
Sudah lebih dari satu minggu Vania berada di dalam ruang ICU,dan selama itu juga Arga tidak pulang ke rumah,maupun ke apartemen,ia tetap setia menunggu di rumahsakit bahkan ia rela tidur atas kursi tunggu dekat ruang ICU. "Aku tidak akan meninggalakan kamu lagi cinta ku." Ucapnya menatap dari luar.
"Ga,mending kamu istirahat deh." Saut Bu Inez berusaha menggantikan jaga di Rumahsakit.
"Ngga bu,aku akan tetap di sini." Ucapnya tanpa menoleh,ia terus menatap sang istri di balik kaca yang cukup besar.
Inez menggelengkan kepalanya,lalu menepuk bahu Arga seraya menenangkan. "Ya udh terserah kamu,kamu yang sabar ya,Vania pasti baik-baik aja."
"Aku mau ke luar,mau pesan sarapan apa? nanti aku beliin." Kata Inez menawarkan diri.
"Aku belum lapar."
Inez duduk di kursi sambil mengikat rambutnya satu ke atas. "Senggaknya makan Ga,kalau sakit gimana?" Ucapnya mencoba memeperingakan.
Dari kejauhan,Arga melihat jari lentik Vania bergerak. "Nia ku? kamu menggerakan jari mu?"
Semakin di lihat,bukan hanya jari,tapi matanya mulai mengerjap berusaha untuk membuka. "Dia sadar..?" Ucapnya sedikit berteriak.
Inez berdiri dari duduknya,menghampiri Arga. "Kenapa Ga?"
"Bu Inez,cepat panggil dokter,istri ku siuman."
"Iya Ga,aku panggil dokter dulu."
Sementara bu Inez memanggil Dokter,Arga masih berdiri di depan kaca dengan wajah bahagia. "Istriku,cinta ku,kamu sadar? aku di sini sayang."
Arga tak kuasa ingin segera masuk,melihat sang istri sudah betul-betul membuka matanya,dan mulai berkomunikasi dengan dokter yang memeriksanya.
Dari kejuhan,nampak suster berjalan menuju pintu,Arga tau,kalau suster itu pasti akan memangilnya,ia berlari menuju pintu lalu masuk tanpa di persilahkan. "Hati-hati tuan." Kata suster itu memperingatkan.
"Nia sayang." Ingin rasanya ia memeluk tubuh Vania,tapi Dokter di sana mencegahnya.
"Jangan terlalu mengguncang tubuhnya."
"Aku hanya ingin menggenggam tangannya Dokter."
"Lakukanlah dengan lembut,kita belum memeriksa keseluruhan kondisi istri anda."
__ADS_1
"Iya,saya tau." perlahan Arga berjalan menghampiri sang istri,ia melihat Vania sudah membuka matanya,walau ia yakin,ia belum bisa melihat dengan jelas. "Istri ku."
Vania kembali mengerjap,berusah membuka matanya lebar-lebar. "Hu..Hubby." lirihnya sangat lemah.
"Cinta ku,aku di sini sayang." Arga menggenggam erat tangan Vania,yang terasa sangat dingin.
"Hubby,kamu di sini?" Kali ini suaranya sedikit kuat,ia bahkan menyunggingkan senyum manis di wajahnya yang pucat.
"Aku di sini sayang."
"Jangan pergi Hubby,jangan tinggalkan aku."
"Tidak Nia sayang,aku akan tetap di samping mu." Ia mencium tangan sang istri penuh cinta dan rindu.
"Hubby.."
"Iya sayang?"
"Mobil itu.." Vania menelan ludahnya kasar. "Mobil itu..berwarna biru metalik."
"Sayang..berhenti membicarakan mobil itu,jangan pikirkan apapun selain kesembuhan mu cinta ku."
"Gak ada yang perlu kamu takutkan aku sudah menangkap mereka."
Vania tersenyum. "Benarkah Hubby.."
Arga mengangguk. "Iya,"
"Hubby.."
"Iya sayang ku.?"
"Sakiiit.."
"Mana yang sakit sayang?"
"Kepala ku." Lirihnya,bukan hanya Arga,Dokter si sana pun mendengar keluhan pasien.
__ADS_1
Arga menoleh ke arah Dokter. "Bagaiman dok?"
"Itu akibat benturan keras di kepala tuan,kepala istri anda cukup kencang membentur benda tumpul,seperti trotoar,atau aspal."
"Tapi nanti saya resepkan obat bagus untuk meredakan nyeri di kepala istri anda." lanjutnya.
"Baik dok,terimakasih."
"Kamu dengar sayang?"
Vania mengangguk lemah. " Hubby.."
"Iya Nia sayang?"
"Peluk aku,aku rindu,jangan tinggalkan aku lagi Hubby." Vania mengatakan itu dengan sangat lirih.
Suster menikan kepala ranjang,agar pasien bisa duduk bersandar,lalu Arga memeluknya sangat erat.
"Maafkan aku cinta ku,aku sudah berdosa sudah membuat kamu seperti ini. Maafkan aku."
Banyak LIKE
Banyak KOMEN
Banyak VOTE
Banyak BUNGA
Banyak UP pula.
Maaf ya banyak maunya 😂🙏
__ADS_1
Satu Bab lagi nanti siang