Scandal Cinta Om Arga

Scandal Cinta Om Arga
Part54


__ADS_3

Semoga masih pada suka sama kisah Arga, Vania dan Burhan Inez.


HAPPY READING...


Tiba hari di mana Inez dan burhan akan melangsungkan ijab kabul di kantor KUA daerah Jakarta pusat. kantor KUA yang letaknya tak jauh dari kediaman Burhan, dn hanya di hadiri oleh kerabat terdekt Inez, dan kerabata terdekat Burhan, tidak banyak, hanya beberapa orang saja.


Nampak Inez mengenakan kebaya berwarna putih, kebaya yang tempo hari ia beli bersama Vania di sebuah Butik ternama kota Jakarta. Sederhana namun sangat elegan, Ia nampak sangat cantik, Burhan tak henti-hentinya memandangi wajah calon istrinya, yang saat ini tengah duduk di sebelahnya, dengan wajah berbinar bercahaya.


"Pah. Udah dong, bu Ineznya jangan di pandangin terus, gak akan berubah ko, tetep cantik." Kata Vania menggoda sang ayah, yang terus memandangi wajah cantik wanita yang akan segera menjadi istriny.


"Gak apa-apa Nia, kecantikan ibu gak mudah luntur ko, sekalipun di cuci pakai pemutih." Sautnya tak kalah menggoda, ia melirik ke samping tersenyum manis sambil menatap wajah Burhan, dan Burhan hanya terkekeh dengan kelakuannya sendiri. Rasa bahagia tidak bisa ia sembunyikan, sangat bahagia. Itu terlihat dari senyum tanpa henti, dan genggaman erat tangannya.


"I love you sayang." Ia mencium tangan Inez di depan banyk orang tanpa malu.


"Ciee...papah lebay banget." Tak hentinya-hentinya Vania menggoda sang ayah, ia duduk di barisan kursi paling depan, bersama Arga.


Tak lama penghulupun datang, dan terjadilah ijab kabul, setelah terucap. "Alhamdulillah SAH. Inez langsung mencium punggung tangan Burhan, dan Burhan membalasnya dengan mencium kening Inez, lalu mencium bibirnya singkat. "Cup."


Semua bersorak gembira, dengan pernikahan Inez dan Burha, Vania langsung menghampiri Inez dan memeluknya. "Terimakasi bu, terimakasi mau menikah dengan papah, dan mau menjadi ibu ku." Tangis haru tak bisa ia bendung lagi, Vania menumpahkan air mata bahagia dalam pelukan ibu barunya.


Inez giania atmaja. Gelar atmaja sengaja burhan berikan, yang sebelumnya hanya ibu kandung Vania yang mendapatkan nama kebesaran keluarga besar Atmaja. "Terimakasih mas."


"Iya sayang."


Setelah selesai ijab kabul, rombongan pengantin ini pulang ke rumah Burhan untuk sekedar makan-makan sederhana merayakan hari pernikahan Inez dan Burhan, hanya acara sederhana, rencana resepsi besar-besaran belum terfikir oleh Inez, karna baginya itu tidak terlalu penting. yang penting sah ya pak Burhan, udah gk sabar nih pak Burhan mau belah duren.


Acara cukup berlangsung lama, seleasai sekitar pukul tujuh malam satu persatu dari mereka meninggalakan kediaman Atmaja. mulai dari adik-adiknya burhan, dan beberapa kerabat lainnya. Begitupun dengan kerabat Inez, termasuk orangtuannya. Dan kini, tinggal lah mereka berdua di dalam rumah, setelah mengantar Vania ke depan pintu utama.


"Hhmm.." Vania mulai kebingungan harus berbuat apa setelah semua orang pergi, dan yang tertinggal hanya para pembantu yang sedang merapihkan rumah agar terlihat rapih dan segar seperti sedia kala.


"Aku mesti ngapain mas?" Tanyanya sambil duduk tegak di samping Burhan.


Burhan yang masih sangat terpesona dengan kecantikan istri barunya itu, tanpa henti memandangi wajahnya dengan senyum sumeringah.


"Mas ngomong dong, aku malu tau di liatin terus." Karna grogi, Inez terus memilin ujung kebaya tanpa berani menatap wajah Burhan. Satu yang pasti, karna malu.


"Sini.." Pintanya, kini Burhan membuka suara. Ia sengaja menyandarkan tubuhnya di atas sofa, dan meminta Inez bersandar di atas dadanya.

__ADS_1


Patuh, Inez melakukan apa yang di minta sang suami. "Bu Inez.."


"Mas.. ko manggilnya masih ibu sih?" protes. "Aku kan bukan guru Vania lagi."


Burhan menepuk jidat. "Lupa." he..he..


Inez kembali bersandar, dan kali ini ia duduk lebih nyaman, melingkarkan tangannya ke perut Burhan yang masih terasa keras seperti ada enam kotak, atau biasa di bilang sixpek.


"Terimakasih sudah mau menjadi istri ku, bahkan di usia kamu yang masih muda, tapi mau menerima ku yang udah tua ini, aku bahkan akan segera memiliki cucu lagi." Kata Burhan membuka kesunyian setelah beberapa saat. Ia mengusap lembut bahu Inez, lalu mencium keningnya.


"Usia bukan halangan buat aku mas, kamu sangat matang, wawasan dan pemikiran kamu pasti bisa membimbing ku menjadi wanita, istri, dan sekaligus seorang ibu yang baik, untuk anak mu, dan anak-anak kita nanti."


Kebahagiaan semakin berlipat mendengar ucapan Inez yang membuatnya semakin terharu, begitu dewasa Inez berfikir, bahkan di usia masih muda menurutnya.


"Memangnya kamu siap kasih aku anak?" Tanya Burhan, sambil meletakan pipinya di puncak rambut Inez.


"Tujuan menikah kan itu, mendapatkan keturunan, dan menyempurnakan kodrat kita sebagai manusia. Iya kan?" Inez mendongakan kepalanya menatap wajah Burhan dari jarak yang sangat dekat.


Inez terkejut saat melihat Burhan yang ternyata meneteskan air mata. "Mas, ko nangis, kenapa?"


"Ini tangis bahagia sayang, mendapatkan kamu, seperti mendapatkan intan berlian yang tertaman berabad-abad, dan aku yang paling beruntung mendapatkannya.


"Cuma itu?" Kata Burhan mulai berani menggoda.


Inez mengangguk sambil tersenyum.


"Gak mau ngasih aku yang lain?"


Senyum Inez semakin melebar mendengarnya, bahkan wajahnya berubah merah merona menahan malu.


Burhan mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat wajah Inez dari dekat, mata, pipi, bibir, tak luput dari sentuhan jari Burhan, kedua tangan yang ia letakan di pipi merah Inez. "Kamu begitu sempurna sayang."


"Boleh aku memintak hak sekarang?" Tanya Burhan sambil berbisik di telinga Inez, dan memberikan kecupan di sana.


Geli, nikmat, dan rasa yang bercampur aduk dengan hasrat, membuat Inez menggeliat Saat beberapa Kali burhan mengecup daun telinganya.


Tubuhnya bergetar, Burhan bisa merasakan itu, ia meraih kedua tangan Inez, lalu menciumnya. "Kamu siap?"

__ADS_1


Inez pun mengangguk penuh kesiapan.


Burhan yang sudah cukup lama menahan hasrat, harus sedikit menahan lagi untuk bermain lebih lembut dan pelan, mengingat istrinya yang masih perawan, apa lagi dengan ukuran miliknya yang cukup besar, akan membuat Inez kesakitan di awal.


Tubuh Inez yang tinggi bak model itu saat ini sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel. Putih, bersih, bening sebening embun di pagi hari, Burhan tidak menyangka Inez memiliki tubuh sesempurna itu, terus ia menatap kagum melihatnya.


Sesuatu yang menonjol di depan mata, adalah daya tarik utama, yang membuat tangan nakalnya ingin segera bermain di sana. ukuran yang sangat pas di tangan Burhan, bahkan tangan Burhan masih terlalu kecil untuk menangkupnya.


"Kamu membuat aku gila sayang." Burhan menelusupkan wajahnya pada leher jenjang Inez, sedangkan tangan kanannya masih betah berlama-lama memijat sesuatu yang kenyal itu.


"Mas.." Bu Inez mulai mengeluarkan suara, menggigit bibir bawahnya menahan agar tidak semakin meraung saat tangan Burhan berpindah ke suatu tempat yang ada di bawah sana.


Ini sangat Nikmat, tak bisa lagi ia menahan, dan terus memangil suamiya. "Mas.."


"Ini belum apa-apa sayang, milik ku masih belum mencari lubangnya." Kata burhan di sela-sela.raungan Inez yang tak bisa lagi terthan.


Tubuhnya semakin bergetar hebat saat Burhan mulai mengabsen setiap inci tubuhnya dengan jari dan bibirnya. Ini terlalu nikmat, Inez semakin tidak bisa menahan, dan meminta segera di tuntaskan sampai keduanya meledak bersamaan.


Seakan tidak ada puasnya, Burhan menginginkan lagi, dan lagi. Namun melihat Inez kelelahan, akhirnya Burhan berhenti di arah jarum jam yang berada di angka dua. Ia berbaring di samling Inez, lalu mengecup keningnya dalam, dan lama, penuh cinta.


"Terimakasih istri ku." Burhan menyelimuti tubuh polos istrinya, dan mendekapnya untuk segera tidur.




Maaf sedikit memaksa lagi, setelah membaca Author minta jejaknya ya. TOLONG.. Ini demi kelangsungan kisah mereka ke dedepannya,



LIKE


KOMEN


VOTE


BUNGA

__ADS_1



Terimakasih.


__ADS_2