
Mengakhiri olahraga bersama sang istri, Pak Burhan membaringkan tubuh bak model itu di atas sofa setelah ia kembali memakai pakaiannya, sedang Pak Burhan duduk di lantai dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Gimana hadiahnya? kamu suka?" tanya Pak Burhan menatap wajah sang istri penuh cinta.
Bu Inez mengangguk, sambil tersenyum begitu manis.
"Ini lah alasan kenapa aku tidak mau memasang CCTV di ruang kerja ku," saut Pak Burhan.
Keesokan harinya, Arga yang saat ini berada di restoran, tiba-tiba ada seorang pelayan mengatakan kalu ada salah satu pengunjung yang ingin bertemu dengan dirinya, ingin mengadukan sistem pelayanan restoran yang katanya kurang memuaskan, ujar pelayan itu.
Arga yang tidak ingin mengecewakan pelanggan, memenuhi panggilan itu tanpa menaruh curiga ternyata yang ingin menemuinya adalah wanita tidak tau malu, Megan.
"Megan..?" panggil Arga dari belakang.
Megan yang merasa namanya dipanggil, menoleh ke belakang sambil tersenyum penuh arti. "Hai, Sayang."
__ADS_1
"Jaga mulut kamu, Megan," tegas Arga dengan menatap tajam.
"Santai dong, Ga. Aku ke sini bukan mau cari ribut, ko. Kamu nggak ngeliat kalau aku lagi makan?" ujar Megan terus menatap wajah Arga dengan posisi duduk, sedang Arga berdiri di depannya.
"Kalu kamu ke sini cuma mau makan? silahkan kamu selesaikan makan siangnya, lalu segera pergi dari sini!" titah Arga yang memilih untuk mengusir Megan dari pada harus kembali berurusan dengannya.
"No. Kamu nggak bisa sembarangan mengusir aku, aku memanggil kamu ke sini, karna aku mau mengatakan kalau masakannya sangat lezat, apa lagi kalau kamu duduk di samping akum." ucapnya dengan senyum menyeringai.
Arga semakin geram, sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam, lalu ia memutuskan untuk pergi dari sana, meninggalkan Megan sendirian.
"Arga..."
Arga tidak perduli dengan panggilan itu, dia terus berjalan cepat, sama sekali tidak ingin lagi menoleh ke belakang. Namun, Megan yang terbilang nekat, kembali berteriak memanggil namanya lebih lantang, bahkan dia mengancam akan menghubingi Vania kalau Arga tidak mau merespon panggilannya.
Karena Megan membawa-bawa nama sang Istri, ia pun langsung menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Temani aku duduk di sini, setelah makanan ku habis, aku kan pergi dari restoran ini. Tapi, kalau kamu tidak mau, aku akan tetap tinggal di sini, sampai Vania datang." ucapnya mengancam.
Arga melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum jam mengarah di angkat dua, yang mana sebentar lagi jam kulaih Vania akan segera berakhir.
Karena takut sang istri datang ke restoran, akhirnya Arga pun kembali menghampiri Megan lalu duduk di sana.
"Cepat habiskan makan mu, lalu setelah itu enyahlah dari ini!" tegas Arga.
Megan yang merasa menang, kembali menyantap semua makanan sambil menatap wajah Arga yang saat ini duduk di depannya.
Arga yang terus memalingkan wajah, tiba-tiba teringat akan perintah Daniel yang meminta ia untuk mendekati Megan sebagai misi menjebloskan mereka ke dalam penjara, atau setidaknya mereka diusir dari Negara Indonesia.
Melihat Arga melamun, Megan mengambil kesempatan untuk menyentuh tangannya, membuat Arga terkejut, lalu dengan cepat ia mengibaskan tangan itu.
"Jangan bersikap kurang ajar lagi, Megan. Makan mu sudah habis, jadi aku mohon cepat pergi dari sini, sebelum petugas keamaan datang, lalu menyeret mu keluar dengan paksa."
__ADS_1