
"Jika kau masih ingin dianggap cucu olehku, maka pergilah ke Indonesia dan menikah dengan wanita yang telah ibumu pilihkan. Lupakan wanita bernama Jecy yang kau cari-cari itu."
Sial! Kakeknya tidak tahu saja, kalau dirinya impoten!
Lebih tepatnya, adik kecil Leon sudah tidak pernah mendapatkan cukup ereksi.
Selama lima tahun ini, dia tidak bereaksi terhadap rangsangan dari wanita manapun. Tapi anehnya, Leon menjadi bersemangat ketika membayangkan wajah Jecy, bahkan wanita itu kerap hadir di mimpinya.
Dokter mengatakan, ini adalah fenomena aneh. Jalan satu-satunya, dia harus bertemu dengan wanita yang menjadi pemicunya. Oleh sebab itu, Leon mencari Jecy, yang sialnya sulit sekali ditemukan.
Wanita itu seperti ditelan bumi, entah masih hidup atau sudah mati.
Leon berpikir, jika berhubungan dengan wanita lain yang memiliki kemiripan seperti Jecy, itu bisa membantunya. Namun, tetap saja tidak bisa.
"Sialan!" umpat Leon benar-benar frustasi.
Dia merasa harga dirinya sebagai pria sejati hilang karena keadaannya yang seperti ini. Bagaimana bisa dia menikah dengan wanita pilihan ibunya, di saat adik kecilnya tidak merespon wanita lain kecuali Jecy?
**
"Apa apa? Sebegitu tidak senangnya kau pulang kampung?" tanya seorang pria yang duduk di sebelah Leon.
"Bagaimana aku bisa senang setelah hidup bebas yang kujalani di Amerika direnggut paksa? Bahkan aku dipaksa menikah seperti wanita! Entah apa yang sedang dipikirkan kakek tua itu sampai mengancamku!" ceracau Leon tidak sanggup menahan unek-uneknya.
Hari ini adalah hari kepulangan Leon ke negara kelahirannya, Indonesia. Tempat di mana ayah, ibu, dan kedua adiknya menetap.
Leon sampai dua jam yang lalu, orang yang datang menjemputnya di bandara ialah adik kembarnya──Leonard Friory Januartha. Secara medis, mereka hanya terpaut lima belas menit saja.
Dan kini, Leon sedang berada di dalam mobil mewah yang menembus padatnya jalan di ibu kota.
Selama perjalanan Leon mengamati keadaan hiruk-pikuk kota Jakarta yang sudah sangat berubah dua belas tahun terakhir. Dikarenakan pada umur dua puluh tahun, dia pindah ke Amerika. Dia menempuh pendidikan di sekolah bisnis di Negeri Paman Sam itu, dan berakhir meneruskan perusahaan milik keluarganya di sana.
"Pagi-pagi sudah macet saja," gerutu Leon menghela napas berat karena bosan, lalu bergerak sedikit untuk mencari posisi nyaman. Bokongnya terasa pegal sekali. Sudah terlalu lama dia duduk di jok mobil sialan itu.
"Sabarlah, Leon. Inilah yang namanya Ibu Kota Jakarta. Kemacetan sudah menjadi makanan sehari-hari," ucap Leonard tanpa mengalihkan tatapan pada layar ponselnya.
Pria itu lebih memilih sibuk mengecek beberapa pesan penting dari rekan bisnisnya, daripada meladeni setiap gerutuan kakak kembarnya.
Leon memutar bola mata jengah, lalu memilih diam dan melanjutkan menggerutu di dalam hati.
Menurutnya, Leonard memang tidak asyik untuk diajak berkeluh-kesah. Sejak kecil, adiknya itu sangat pendiam dan memiliki sifat seperti ibunya. Berbeda dengan dirinya yang lebih seperti ayahnya. Wajah mereka memang mirip, tapi kepribadian mereka bertolak belakang.
Mobil yang Leon tumpangi terjebak macet yang semakin parah. Benar-benar membuatnya jengkel. Padahal dia ingin cepat-cepat sampai ke tempat tujuan.
Mencoba meredam emosi, Leon mengambil rokok dan pemantik.
__ADS_1
"Jangan merokok di dalam mobil, sialan!" seru Leonard merasa terganggu dengan asap dari rokok yang Leon nyalakan.
Leon tersenyum sinis melihat adik kembarnya yang terbatuk-batuk, dan masih santai menyesap rokok, "Apa peduliku?"
"Brengsek! Turunkan kaca jendelanya!"
Pada akhirnya, Leonard memerintah seorang pria yang duduk di bangku pengemudi, yang langsung dipatuhi supir itu.
Leon mendengus, kemudian kembali melempar pandangan keluar jendela mobil yang kacanya terbuka setengah.
Seketika itu pula, pria itu melihat sosok familiar yang sedang menggandeng tangan seorang anak kecil. Leon menatap lekat tubuh bagian belakangnya.
Rambut coklat muda panjang. Tinggi dan liuk tubuh yang sering melintas di mimpinya. Dia semakin terpana. Dan ketika sosok wanita itu menoleh ke samping, terlihat bola mata amber yang jernih.
Dia... wanita yang dicarinya selama ini.
"Jecy?" gumam Leon tanpa sadar.
Tanpa berkedip, dia mengamati sosok wanita yang kini hendak jalan berbelok.
Tidak mau kehilangan lagi, Leon langsung bergegas membuka pintu mobil. Untungnya mobil yang ditumpanginya sedang berhenti karena terjebak di tengah-tengah kemacetan.
"Hei, Leon! Mau ke mana kau?" seru Leonard, heran dengan sang kakak yang tiba-tiba keluar dari mobil.
Leon mengabaikan, dan berlari mengejar wanita itu. Langkah lebarnya terhalang ramainya pejalan kaki. Ketika dia berbelok ke jalan di mana hilangnya si wanita, dia malah berpapasan dengan seorang pria tua yang mendorong gerobak roti.
Menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari wanita berambut cokelat muda, warna itu cukup mencolok di antara orang-orang berambut hitam.
"Di mana dia?" gumam pria itu terus mencari.
Hingga akhirnya, menemukan sosok berambut cokelat muda. Dia langsung memegang pundak wanita itu dari belakang.
"Jes──"
Si wanita berbalik, dan memberi tatapan bingung pada bola mata berwarna hitam. Ucapan Leon seketika tertahan di rongga tenggorokannya, ekspresi senang menjadi pias detik itu juga.
Bukan, dia bukan wanita yang dia cari. Bukan Jecy.
"Ada apa?" tanya si wanita gugup. Kedua pipinya bersemu, ketika menyadari wajah tampan dari pria yang menghentikan jalannya.
Leon berdiri dalam diam, tangan yang memegang pundak wanita itu terjatuh lemas.
"Hei? Apa kau butuh sesuatu dariku?" tanya si wanita lagi.
"Tidak, aku salah orang."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Leon berbalik pergi.
Pria itu merasa kecewa karena ternyata hanya salah lihat. Dia sungguh merasa frustasi dengan obsesinya terhadap Jecy.
"Leon!" seru Leonard yang berhasil mengejar Leon, napasnya terengah-engah. Lalu mengatur napas sejenak sebelum melontarkan omelan, "Apa kau gila, ha? Apa yang kau pikirkan sampai berlari seperti orang kesetanan? Mengejar wanita acak di pinggir jalan?"
Sedangkan yang mendapatkan omelan itu menyugar rambut hitamnya ke belakang, tidak menyahuti. Leon cukup lelah untuk berbicara. Kemudian dia kembali melangkah menuju ke tempat mobilnya berada.
Leonard menatap punggung sang kakak dengan memicing keheranan.
Pria itu memang mengetahui jika Leon sedang mencari seorang wanita selama lima tahun ini. Namun dia tidak menyangka, wanita itu bisa membuat kakaknya sampai gila seperti ini.
Bukankah wanita itu sangat luar biasa? Leonard menjadi penasaran dengan wanita yang dicari-cari kakaknya itu.
"Sebenarnya siapa dia?"
**
Di lain sisi, di tempat yang sama. Terlihat Jecy yang sedang menggandeng Liam, mereka sedang menuju ke tempat penitipan anak.
"Liam ingin gulali, Mom!" seru Liam menunjuk penjual gulali di pinggir jalan. Bocah itu sangat menyukai makanan manis.
Jecy mengacak rambut halus putranya, "Kau akan gendut akibat kebanyakan menimbun gulali."
"Ayolah, Mom. Hanya satu kali untuk hari ini, kumohon..."
Dua iris kombinasi milik Liam berbinar seperti anak anjing, senjata andalan untuk merayu sang mommy supaya menuruti kemauannya.
Bagaimana bisa dia berkata tidak kepada anak semanis ini?
Jecy menghela napas, "Baiklah, hanya satu kali untuk hari ini."
"Oke!" seru Liam girang, meloncat dengan kedua tangan yang terentang ke atas.
Kemudian bocah kecil itu menghampiri si penjual gulali yang seolah memanggil-manggilnya untuk jajan. Setelah mengatakan jika dia ingin membeli satu gulali, Liam merogoh saku celana pendeknya untuk mengambil uang. Dia membayar satu gulali dengan uang sepuluh ribu.
Jecy yang memperhatikan, tersenyum bangga. Ya, putranya memang pintar.
"Leon!"
Jecy tertegun beberapa detik.
Segera dia melempar tatapan ke sekeliling. Ketika dia menoleh ke samping kiri, sepuluh meter dari tempatnya berdiri, Jecy melihat seorang lelaki berpostur tubuh familiar. Wajah lelaki itu tidak terlihat terlalu jelas karena selalu ditutup orang-orang yang berlalu lalang.
"Mommy!" panggil Liam menarik ujung baju yang dikenakan ibunya, membuat Jecy mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Dia tidak mungkin ada di sini, 'kan? Mendengar namanya saja membuatku takut," gumam Jecy, menyangkal keberadaan Leon.
_To Be Continued_