
Pengantin baru ini sedang dimabuk cinta. Pak Burhan dengan Bu Ines sedang merencanakan bulan madu ke suatu negara setelah tugas Bu Inez dan Pak Burha selesai.
Ada Beberapa negara yang Pak Burha pilih, tetapi Bu Inez hanya memilih satu negara saja yaitu Indonesia.
"Kenapa masih di sini?" tanya Pak Burha.
"Buat apa keliling negara orang, kalau negara sendiri aja masih banyak yang belum kita jamah. iya kan?" tanya Bu Inez yang saat ini sedang duduk di atas pangkuan sang suami dengan menautkan kedua tangannya di atas pundak Pak Burhan.
"Kamu yakin mau di dalam negri aja bulan madunya?"
Bu Inez mengangguk dengan senyum, menagkup pipi Pak Burhan, lalu mencium singkat bibir suaminya.
Cara berfikir Bu Inez yang sangat dewasa, membuat Pak Burhan semakin jatuh cinta, dan benar-benar sangat mengaguminya.
Tak ingin melewatkan moment yang pas, Pak Burhan segera mencium bibir Bu Inez bahkan tanpa kesiapan, hingga Bu Inez harus meraup udara banyak-banyak untuk bernafas.
"Mas. Mau lagi?
"Iya." Jawabnya singkat, karena Pak Burhan sudah tidak tahan lagi menahan sebuah gairah yang sudah ia tahan sejak beberapa jam yang lalu, dan tubuh tinggi, dengan tekstur lembut di dalamnya itu membuat Pak Burhan tidak bisa menahan lebih lama lagi.
Tanpa membuka baju yang ia kenakan, Pak Burhan menurunkan relsleting, mengeluarkan sesuatu yang tampak panjang juga keras itu, lalu memasukannya ke dalam pintu kenikmatan yang sudah terbuka lebar untuk ia masuki.
"Pelan-pelan!" Kata Bu Inez saat milik Pak Burhan kembali masuk, dan rasa perih yang ia rasakan semalam kembali terasa.
Pak Burhan hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Inez, dan raut wajah Bu Inez yang sedang manahan kenikmatan, membuat gairan seorang Burhan Atmaja semakin menjadi.
Perlahan tapi pasti, hentakkan demi hentakkan mengharuskan Bu Inez menggigit bibir bawahnya, agar tidak mengeluarkan suara *******, juga raungan kenikmatan saat Pak Burhan dengan lincahnya bermain sesuai irama.
Tidak sampai di situ, Pak Burhan masih mengenakan celana dengan relsleting terbuka sampai bawah, memutar tubuh Bu Inez merubah posisinya menjadi tengkurap.
Belum sampai puncak, Pak Burhan ingin berlama-lama dengan permainannya, masih banyak gaya yang ingin ia coba dengan posisi tubuh Bu Inez di atas meja, sedangkan ia bermain dengan posisi berdiri.
__ADS_1
Sial. Pemainan belum selesai, ponsel milik Bu Inez berdering sangat nyaring, membuat Pak Burhan kehilangan konsentrasinya, dan terpaksa mencabut miliknya karena Inez harus menjawab, atau bila perlu matikan saja ponselnya agar tidak ada yang mengganggu.
"Sabar ya, Mas." Bu Inez terkekeh sendiri dengan sikap suaminya yang terlihat tidak baik-baik saja. Pak Burhan terpaksa harus menunggu dengan perasaan gelisah, sementara Bu Inez bicara dengan seseorang dalam sambungan telepon.
"Vania," sapa Bu Inez.
Pak Burhan menyandarkan tubuhnya di atas sofa, menghela nafas dalam. "Anak itu... bener-bener ya!"
"Ini saya, Arga Bu."
"Arga. Ada apa?"
"Vania muntah-muntah, Bu," kata Arga ragu-ragu.
"Muntah-muntah?"
"Hhmm..." jawabnya tanpa berkata.
"Vania gak mau ke dokter, Bu."
"Terus maunya ke mana?"
Lama menunggu, Pak Burhan pun menghampiri Bu Inez lalu memeluknya dari belakang.
"Lama banget!" protes Pak Burhan.
"ini, Mas. Vania muntah-muntah katanya."
"Oh. Udah biasa itu. Suruh ke dokter kandungan."
"Udah. Cuma Vanianya gak mau."
__ADS_1
"Maunya apa?"
"Belum tau, Arga belum jawab."
"Gimana, Ga. Vania maunya kemana?" Bu Inez kembali bertanya pada Arga.
Entah apa yang dikatakan Arga, Pak Burhan hanya mendengar Bu Inez meminta Vani datang ke rumah, lalu memutus sambungan telepon.
"Apa katanya?" tanya Pak Burhan.
"Vania mau kesini, Mas," saut Bu Inez.
"Apa. Mau ke sini?" Pak Burhan terkejut.
"Iya. Katanya dia pengen tinggal sama kita."
"Tinggal di sini juga?"
"Iya. Emangnya kenapa?"
Seketika milik Pak Burhan yang siap kembali bertempur malah lemas tertidur. "Gagal lagi kita."
Bu Inez tersenyum. "Sabar ya, Mas."
UP setiap hari. Tapi jempol nya selalu di tekan ya 😄. kolom komentarnya juga di isi ya 😄.
Jangan lupa bunganya juga di tebar 🤭.
__ADS_1
Maafkan daku yang banyak maunya ini 🤗🤗🥰🙏