sempat akan ia jodohkan dengan Vania.


"Anda sudah mempermainkan keluarga saya, Tuan Burha. Saya tidak akan tinggal diam atas semua perbuatan anda terhadap tante saya.


Pak Burhan tidak perduli dengan ancaman itu, lalu menghapusnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak kebahagiaan keluarga ini."


Tak lama terdengar suara Vania sedang mengobrol ringan dengan Bu Inez sambil berjalan menghampiri ruang kerja Pak Burha.


Jglek.


Suara handle pintu terbuka, lalu mereka bertiga pun masuk ke dalam.


"Mas," sapa Bu Inez. Pak Burhan pun berdiri menghampiri putri tercintanya.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Pak Burhan seraya memeluk mengusap punggung sang putri.


Vania mengangguk. "Baik, Pah."


Pak Burhan membawa Vania duduk di atas sofa bersama Bu Inez yang juga duduk di sebelahnya, sedangkan Arga duduk di single sofa sambil membawa tas milik Vania.


"Muntah-muntah?" tanya Pak Burhan.


"Iya, Pah. Lemes banget udah lima kali sampe siang ini."


"Itu belum seberapa. Waktu ibu kamu mengandung kamu, sampe dirawat loh tiga hari di rumah sakit," saut Pak Burha.


"Oh ya?"


"Iya. Berat badanya juga malah turun, bukan naik."


"Berarti aku nyusahin ibu waktu itu?"


"Itu sudah kodratnya perempuan, Sayang," sela Bu Inez memotong pembicaraan seraya mengusap puncak rambut Vania.


Vania merasa sedih saat Pak Burhan menceritakan perjuangan sang ibu saat mengandung dirinya. Ia meneteska air mata, terharu juga rasa rindu yang teramat dalam pada sang ibu yang sudah melahirkan, juga merawat dirinya sampai ia menghembuskan nafas terakhir saat Vania berusia sepuluh tahun.


Vania sangat menyayangi Bu Inez, Bu Inez benar-benar mampu menggantikan peran dari istri Pak Burhan yang sudah tiada, dia sangat menyayangi Vania, juga cinta tulus yang ia berikan untuk suaminya, membuat Pak Burhan tidak lagi merasa kesepian.


Hari berganti malam. Bu Inez memanggil dokter kandungan ke rumah tanpa sepengetahuan Vania, karena ia menolak untuk diperiksa.


Dokter yang dipanggil oleh Bu Inez baru saja tiba. Pak Burhan terkejut ternyata dokter yang di panggil sang istri ternyata masih muda, tampan, juga memiliki postur tubuh tinggi kekar.


"Hai," sapa Dokter itu cukup akrab, begitu pun dengan Bu Inez.


"Gimana kabarnya?" tanya Bu Inez.


"Baik. Kamu?" Dokter itu balik bertanya.


"Alhamdulillah, baik."


"Ini suami mu kan?" tanyanya lagi.


"Iya. Kenalin, Mas. Ini temen aku dari SMA, dia kakak kelas ku dulu," kata Bu Inez. Mereka pun saling berjabat tangan, memperkenalkan nama masing-masing.


"Burhan."


"Yuda."


"Siapa yang mau diperiksa?" tanya Dokter Yuda.


"Putri ku," saut Bu Inez.


"Oh.. aku fikir kamu, Nez."

__ADS_1


"Bukan. Aku kan baru nikah, masa langsung hamil aja."


Mereka tertawa ringan bersama, tetapi tidak untuk Pak Burhan, dia semakin khawatir melihat keakraban sang istri dengan Dokter muda itu.


"Awas saja kalau dia punya maksud lain," Batinnya bergumam.


Mereka bertiga menaiki anak tangga menuju kamar Vania. Sampai di depan kamar, Bu Inez mengetuk pintu kamar sampai beberapa kali namun tidak ada jawaban.


"Kemana Vania?" bertanya pada diri sendiri.


Tok.


Tok.


Tok.


"Nia..!" Kali ini Pak Burhan yang memanggilnya, tetap tidak ada respon.


"Aku gak ngeliat mereka keluar," kata Pak Burha.


"Aku juga nggak, Mas," saut Bu Inez.


Mereka saling menatap satu sama lain.


"Nia! Papah buka pintunya ya?"


Perlahan Pak Burhan membuka pintu kamar putrinya, dan tidak ada siapa pun di sana.


"Gak ada, Mas."


Pak Burhan, Bu Inez, juga Dokter Yoga masuk ke dalam kamar dan tiba-tiba terdengar suara ******* cukup keras di dalam kamar mandi.


"Aah.."


"The Plymount Rock Hard, Hubby..."


"Yah..."


Suara Vania juga Arga terdengar sangat jelas di telinga mereka, membuat Bu Inez cepat-cepat menarik tangan suaminya, juga Dokter Yoga keluar dari kamar Vania.


"Plak." Pak Burhan memukul lengan Dokter Yoga yang di pegang oleh sang istri.


"Maaf, Pak. Bukan saya yang megang tangan istri anda," protes Dokter Yoga.


"Tapi kamu keenakan," cetus Pak Burhan.


"Mas. Jangan marahin Dokter Yoga, aku yang narik tangan dia!"


Keributan kecil sedang terjadi diantara mereka bertiga, sedang Vania dengan Arga tengah menikmati percintaan mereka di dalam kamar mandi, mencoba berbagai macam jenis gaya yang mereka sukai.


"Hubby...!"




UP setiap hari. Tapi jempol nya selalu ditekan ya 😄. kolom komentarnya juga diisi 😄.


Jangan lupa bunganya juga ditebar 🤭.

__ADS_1


Maafkan daku yang banyak maunya ini 🤗🤗🥰🙏


__ADS_2