
"Bo*oh," teriak Jehan pada keponakannya. "Jangan cuma ngurusin si Vania, target kita itu si Burha.
Tristan pria yang dulu sempat dijodohkan oleh Pak Burhan dengan Vania, saat ini sedang berada di tanah air untuk segera membebaskan Megan, dan membantu membalaskan dendam Jehan terhadap Pak Burhan.
"Jangan bicara kurang ajar pada ku, Tante."
Dengan emosi membara, Tristan bangkit dari duduknya berdiri tegak di hadapan Jehan.
"Aku memang datang untuk membantu kalian, tapi ingat. Tujuan utama ku adalah membawa Vania pergi dari negara ini, bukan hanya sekedar menghancurkan Burhan si tua bangka sialan itu.
Sekalipun Jehan adalah Tantenya, ia tidak bisa berbuat apa-apa kalau Tristan sudah sangat marah, mematuhinya jauh lebih baik dari pada melawan dan tidak akan mendapatkan apa pun.
Bersabar, hanya itu yang bisa Jehan lakukan saat ini. Toh, hancurnya hidup Vania, sama saja dengan hancurnya kehidupan Burhan.
Setelah kejadian semalam, keesokan harinya Arga langsung membuat laporan atas teror dan ancaman dari seorang pria yang menimpa keluarganya, bukti berupa foto pun sudah ia serahkan kepada polisi untuk segera ditindak lanjuti.
Pak Burhan pun mengatakan pada polisi kalau pelakunya adalah keponakan dari mantan istrinya. akan tetapi, laporan itu ditolak karena tidak memiliki bukti yang cukup kuat, bukti berupa email dari Tristan yang berupa ancaman saat itu telah ia hapus sesaat setelah membacanya.
Arga tidak akan tinggal diam sekalipun polisi sudah bergerak menyelidiki kasusnya. Diam-diam ia memerintahkan Evan untuk mencari tau keberadaan Jehan saat ini, ia yakin kalau Jehan pasti tinggal bersama orang itu.
Satu hal yang membuat Arga sangat khawatir adalah kesehatan Vania dan janin yang ada di dalam kandungannya yang masih sangat muda, dan rentan mengalami keguguran.
Ia sangat menjaga, sehingga untuk sementara Arga tidak mengizinkan Vania kuliah karena keselamatannya adalah prioritas utama saat ini.
Arga selalu membawa Vania kemana pun ia pergi, termasuk ikut dengannya ke restoran tempat ia bekerja.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan, Hubby?" tanya Vania yang saat ini berada di atas pangkuan Arga dengan menautkan kedua tangannya di atas pundak suami tercinta.
"Tidak, Nia. Aku harus melakukanya untuk melindungi kamu. Atau mau aku temenin kamu di kampus, ikut kelas mu juga?" selorohnya membuat Vania tertawa.
"Itu lebih mustahil lagi."
__ADS_1
"Maka dari itu, lebih baik kamu yang di sini, dari pada aku yang ikut kuliah. Iya kan?"
"Baikalah," ucapnya seraya menurunkan diri dari pangkuan Arga. Namun, tangan kekar yang melingkar di pingganya malah menahannya untuk tidak beranjak.
"Hubby..."
"Hhmm..."
"Lepasin!" pinta Vania.
"Mau ke mana?"
"Aku mau ke toilet."
"Aku ikut."
"Mau ngapain?"
Vania tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ooh.. jangan lakukan itu saat ini, Sayang."
"Apanya?" tanya Vanai.
"Semakin kamu menggigit bibir bawah mu, semakin aku ingin menerkamnya."
"Enak aja."
Seketika tangan kekar Arga masuk ke dalam baju Vania dan menyentuh apa saja yang ia temukan di dalam sana.
"Hubby.."
__ADS_1
Vania mulai mengeluarkan suara yang tertahan, tak lama Evan pun datang Tanpa mengetuk pintu, membuat Arga menghentikan aktivitasnya.
"Kampret, Lo. Kebiasaan!"
"Sorry, Ga. Sorry." Evan memalingkan wajahnya ke arah luar.
Untung saja Arga hanya memasukkan tangannya, bukan melucuti pakaian Vania. Setelahnya Evan pun masuk lalu Vania berdiri di samping Arga.
"Ada apa?" tanya Arga.
"Ini, gue ngomong di sini aja?" kata Evan sambil melirik ke arah Vania.
Arga mengerti, lalu meminta Evan untuk menunggunya di luar.
"Kamu mau ke mana?" cegah Vania.
"Aku temuin Evan dulu di luar."
UP dua part lagi looh.. 🤩
Mana nih jempolnya?
Komen
Bunga
Juga kasih aku Vote ya kalau punya 🤭🙏🙏
__ADS_1