
Saat akan pergi masuk ke dalam,Arga langsung menarik tangannya. "Lepas."
"Gak Nia."
"Lepaskan putri saya." Kata Burhan tegas.
"Arga,jangan gila kamu,kamu itu calon suami ku." Megan tidak tau malu,sudah kepergok berbohong,masih saja bersandiwara.
Vania berusaha melepaskan tangannya,namun tangan Arga sangat kuat. "Om sakit." Terus menggerak-gerakan,genggaman tangannya terlalu kuat,sampai ia merintih kesakitan.
"Maafkan saya tuan Burhan." Begitu kata maaf terucap,saat itu juga Arga menarik tangan Vania,lalu menggendongnya,bak penculik,ia membawa lari Vania dari rumahnya,bahkan di hadapan Burhan,tidak sedikitpun Arga merasa takut,satu yang ia takutkan,adalah kehilangan kepercayaan dari Vania.
"Mang Ucup,tahan orang itu." Sambil berteriak,Burham berlari mengejar Arga.
Mang Ucup yang memiliki kemampuan ilmu beladiri,tak mampu menahan Arga,ia tersungkur saat Arga menendangnya hanya dengan satu kali tendangan saja. "Maaf pak,terpaksa." Ucapnya yang semakin mempercepat larinya.
"Turunin aku." Vania terus berteriak sambil memukul punggung Arga,sangat kuat,tidak sedikitpun Arga merasa kesakitan.
Ia tetap tidak perduli,yang ada di dalam pikirannya hanya ingin membawa Vania ke suatu tempat,berharap di tempat itu dia bisa mendapatkan kembali kepercayaannya lagi.
Berhasil membawa Vania masuk ke dalam mobil,Arga langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,meninggalkan kediaman Burhan.
Vania menjerit ketakutan. "Aaaa.....Om pelan-pelan,aku gak mau mati konyol." Berteriak panik,berada di tangan Arga bukan sesuatu hal yang menakutkan,tapi mobil ini? Dia melajukan mobilnya sangat cepat. Bahkan ia hampir menabrak pejalan kaki yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas.
"Aku takut Om." Hikss..hiksa..
Melihat Vania menangis ketakutan,ia mulai menurunkan kecepatan sambil memegang tangannya erat. "Maafkan Om,Vania."
"Apa yang mau Om lakukan?" hikss..hikss..
"Apapun akan Om lakukan supaya kamu percaya lagi sama Om."
"Aku gak perduli.. Aku gak perduli Om mau berbuat apa,sekarang bawa aku pulang." Teriak.
"Om pasti bawa kamu pulang,tapi aku mohon..ikut lah dulu dengan ku dulu,Om bisa jelasin semuanya."
Ia masih menagis,terisak,Arga membelai rambutnya,seraya menenagka. "Nia..Om mohon,berhentilah menangis."
"Aku takuuuut.."
"Maaf,maaf, Om pelanin ya."
Kali ini Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,tak jarang ia terus melirik ke arah Vania memastikan kalau ia sedikit tenang,dan tangisnya pun mulai mereda,walau masih terisak.
Lebih dari satu jam lamanya,perjalanan menuju suatu tempat,akhirnya ia sampai di tempat tujuan. "ngapain kita ke sini?" Tanya Vania masih kesal,bercampur heran.
Arga melepaskan setbelnya,lau membantu Vania,namun Vania menolak. "Aku bisa sendiri."
Menghela nafas dalam. "Ok."
Arga turun lebih dulu,di susul Vania. Rumah kontrakan yang pernah mereka tempati bersama selama lebih dari dua bulan,membuat hati Vania tersentuh. "Ngapain Om bawa aku ke sini?"
"masuk dulu yuk.:..!" Ajaknya sambil mengulurkan tangan.
"Gak usah pegangan." lagi-lagi ia menjauhkan tangannya.
Ia menyerah dengan penolakan Vania. "Ok." Ia jalan lebih dulu,di ikuti Vania dari belakang.
__ADS_1
Rumah kumuh yang terdiri dari satu kamar itu menjadi saksi bisu kisah cinta mereka berdua,semua kejadian yang pernah mereka alami berputar kembali seperti rol film yang sedang di putar di bioskop,dan hanya mereka berdua lah yang menjadi penontonnya.
"Kamu ingat Nia?" Tanya Arga yang saat ini berdiri jauh di depan gadis itu.
Vania masih berdiri di ambang pintu,berusaha melupakan kejadian menyenangkan,mengharukan,sekaligus menyakitkan. "Aku udah lupain semuanya."
"Ingat suka duka selama kamu tinggal dengan Om? Saat makan satu mie,Om bagi dua sama kamu? Bahkan kamu selalu minta lebih banyak dari ku." Ia tertawa kecil saat mengingat kejadian itu.
Diam,dia bersikap seolah-olah sudah melupakan semua kejadian. "Lupa." Jawabnya ketus.
"Om masih inget semuanya,bahkan saat pertamakali kita ketemu di atap gedung. Pas kamu mau bunuhdiri itu." Ucapnya sedikit tersenyum.
"Om bawa aku ke sini cuma mau mengenang masa lalu? mau meminta aku untuk inget semuanya?"
"Bukan itu Nia." Arga melangkah maju.
"Stop.." Arga menghentikan langkahnya. "Di situ aja ngomongnya."
"Sekarang,bilang sama aku ngapain kita ke sini? cape tau gak."
"Om cuma mau kamu mengingat masa-masa sulit selama kamu tinggal di sini."
"Masa di mana satu nasi bungkus kita makan berdua,masa di mana Om harus mendapatkan uang untuk membelikan kamu baju yang layak,biaya kontrakan,makan,dan masih banyak lagi."
"Om mengingikan apa yang udah Om kasih ke aku." Mengernyit.
"Bukan begitu Nia." Arga kembali melangkah maju,tapi kali ini Vania tidak melarangnya.
"Om cuma mau kamu tau,bagaimana sulitnya hidup Om dulu,tanpa pekerjaan,siapa yang akan percaya pada ku.?"
"Waktu itu Megan menawarkan sejumlah uang yang sangat besar,wajar kan kalau Om tergiur,tapi Om berani bersumpah,Om gak pernah ngelakuin hubungan badan sama Megan,semua murni karna pekerjaan,karna Om juga butuh uang."
Arga mengangguk. "Iya.. Hasil kerjasama dengan Megan. Rumah ini,bahkan hutang-hutang Om sama preman yang pernah nyulik kamu,itu semua hasil kerjasama dengan Megan."
"Demi uang?" Mengernyit tidak suka.
"Iya,dan Om ngelakuin itu karna terpaksa. Om butuh uang."
Kali ini diamnya Vania solah sedang berfikir. Berfikir positif tentang kehidupan Arga yang memang menyedihkan,bahkan harus tidur di lantai saat kamarnya ia gunakan,harus berbagi satu mie untuk berdua,kadang dia tidak makan demi memberikan nasi bungkus utuh untuk Vania. "Aku tau semuanya,semua hal di rumah ini gak ada yang aku lupain."
"Om minta maaf Vania,saat itu Om gak bisa ngasih kehidupan yang layak buat kamu. Om hanya pria bayaran menyedihkan."
"Aaggghh....aagghh..." Tangis Vania tumpah saat mengingat semuanya,ia menyesal menganggap Arga sebagai pria bayaran yang terhina. "maafin aku Om..." hikss..hikss...
Arga membawa Vania ke dalam pelukannya,memeluk tubuh mungil itu sangat erat. "Om yang seharusnya minta maaf Nia,Om tidak bisa berbuat lebih untuk kebahagiaan mu."
"Percayalah,Om terpaksa melakukan itu,dan untuk melalukan s*x,Om berani bersumpah demi apapun,Om gak pernah ngelakuinnya."
Belaian lembut Arga,cukup membuat tangis Vania mereda,Arga mulai melonggarkan pelukannya,ia menyeka ia mata Vania dengan jarinya. "Sekarang percaya kan?"
"Nyebelin.." Ia memukul dada Arga cukup kuat.
"Aaww..enak banget sih di pukul kamu.' Kata Arga dengan senyum menggoda.
"Aku hampir mau bunuh Om tau gak."
"Jangan dong. Nanti gak ada lagi orang kayak Om."
__ADS_1
"Iya,orang kayak Om harus di awetkan,taro di musium.." beberpa kali ia menyunggingkan senyum.
Akhirnya,Vania tersemyum,ia merasa lega. "Nah gitu dong,Om jadi ikutan seneng kan?
"Apa masih ada kebohongan yang lain?" Kata Vania,yang masih dalam pelukan Arga.
"Gak ada ko, ini kebohongan tetakhir Om."
"Awas ya kalau Om bohong lagi" Kata Vania.
"Mudah-mudahan."
"Hhmm..." ia mengerucutkan mulutnya.
"Iih..jelek banget."
"Biarin."
"Udah ya,jangan ngambek lagi."
Vania mengangguk dengan senyum. "Om.."
"Apa?"
"Makasih banyak ya,Om udah jagain aku,Om sayang sama aku. jujur..makan mie satu mangkuk berdua,hal termanis yang gak akan bisa aku lupain."
"Iya Nia,sangat manis,Om gak akan lupain satu momen pun saat kita tinggal bersama." Arga terbawa suasana,ia merindukan gadisnya,ia mendekat,bahkan semakin dekat. "Nia.." Suata Arga terdengar sangat lirih.
Saat Arga akan mencium bibirnya,Vania menahannya dengan menyentuh dada Arga untuk tidak mendekat. "Om.." aku gak mau menghianati kak Wisnu. Maaf."
Arga tertawa kecil. "Om yang minta maaf. Maaf ya."
"***Sadarlah lah Arga,dia baik pada mu,bukan berarti dia masih mencintai mu,jangan buat diri mu bodoh."
"Maafkan aku Om,di khianati itu menyakitkan,aku gak mungkin menghianati kak Whisnu,walau rasa ini masih ada,biarlah aku simpan sebagai kenangan***."
"Ayo Om antar pulang."
Kolom komentarnya terus isi ya,biar Author semangat lagi nulisnya.
Likenya juga di tekan.
Bunganya juga di tebar,puasa niih..tebar kebaikan. 😁🙏.pahalanya berlipat.
Yang punya Vote,boleh juga bagi Vote nya .
__ADS_1
TERIMAKASIH 💋💋💋🙏