Scandal Cinta Om Arga

Scandal Cinta Om Arga
Part 34


__ADS_3

"Kita kan ga punya hubungan apa-apa."


"Terus,yang kita lakuin tadi?"


"Itu ungkapan rindu,rindu sesaat."


Tangan kanan Arga memegang kendali stir sangat kuat. "Hanya ungkapan rindu? Rindu sesaat? jadi..itu gak ada artinya buat kamu?"


"Om.." Vania menggenggam tangan kiri Arga,karna posisi duduk mereka yang sama-sama menyamping. "Mungkin iya aku masih cinta sama Om,tapi untuk menduakan kak Whisnu,aku gak bisa,bahkan saat ini aku sudah menyakitinya." Kata Vania,kali ini dia mengatakannya dengan serius.


"Tapi..gak bisa gitu dong." memelas.


"Om maunya apa?"


"Om mau jadi pacar kamu." Ucapnya dengan tegas.


"Pacar? aku udah punya kak Whisnu."


"Pokonya jadin Om pacar kamu. Mau jadi yang pertama,no satu,atau yang utama,terserah deh."


Kening Vania mengerut. "Pilihan apa itu? Gak bisa lah,kak Whisnu udah jadi yang pertama,no satu,dan yang utama."


"Ya udah,yang kedua juga boleh." Ucapnya sambil menunduk malu.


Ha..ha..ha.. Vania tertawa terbahak. "Kenapa Om jadi gila gini sih?"


"Om gila juga gara-gara kamu."


"Ciih.."


"Tanggung jawab dong." Kata Arga.


"Ko aku yang tanggung jawab? pokonya Nggak..nggak..nggak.." Vania membetulkan posisi duduknya menghadap ke depan dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Ya udah,Om gak mau anterin kamu pulang." Kali ini Arga yang merajuk.


"Ok..aku bisa naik taksi."


"Emang punya uang?" Timpal Arga.


"Punya,Om fikir aku orang miskin." Vania membuka pintu mobil,lalu keluar,Arga melakukan kesalahan dengan mengancam tidak akan mengantarkan dia pulang.


Lihatlah,dia keluar tanpa ragu,mungkin Arga lupa saat itu Vania pernah akan mengakhiri hidupnya,dan ini..hanya pulang sendiri? Aahh.. tidak sedikitpun membuat ia takut.


"Nanti ada yang nyulik loh." Arga berteriak dari kejauhan,mengikuti langkah Vania dari belakang.


"Gak takut." Sekilas menoleh,tapi tetap jalan.


"Hantu?"


"Hantu yang takut sama aku." Vania terus melangkah maju tanpa ragu.


"Aahh..mungkin yang terakhir dia bakalan takut." Fikirnya.


"Kalau ada preman gimana?"


Vania langsung menghentikan langkahnya,memutar tubuhnya ke belakang.


"Akhirnya,ada juga yang dia takutkan." Gumamnya dengan senyum penuh kemenangan. "Kemarilah sayang."


"Asal Om tau ya,Om lebih menakutkan dari preman."


"What..? Wah..bener-bener nih anak."


"Vania.." Akhirnya ia menyerah,dan terus berteriak. "Ok..ayo Om anterin.."


"Terlambat,aku bisa pulang sendiri."


Kebetulan ada taksi yang lewat,lalu berhenti. "Taksi neng,kosong nih."


"Iya pak." Vania pun masuk ke dalam taksi. "Dadah Om Arga... Duluan ya." Ucapnya sambil nongol di jendela dan melambaikan tangan ke arah Arga yang terus berlari mengejarnya.


Ia terus berlari berusaha mengejar Taksi yang sudah melaju. "Vaniaaa.." Tetap tidak bisa mengejarnya,karna kaki mu bukan kaki kuda Om Arga,menyerahlah. "Sial.."


Khhuff.. Menghela nafas dalam,setelah Taksi yang ia tumpangi sudah melaju sangat jauh.



Sedang di tempat lain,



Whisnu masih menunggu di pos satpam,sambil ngobrol-ngobrol ringan mengenai sekolah,tempat tinggal,dan sedikit cerita bagai mana dulu dia bisa berpacaran dengan majikannya Vania.



"Ko bisa suka sama non Vania?" Tanya Ucup selaku satpam rumahnya.



"Karna dia manja,aku suka cewek manja." Kata Whisnu.



Tengah asik ngobrol,tiba-tiba mobil mewah berwarna putih milik Jehan memasuki gerbang utama. Dia melihat ada motor metic terparkir di dekat pos satpam. "Siapa?" Jehan menautkan kacamatanya ke atas kepala.



Ia menurunkan kaca mobil,lalu bertanya pada Ucup. "motor siapa itu?" Tanya Jehan yang baru ja pulang dari Shopping,Ucup berdiri di luar sedikit membungkuk.

__ADS_1



"Motor temannya nona Vania nyonya."



Jehan melihat sekilas wajah dan penampilan Whisnu yang terkesan sederhana. "Cuma motor butut yang di bawa." Gumamnya.



"Jangan di suruh masuk,ntar di mau maling lagi."



"Iya nyonya."



Jehan kembali melajukan mobilnya menuju parkiran,ia tidak perduli dengan apapun yang berhubungan dengan putri tirinya. "Bodo amat deh,mau teman atau apa juga."



Belum juga ia duduk,Taksi yang di tumpangi Vania tiba di depan rumahnya. "Ini ongkosnya ya pak." Vania turun dari Taksi setelah membayar ongkos.



Whisnu menghampirinya. "Dari mana?"



Vania berlari ke arah Whisnu lalu memeluknya. "Habis dari rumah temen kak,kakak udah lama nunggu?" Ucapnya dengan mendongakan kepalanya menatap wajah kekasihnya.



"Belum,belum dua jam." Kata Whisnu meledek.



"Iisshh.."



"Masuk dulu yuk,aku ganti baju dulu." Vania menarik tangan Whisnu masuk ke dalam,namun langkahnya terhenti saat Whisnu menolak masuk. "Kenapa?"



"Aku tunggu di sini aja ya. Gak enak soalnya."



"Gak enak sama siapa sih? gak ada siapa-siapa ko."




Vania langsung melihat parkiran. "Iya..nenek sihir itu udah pulang."



"Gak apa-apa,aku tunggu di sini aja."



"Nggak,ayo masuk." Vania menarik tangan Whisnu dan memintanya menunggu di ruang tamu.



10 menit kemudian,Vania datang dengan menggunakan dres putih bercorak bunga-bunga kecil berwarna-warni,dengan kondisi rambut terikat satu di atas. "Ayo kak." Ajak Vania sambil mengulurkan tangan.mereka pun pergi meninggalkan rumah manuju Bioskop.



"Ahh..bahagianya."



Menghabiskan waktu malam minggu bersama kekasih,selalu menjadi kegiatan rutin,yang sering mereka lakukan.



Setelah puas menghabiskan malam,tepat pukul 22.00 Vania di antar pulang oleh,ia memarkirkan motor nya di dekat pos satpam. "Makasih ya kak." Ucap Vania dengan senyum.



"Iya."



Sempat menjeda waktu sejenak. "Nia.."



"Hhmm.."



"Ada yang mau aku bicarain."


__ADS_1


"Apa?"



Whisnu mengambil sesuatu berupa amplop di dalam tasnya,lalu memberikan amplop itu pada Vania. "Apa ini kak?" Ucapnya sambil membolak-balikan amplop itu.



"Buka dulu aja."



Mengeluarkan isi amplop itu lalu mulai membacanya. Awalnya biasa saja,lama kelamaan expresinya berubah,antara senang,bangga,dan sedih. "Beasiswa ke Belanda?" menatap wajah Whisnu ia tersenyum,tapi meneteskan air mata.



"Hei.. kenapa nangis?" Whisnu menyeka air mata Vania yang tiba-tiba saja turun cukup deras.



"Boleh aku egois?" Kata Vania dengan suara tangis yang terisak.



"Kenapa?"



"Jangan pergi..!"



"Apa egois itu sifat yang bagus?" Kata Whisnu berusaha biasa saja,walaupun hatinya juga merasakan hal yang sama. "***Sedih***."



"Aku tau,tapi aku gak mau jauh-jauh kak."



"Demi masa depan kita Nia."



"Kenapa kakak baru bilang sekarang?"



"Tadi kamu lagi seneng banget,kakak gak tega merusak kebahagiaan kamu."



"Kapan kakak akan pergi?"



"Satu atau dua bulan ini,karna masih banyak yang harus di tuntaskan dulu sebelum berangkat."



"Lalu..bagaimana dengan hubungan kita..?"



Whisnu menangkup pipi Vania dengan kedua tangannya,lalu menyeka air mata itu dengan jarinya. "Sayang,kalau kamu bisa menjalankan hubungan jarak jauh,kakak pasti seneng banget,tapi kalau kamu gak mau,kakak juga gak bisa memaksa."



Vania langsung melepaskan tangan Whisnu dari pipinya. "Maksud kakak apa? kita putus?"



"Nggak sayang,itu kan kalau kamu gak mau LDR an."



"Jahat..aku benci kakak.." Melangkah mundur,lalu berlari masuk ke dalam,dengan tangis terisak.



"Vania..."



"***Aku gak mau,aku gak mau kalau pacaran jarak jauh,Kenapa semua orang yang sayang sama aku harus pergi? Ibu,ayah walaupun dekat tapi terasa jauh,Om Arga,di saat kita saling sayang,harus pergi juga,sekarang kak Whisnu,orang yang paling aku sayangi akan pergi juga? kamu jahat kak***." Hikss...hikss..



"Maafkan aku Vania."



Kolom komentarnya terus isi ya,biar Author semangat lagi nulisnya.


Likenya juga di tekan.


Bunganya juga di tebar,puasa niih..tebar kebaikan. 😁🙏.pahalanya berlipat.


Yang punya Vote,boleh juga bagi Vote nya .

__ADS_1


TERIMAKASIH 💋💋💋🙏**


__ADS_2