Scandal Cinta Om Arga

Scandal Cinta Om Arga
Part 43


__ADS_3

Kamu gak apa-apa kan?"


"Aku gak apa-apa,cuma lecet dikit." Ia menunjukan lecet di sikut dan dengkulnya.


"Kalau gitu,kita ke klinik."


"Gak usah Hubby,kita pulang aja ke rumah."


"Luka kamu?"


"Di rumah ada P3K,obatin di rumah aja." pintanya sedikit memaksa,karna sebetulnya Vania ingin cepat sampai ke rumah,karna takut.


Ia ingat betul,saat menyebrang,mobil sedan berwarna biru metalik itu sedang berhenti di bahu jalan,bahkan lampunya saja dalam keadaan mati,ia tidak menyangka kalau mobil itu akan melaju sangat cepat saat drinya menyebrang.


"Siapa? Aku yakin dia sengaja. Tapi...siapa juga yang berniat jahat sama aku,aku gak punya musuh. Atau..memang aku yang teledor?" Vania terus bergelut dalam lamunanya.


"Sayang..." Arga menggenggam tangan Vania erat. "Kamu kenapa? ko diem aja?"


"Gak apa-apa." Ia terseyum,seolah melupakan kejadian tadi.


"Oh iya,kamu yakin waktu nyebrang tadi udah nengok kakan kiri?"


"Hubby..aku ini bukan anak kecil,masa nyebrang aja aku gak bisa?"


"Ko bisa keserempet?"


"Aku gak tau,tiba-tiba aja mobil itu jalan."


"Tuh kan,aku yakin itu unsur kesengajaan sayang."


"Entahlah,aku takut salah,aku takut kalau itu memang keteledoran ku Hubby."


"Lain kali,kamu kasih aku kabar satu jam sebelum pulang."


"Kadang suka gak nentu."


"Kalau gitu,sebelum aku datang,kamu jangan nunggu di halte itu lagi. Ok..?"


"Iya Hubby.."


Tiba di Aprtemen,Vania langsung masuk ke kamar,sementara Arga mencari kotak obat. Setelah ketemu,ia mulai mengobati luka di lengan Vania. "Aw.." Vania meringis kesakitan saat Arga membersihkan lukanya.


"Sakit ya?"


Vania mengangguk dengan wajah menahan sakit.


"Maaf sayang,maaf." Pelan-pelan ia membersihkan luka Vania.


"Hubby.."


"Iya sayang."


"Aku pengen ketemu papah."


"Besok ya,hari ini kamu harus istirahat."


"Tapi aku kangen sama papah."


"Besok kan bisa,lagian kamu habis jatoh kayak gini,nanti kalau aku di salahin papah kamu gimana?"


"Gak akan,pokoknya aku mau malam ini Hubby.."


Arga menghentikan sejenak aktifitasnya,menatap wajah Vania sangat lekat. "Beneran pengen malam ini?"


Vania mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


"Ya udah,nanti aku anter,sekarang istirahat dulu ya." Arga mengusap pipi Vania sangat lembut.


"Terimakasih Hubby." Vania memeluk lalu mencium kedua pipi Arga.


"Iya sayang.."


Selesai mengobati luka sang istri,Arga menyimpan kembali kotak obat itu ke tempat semula,lalu menaikan kaki Vania ke atas ranjang,sekarang istirahat lah,nanti malem kita ke rumah papah mu." Menutupu tubuh Vania dengan selimut.


"Hubby.." Vania meraih tangan Arga yang hendak pergi.


Arga pun menoleh. "Kenapa Nia sayang?"


"Kamu gak temenin aku tidur?" Pintanya manja.


"Sebentar ya,aku telfon Evan dulu."

__ADS_1


"Mau ngapain?"


"Ada perlu sayang."


"Jangan lama-lama ya,temenin aku tidur."


"Ok Bidadari kecil ku." Cup,mencium singkat bibir ranum Vania.lalu Arga pergi keluar dari kamarnya.


Ia duduk di sofa depan TV,mencoba menghubungi Evan. "Van.."


"Kenapa bos?"


"Ada kerjaan."



Malam pun tiba,Arga menepati janjinya dengan mengantarkan Vania pergi ke kediaman lamanya,sepanjang perjalanan Arga terus menggenggam tangan Vania,seolah tak ingin terlepas. "Hubby.."



"Iya sayang?" Sekilas melirik Vania lalu kembali fokus pada jalanan.



"Sampai kapan kamu pegang tangan ku?"



"Selamanya sayang." Lagi dan lagi Arga mencium punggung tangan Vania penuh cinta.



"Tas aku di belakang,kamu gak denger daritadi HP ku nyala?"



"Tau." Jawabnya singkat,namun tangan itu tetap di genggamannya.



"Aku mau liat siapa yang telfon."




"Kalau penting gimana?"



Arga terdiam,sesekali melihat spion untuk memastikan kondisi kendaraan di belakangnya.



"Hubby,ayo lah."



"Ok.. Tapi ada syaratnya."



"Apa? Cepat katakan." Vania sudah gelisah ingin cepat-cepat mengangkat telfon yang tidak berhenti berdering.



Dengan telunjuknya,Arga mengetuk bibirnya. "Hubby,kita lagi di jalan.kalau terjadi apa-apa gimana?"



"Mau gak..?"



Kalau terus nolak,ceritanya gak akan selesai-selesai,karna keras kepalanya seorang Arga ia tidak akan melepaskan tangan Vania dengan mudah.



"Ok,tapi sekali." Cup..hanya ci\*man singkat. "Sekarang lepasin tangan ku."


__ADS_1


"Nggak."



"Hubby..." Vania mendengus kesal.



Bukannya melepaskan tangan Vania,ia malah menepikan mobilnya di bahu jalan,lalu menyerang bibir Vania tanpa ampun. "Hubby..khhmm.."



Sesekali Arga melepaskan ciumannya hanya untuk mengambil nafas,mengisi rongga paru-paru yang kehabisan oksigen.



"Hubby.." Vania memukul dada Arga,namun Arga hanya terkekeh dengan tingkahnya sendiri.



"Apa sayang..?" Ia mengusap bibir Vania yang basah dengan ibu jarinya.



"Kamu keterlaluan."



"keterlaluan kenapa?"



"Lipstik ku hilang kan? Rambut ku juga berantakan."



"Aku rapihin ya." Sangat lembut Arga menyisir rambut Vania dengan jari-jarinya,seandainya mereka tidak sedang di perjalanan,sudah bisa di pastikan kalau Vania akan lembur malam ini.



"Udah rapih kan?" Kata Arga sambil mengarahkan kaca kecil yang menggantung di depan pada sang istri.



"Lumayan lah. Awas ya serang aku lagi,aku mau pakai lipstik lagi."



"Iya sayang,tapi nanti di rumah lanjut ya."



"Gak mau." Jawabnya tegas.



"Biar kamu gak mau,aku ini yang punya senjata."



"Hubby...."



Ha..ha..ha.. Arga tertawa terbahak dengan sikap manis istri kecilnya,yang sangat menggemaskan.



( Aaahh...membayangkan mereka membuat Author senyum-senyum sendiri,percintaan gadis kecil dengan Om-om memang punya sensasi halu yang berbeda,lebih greget gimana gitu he...he.. )




Seharusnya ini part buat besok,tapi gak apa-apa lah,selesai nulis,langsung UP demi membalas kerinduan readers dengan Om-om satu ini.



Yang baik-yang baik minta jempolnya di tekan ya,bunganya di tebar luas,dan boleh dong Om Arga minta Vote nya juga biar part malam nya lebih bertenaga 🤭🤭🙏.


__ADS_1


Terimakasi..💝🙏


__ADS_2