
"Liam ingin main kejar-kejaran di sini. Ruang tamu di rumah paman sangat luas. Aku bisa berguling ke sana ke mari," Liam terlihat bersemangat. Memang benar yang dikatakan anak kecil itu. Ruang tamu di vila Leon sudah sangat luas untuk dijadikan tempat bermain. Ini lima kali lebih luas dari tempat tinggalnya, "Biarkan Liam menjadi pahlawan dan paman adalah monsternya," gigi susunya terlihat berjejer rapi ketika tersenyum lebar.
Mengangguk menyetujui, Leon bersyukur bisa menghabiskan waktu bermain bersama anaknya, "Ide yang bagus."
"Dia sangat menyukai anak kecil?" pikir Jecy bertanya-tanya tentang sikap Leon yang begitu ramah terhadap Liam. Heran dan tidak menyangka.
"Apa mommy tidak mau ikut?" tanya Liam pada Jecy yang hanya diam memperhatikan.
Sebenarnya Jecy ingin melarang Liam namun ia merasa bimbang, sebab buah hatinya terlihat sangat bahagia. Meski berat hati, pada akhirnya dia membiarkannya. Lagipula mereka juga akan segera pergi dari tempat ini. Mau bagaimanapun darah lebih kental daripada air, tidak apa-apa sesekali membiarkan Liam bermain dengan ayah biologisnya.
Jecy menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Liam. Dia sendiri tetap membatasi diri agar tidak terlalu terlibat kontak fisik dengan Leon. Apapun itu, dia enggan berdekatan dengan pria itu.
"Mommy bertugas mengawasimu, juga mengkhawatirkanmu," wanita itu sadar bahwa Leon belum berpengalaman dalam mengurus bocah kecil umur lima tahunan apalagi yang hiperaktif macam Liam. Bisa saja pria itu lengah dan putranya dapat mengalami hal buruk seperti terjatuh atau terpeleset. Dia belum sepenuhnya memercayai pria itu.
Dan ketika dua orang lelaki beda usia itu bermain maka Jecy akan duduk sambil memerhatikan dari jarak tidak terlalu jauh. Anaknya sangat senang bahkan suara tawa nyaringnya terdengar lucu saat berhasil membuat Leon──yang berperan sebagai penjahat menyerah sambil meminta untuk dilepaskan dari apitan tangan mungil Liam.
Mereka berdua bertingkah konyol, Jecy sampai terkikik sembunyi-sembunyi ketika melihat Leon ikutan bertingkah aneh. Lelaki itu bisa bertingkah di luar kesehariannya. Raut wajah serius serta kerutan tajam di dahi nampak terganti dengan wajah ramah tanpa ada tatapan intimidasi seperti biasanya. Tiba-tiba dada Jecy sesak, apa seperti ini bentuk keluarga sesungguhnya? begitu bahagia, penuh canda tawa.
Dulu ketika remaja, Jecy sempat memimpikannya, mengharapkan dapat membangun biduk rumah tangga bersama orang yang dicintainya. Namun, itu hanya sebuah impian yang tidak mungkin pernah terwujud. Kini dia sudah terbangun dari mimpi itu.
"Paman ayo gantian kejar Liam! Tangkap aku! Ayo!" seru Liam penuh tawa, kaki kecilnya berlari menuju sang mommy berada.
"Tunggu saja, paman akan menangkapmu!"
"Tidak! Kau tidak bisa menangkapku!"
Liam semakin dekat dengan Jecy yang duduk termenung, bocah kecil itu ingin bersembunyi pada mommy-nya. Begitu pula dengan Leon yang masih mengejar di belakang. Mereka berdua terlihat bahagia. Ketika tubuh kecil itu hampir tertangkap, dia langsung berjongkok untuk menghindar.
__ADS_1
Dan yang terjadi selanjutnya, Leon kehilangan keseimbangan dan berakhir menubruk Jecy. Membuat Jecy begitu terkejut karena berada di posisi terhimpit di antara sandaran sofa dan tubuh kekar tanpa pakaian.
"Me-menyingkir!" seru Jecy lebih terdengar mencicit.
Namun, Leon justru menggunakan kesempatan itu untuk melihat Jecy secara dekat. Wanita itu berkeringat dan rambutnya sedikit berantakan. Kuncirnya mengendur hingga beberapa helai rambut tersampir begitu saja. Sangat berantakan namun terlihat seksi.
Jecy gelagapan, menyadari tatapan intens itu, "Kau berat, Tuan. Bisakah kau menyingkir?"
Suaranya terdengar kecil nyaris seperti gesekan daun di telinga Leon. Tangan putih nan kurus mendorong sang pria.
"Hey, apa aku sebegitu menakutkan?" tanya Leon yang tidak kunjung menyingkir. Batinnya berdecak, "Ck, ayolah. Kita sama-sama manusia. Aku tidak akan memakanmu."
Ya, belum.
"Ya, kau menakutkan. Karena itu menyingkir," lagi Jecy meminta pria itu minggir, kali ini terselip nada memohon.
Sinting! Jecy memohon dengan cara yang begitu salah. Jemari halusnya memegang dada bidang Leon. Bulatan mata membulat lebar seperti bulan purnama penuh. Apalagi sewaktu berkedip sampai bulu mata lentiknya terlihat jelas. Dan apa-apaan ini? Leon merasa tegang dan terangsang?
"Sial," Leon mengumpat dalam hati.
"Tuan," lidah Jecy mengucapkan kata 'tuan' dengan lidah menyentuh atap rongga mulut. Terdengar seperti mendesh. Dia memohon pada orang yang salah. Sekuat apapun mendorong dia tidak mampu menyingkirkan tubuh kekar pria itu.
Di sisi lain, tubuh Leon mulai panas dingin. Pria itu merasa bisa mati muda jika lebih lama berdekatan dengan Jecy. Dia berbeda dengan wanita lain yang bisa dikendalikannya. Jecy Ketlovly justru hampir bisa mengendalikannya hanya dengan sedikit sentuhan dan pandangan dalam memohon. Bisa-bisa dirinya mencium ganas bibir wanita itu, lalu melakukan hal kurang ajar padanya.
Tidak bisa pungkiri, Leon adalah pria super cabul.
Drrttt, drrttt. Sebuah dering telepon terdengar, menghentikan Leon yang hampir kebablasan. Panggilan masuk dari ruang kerja membuatnya mengalihkan perhatian. Dia berdecak malas hampir-hampir mengumpat bila tidak ingat ada anaknya.
__ADS_1
Dia sudah berpesan pada Marvin untuk sejenak menggantikannya mengurus semua hal yang berkaitan dengan perusahaan. Leon tidak ingin diganggu saat menghabiskan waktu lebih banyak bersama Jecy dan anaknya, tidak ada yang boleh mengganggunya kecuali memang benar-benar sesuatu yang mendesak. Urgent.
Tapi meskipun begitu tetap saja tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan membuat pria itu merelakan langkahnya menuju arah ruang kerja. Jika pembicaraan telepon ini nantinya tidak terlalu penting, ingatkan Leon untuk memberikan hukuman pada Marvin.
Jecy bernapas lega sesaat setelah pria itu bangkit, wajahnya memerah matang.
Leon berlalu setelah mengusap kepala Liam, membiarkan ibu dan anak itu di ruang tengah tanpa tahu ada orang lain masuk ke dalam vila.
Seorang wanita berparas cantik dengan lekuk tubuh semampai datang tanpa adanya perjanjian atau persetujuan lebih dulu. Kirana masuk dengan langkah percaya diri. Toh dia sudah beranggapan tinggi, nantinya dia akan menikah dengan Leon dan semua yang dimiliki pria itu adalah miliknya.
**
Leon bersumpah. Hanya sepuluh menit yang dia habiskan untuk berbicara di ruang kerjanya tapi suara lengkingan dari arah luar membuatnya terlonjak kaget. Ditambah suara jatuhnya beberapa benda serta para pelayan datang menghampirinya tergopoh semakin menguatkan rasa khawatir pria itu. Dia bergegas kembali dengan tergesa.
Firasatnya buruk. Leon mengendus hal tidak baik.
"Mommy!"
Suara teriakan Liam menggema. Leon mempercepat langkahnya, tangannya terkepal erat melihat ruang tengah sudah berantakan dan seorang pelayan memberitahu apa yang tengah terjadi. Seseorang tiba-tiba masuk dan langsung mengamuk dengan niatan melukai Jecy.
Mata Leon berkilat marah. Siapa orang yang berani membuat keributan di tempatnya? Dia tergesa menuju asal suara teriakan. Matanya melotot melihat keadaan Jecy dan Liam berantakan. Keduanya tersungkur dengan beberapa luka memar.
Jecy sempat melihatnya, sorot matanya melemparkan kekecewaan pada Leon.
Wanita itu terlihat rapuh hanya dari pantulan dua bola matanya yang berair. Leon menggelengkan kepala, dia merasakan sakitnya tatapan kebencian Jecy untuknya.
_To Be Continued_
__ADS_1