
Arga melempar surat itu,tepat di depan mata Fiona. "Apa ini Arga?" Ucapnya sambil membuka lembar demi lembar surat itu.
"Itu surat perceraian kita,cepat tandatangani itu."
"Apa?" Fiona mengernyitkan dahinya,menatap tak percaya.
"Aku gak mau Arga,aku gak mau kita bercerai." Fiona bersimpuh lalu memeluk kaki Arga dengan tangis yang semakin terisak. Hikss...hikss...
"Gue gak pernah cinta lagi sama lo Fiona,semenjak lo ninggalin gue dulu,gue udah hapus nama lo di ingatan gue,dan ruang kosong itu sudah terukit nama cewek lain." Ucap Arga setenang mungkin.
"Tapi aku masih mencintai mu Arga."
"Bukan cinta,lo cuma memikirkan nama baik lo yang sudah tercoreng karna ulah lo sendiri. Cepat tandatangan."
"Aku gak mau... Bagaiman nasib putri ku Arga? Fikirkan masa depannya.. setidaknya kasihanilah putri ku." Hikss..hikss..
"Itu urusan lo,gue gak perduli."
"Hidup putri ku akan di penuhi dengan penghinaan kalau sampai ia tumbuh besar tanpa seorang ayah. Arga."
Diam,Arga terdiam saat Fiona meminta belaskasiannya untuk putrinya yang malang.
Fiona bangkit lalu berdiri di depan Arga. "Aku akan menandatangani surat perceraian itu,tapi tolong.." Fiona melipat kedua tangannya di depan Arga. "Tolong bantu aku mencari ayah kandung Shofia."
Arga diam seraya berfikir. "Bayi itu akan tumbuh dalam kehinaan?" Ia ingat betul saat Fiona melahirkan,ia menemani Fiona di dalam ruang oprasi,saat itu ia masih berfikir positif kalau bayi yang akan di lahirkan Fiona adalah darahdagingnya.
Tak bisa ia pungkiri kalau rasa sayang terhadap bayi itu tumbuh begitu saja selama 7 bulan terakhir ini. "Ok.. gue akan bantu lo mencari pria itu."
Mata Fiona berbinar saat Arga menyetujui keinginannya,dan ini saatnya Fiona mengabulkan keinginan Arga. "Cepat tandatangan." Perintah Arga tegas.
"Baiklah." Saut Fiona tanpa ragu. Ia pun langsung menandatangani surat perceraian itu,setelah selesai,ia menyerahkan surat itu pada Arga.
Memastikan,Arga melihat ia betul-betul sudah menandatanganinya. "Bagus,mulai sekarang,lo bukan lagi istri gue." Ia menyerahkan surat itu pada Mark,lalu melangkah pergi dari kamar.
Namun dengan cepat Fiona menahan langkah kaki Arga. "Apa lagi ini?"
"Jangan tinggalakan rumah ini Arga,aku gak mau papah tau kalau kita sudah bercerai." Ucapnya kembali memohon.
"Lo mau buat rencana apa lagi?" Tanya Arga yang saat ini sudah berdiri di ambang pintu.
"Hanya sampai pria itu di temukan,tetaplah tinggal di sini. Setelah itu,kamu boleh pergi meninggalkan ku."
"Gue gak bisa,gue mau pulang ke indo,di sini bukan tempat gue."
"Kalau begitu aku ikut kamu ke indo."
Arga diam dengan mengernyitkan dahinya.
"Di sana kita akan tinggal di apartemen,dengan unit terpisah,dengan begitu,papah gak akan curiga. Bagaiman?"
"Mau sampai kapan lo berbohong sama orangtua lo? Lo tega ya bohongin mereka."
"Aku gak ada pilihan,papah bisa terkena serangan jantung kalau tau aku membohonginya."
"Lo mau selamanya menjerat gue?"
"Tidak Arga,hanya sampai dia di temukan,dan mau bertanggungjawab,aku tidak akan mengganggu mu lagi."
"Mark..!"
"Iya tuan?"
__ADS_1
"Kamu mencatat semua yang di katakan mantan istri ku kan?"
"Iya tuan,saya mencatat semuaya."
"Ok,kita akan ke Jakarta,setelah semua pekerjaan beres,dan tugas lo." Bicara pada Fiona. "Cari alsan tepat supaya kita bisa langsung pulang ke Indo,gue gak mau ribet ya."
"Aku akan berusaha." Saut Fiona.
"Dan satu lagi,jangan coba-coba menghalangi ruang gerak gue,gue cuma membantu lo menemukan pria itu." Kata Arga tegas.
"Aku janji."
Setelahnya Arga pergi meninggalkan rumah,dan Fiona masih menangis terisak di dalam kamarnnya,Ia kembali mengingat sosok pria itu,pria yang lari dari tanggung jawab,pria yang sudah menupahka benih di dalam rahimnya,hingga ia hamil,dan melahirkan seorang putri. "kali ini kamu tidak akan bisa kabur lagi." Gumamnya dalam hati.
Sedangkan Arga yang saat ini berada dalam perjalanan menuju suatu tempat,nampak ia sedang menghubungi seseorang. "Evan.. " Panggil Arga dalem sambungan telefon.
"Waah.. bro Arga." Sejenak ia menghentikan aktivitasnya,meninggalkan mobil yang sedang ia perbaiki.
"Ee.. mas mau ke mana? mobil saya bagaimana ini?" Keluh salah satu pelanggan yang mobilnya di tinggal begitu saja demi sebuah telefon.
"Bentar doang pak,kangen nih sama sohib." Ucapnya sambil berlalu ke luar karna di dalam terlalu bising dengan suara mesin.
"Sorry bos,sorry.. Gangguan dikit." Evan berdiri di depan bengkel.
"Gimana kabar lo Van?" Tanya Arga.
"Baik mas bro,kabar lo gimana?" Tanya Evan.
"Gue baik,malah sangat baik."
"Wah.. kayanya lagi seneng nih?"
"Cerita dong cerita."
"Gue udah cerai dari Fiona,anak itu bukan anak gue." Kata Arga.
"Akhirnya terbukti juga,kasih pelajaran tuh si Fiona."
*Biarin lah."
"Kalau gitu,kapan lo pulang ke Indo?"
"Nanti,urusan gue belum kelar,ada beberapa urusan bisnis yang mesti gue selesaikan."
"Ok,cepetan pulang deh,gue kangen."
ha.. ha.. "Gila lo."
"Penasaran gue sama muka lo setelah jadi orang kaya gimana."
"Yang pasti gue tambah ganteng,secara duit gue udah banyak."
"Asik.. gue suka kalau begini,pulang bawa duit banyak,rombak juga muka gue biar kayak Zain malik yang terkenal itu."
"Siapa tuh?"
"Artis bro,norak banget lo kagak kenal."
"Gak penting,yang penting buat gue Vania. Gimana dia? lo udah tau dia ada di mana?" Tanya Arga,kali ini serius.
"Kita buang-buang waktu nyari Vania di perkampungan,gila..hampir setaun gue nyari dia di tempat kumuh,mana lo kagak ngasih gue duit lagi,Kampret.."
__ADS_1
"Sorry bro,komunikasi gue terbatas,lo tau kan di sini gue kucing-kucingan buat telefon lo,sekarang aja nih gue baru sempet lagi."
"Pokoknya,pulang lo dari Italia,bayar semua utang-utang lo."
"Udah lo kalem aja,gue udah banyak duit sekarang."
"Sombong banget... tapi gak apa-apa lah gue suka."
"Udah buruan,kasih tau gue keberadaan Vania."
"Oh iya.. lupa." Evan menghisap rokok terakhirnya sebelum kembali bicara. "Vania bukan orang miskin bro,dia orang kaya."
"Maksud lo?"
"Dia tinggal di kompleks elit."
"Lo yakin?"
"Gue yakin bro,belum lama ini gue nganter mobil orang kaya yang ngebengkel di tempat gue,pas gue anterin ke rumahnya,gue ngeliat bocil turun dari mobil mewah."
"Terus..?" Tanya Arga semakin penasaran.
"Dia bukain gerbang,mangkannya gue tau kalau Vania tinggal di sana,dan bukan orang miskin." Ucap Evan menyakinkan.
"Eh kampret.. orang kaya mana ada bukain gerbang rumahnya sendiri,kagak punya satpam dia?"
"Loh bisa aja kan?"
"Aneh lo ah."
"Loh...bisa aja kan? Udah itu,yang paling bikin gue kaget di sana ada si... "
"Aahh... udah,udah,aneh lo."
"Yaelah Ga,gak percaya amat sama gue."
"Tuan ada telefon dari tuan besar." sela Mark.
Arga pun mengakhiri telefonnya. "Udah dulu ya,nanti gue telefon lagi."
"Ok deh."
Sambungan telefon pun terputus.
"Padahal gue mau bilang,kalau di sana Vania bareng Megan. Apa hubungan mereka?"
Boleh kali jempolnya di tekan.🤗🤗
LIKE
KOMEN
VOTE
Follow ya,supaya bisa bikin group chat,biar bisa ngobrol santai di sana.😁😁
💋🙏🙏
__ADS_1