
Malam yang panjang ia lalui bersama istri tercinta, ia bahkan sengaja memulangkan semua pembantunya setelah selesai merapihkan rumah seperti sedia kala.
Burhan sengaja melakukan itu, karna dirinya saat ini tidak bisa sedikitpun jauh dari sang istri, semua hal mereka lakukan bersama. "Kamu itu kayak perangko mas." di mana Burhan selalu mengikuti setiap langkah, kemanapun Inez pergi.
"Bukan perangko. Tapi tubuh kamu itu mengandung maghnet."
Inez terkekeh dengan perkataan dan sikap suaminya terhadap dirinya. "Mas..mas.."
"Mau masak apa hari ini?" Tanya Burhan sambil memeluk Inez dari belakang. Ia menautkan dagunya di bahu Inez.
"Pizza mau?"
"Pizza apa?"
"Pizza al taglio."
"Wow..khas eropa?" Melirik wajah Inez dari samping, lau mencium pipinya.
"Kamu jago masak?"
"Hampir semua masakan aku bisa." Jawbnya tanpa menghentikan aktivitas.
"Udah cantik, pinter, cerdas lagi."
Dan kemesraan mereka tidak luput dari pengawasan Vania yang sengaja datang ke rumah papahnya hanya untuk mengganggu kemesraan pengangin baru. "Khhm.."
Deheman Vania membuat Keduanya terkejur, dan langsung menoleh ke belakang. Vania menggeleng-gelengkan kepala menatap memesraan di depan mata, sedangkan Arga membuang wajahnya ke sembarang arah, Karna tak ingin melihat kemesraan mertuanya yang baru saja menikah. "Ya ampun Vania, kamu malu-maluin tau gak." Batin Arga bergumam, ia berdiri di belakang sang istri.
"Nia." Inez langsung melepaskan tangan Burhan yang melingkar di perutnya.
"Kenapa?" Tanya Burhan.
"Malu mas." Saut Inez sambil menunduk, dan wajahnya berubah merah merona.
"Gak apa-apa. Sini." Burhan kembali melingkarkan tangannya pada perut sang istri, ia memeluknya dari belakang seperti tadi.
"Vania itu ke sini cuma mau gangguin kita, coba aja tanya."
"Hhmm.. Papah." Vania melangkah maju lalu memeluk Inez dari depan, terpaksa Burhan harus melepaskan pelukannya, karna Vania memeluk ibu barunya, sambil mendorong tubuh sang ayah.
"Nia.."
"Sebentar pah, aku mau berangkat kuliah."
"Aku mau peluk ibu ku dulu." Tak lama Vania melepaskan pelukannya. "Apa papah masih kuat bu?" Ia berbisik di telinga Inez.
"Sedikit." Saut Inez yang juga berbisik di telinga Vania.
Burhan yang mendengarnya langsung melayangkan protes. "Enak aja, semalam siapa yang lemes duluan." Kata Burhan bicara tanpa sensor, membuat wajah Inez kembali memerah, semerah jambu.
"Mas.. Ya ampuun.."
Arga yang mendengarnya di belakang cuma bisa tepuk jidat, dengan tingkah konyol istri dan mertuanya. "Mereka berdua sama, konyol ternyata."
"Malu tau."
"Lagian, masa keperkasaan ku di ragukan."
"Aku biar umur udah 50 tahun, masih bisa kan buat kamu lemes." Ucapan Burhan menambah pembicaraan semakin panas, dan Vania malah tertawa lepas mendengar pengakuan sang ayah.
"Pah.. Jangan bangga duly, lebih kuat juga suami ku."
"Iya kan Hubby.."
Arga yang masih berdiri di belakng sang istri hanya mengangguk malu.
__ADS_1
Karna tak mendengar jawaban apapun dari Arga, Vania kembali memanggilnya. "Hubby.."
"Iya sayang, iya." Obrolan mereka semakin konyol, Arga segera mengajak Vania untuk berangkat kuliah, karna dia sendiri harus secepatnya sampai di Restauran, setelah beberapa kali mendapat panggilan dari Evan.
"Kalau gak di berhentiin, obrolan sama papah kamu itu berbahaya sayang." Kata Arga sambil melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju kampus sang istri.
"Aku gak mau kamu kalah dari papah."
ha..ha.. tiba-tiba saja Arga tertawa lepas. "Gak ada yang bisa nandingin keperkasaan aku sayang."
"hhmm.. Sekarang aja baru berani sombong, di depan papah manggut-manggut aja tuh."
"Nia sayang.."
"Kalau aku menyombongkan diri di depan papah kamu, mau di gorok?" katanya sambil meraih tangan Vania, lalu mengecupnya penuh cinta.
Vania tersenyum, lalu bersandar di bahu Arga. "Gak perlu menyombongkan diri, karna cuma aku yang tau betapa kamu sangat perkasa, Hubby."
Arga mencium puncak rambutnya, dan terus melajukan mobilnya sampai tiga puluh menit kemudian, mereka pun sampai di kampus Vanaia.
"Aku gak bisa jemput kamu, nanti naik taksi gak apa-apa kan?" Kata Arga sambil mengusap pipi Vania.
"Gak apa-apa Hubby. Nanti kalau aku gak cape, aku datang ke Restauran ya. Boleh?"
"Boleh dong."
"Tapi jangan maksain ya."
"Kasian baby kita." Arga mengusap perut Vania yang masih rata.
"Ok." setelahnya Vania pun membuka pintu mobil. Belum terbuka sempurna, Vania melihat Whisnu baru datang, dan memarkirkan motornya di parkiran depan mobil mereka. Sejenak ia terdiam, melihat ke arah Whisnu, lalu menatap wajah Arga, yang terlihat masam.
"Hubby.."
"Hubby.." Panggilnya lagi.
"I..iya sayang?"
"Kamu mau antar aku ke dalam?" Vania sangat tau kalau saat ini suasana hati suaminya sedang tidak baik-baik saja. "Cemburu pasti."
"Gak usah, aku percaya ko sama kamu."
Vania tersenyum lega mendengarnya. "Makasi ya, udah percaya." ia pun mencium singkat bibir Arga, setelahnya ia keluar dari mobil, Vania melambaikan tangannya saat Arga membunyikan klakson, dan lngsung mendapat anggukan ramah dari Whisnu.
"Gak nyangka, kamu bakal nyapa kak Whisnu." Bergumam sangat pelan.
Langkah Whisnu berhenti di depan Vania, mereka saling bertegur sapa canggung. "Aku sangat mencintai mu Nia, sangat, bahkan sampai saat ini." Batinnya bergumam.
"Kak.." Vania menyadarkan Whisnu dalam lamunannya.
"Oh..iya..?"
"Bengong?"
"Maaf." Whisnu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Kita gak ada jam kuliah kan?" Tanya Vania santai.
"Nggak ada, ku ada jam di kelas lain."
Vania mengangguk. "Baiklah, kalau gitu.. Aku duluan ya kak."
"Permisi." Vania pun berlalu meninggalkan Whisnu yang malah terus berdiri menatap Vania berjalan semakin jauh, bahkan dia masih menatapnya sampai Vania benar-benar sudah hilang saat menaiki anak tangga utama.
"Aku mencintai mu Vania. Sangat."
__ADS_1
Di tempat lain, Jehan sedang berusah mengeluarkan Megan dari jeruji besi, yang sudah mengurungnya selama beberapa bulan lalu. "Mamah akan trus berusaha."
"Maksimal dong mah." Pinta Megan memaksa, ia sudah gerah berada di dalam sana, banyak napi yang brsikap semena-mena padanya, ia sudah tidak sanggup lagi atas perlakuan napi yang lain terhadapnya. "Sangat kasar."
"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Jehan.
"Banyak mah, aku suruh mijitin dia, ngipasin, nyuciin bajunya, pokoknya bayak deh."
"Aku udah gak tahan, aku mau cepet-cepet keluar." Megan terus merengek memohon sambil memegang tangan mamahnya.
"Iya..iya.. Sabar sedikit lagi, Om kamu akan membebaskan kamu."
"Kapan dia datang sih mah?"
"Bulan depan. Dia udah janji sama mamah, dia pasti bebasin kamu."
"Dengan cara apa?"
"Apapun akan dia lakukan."
"Kalau sudah bebas, aku mau pulang ke Paris mah, aku gak mau tinggal di sini. Di sini kita miskin."
"Iya, mamah juga udah muak, tinggal di sini, apa lagi si tua itu udah nikah lagi."
Jehan mendengus kesal, mengetahui kalau Burhan menikahai seorang wanita yang masih muda dan masih perawan.
Seperti biasa ya, jejaknya, supaya popularitas Om Arga semakin meningkat 🥰🙏🙏.
LIKE
KOMEN
VOTE
BUNGA
Maaf ya maksa 🥰🙏
__ADS_1