
Hujan di malam yang semakin larut tidak mendinginkan kegelisahan yang ada pada raut wajah cantik Jecy. Menoleh ke belakang guna memeriksa keberadaan seseorang yang mengejarnya, lalu bernapas lega tatkala tidak menemukan siapapun. Syukurlah Leon tidak mengejarnya.
Cepat-cepat Jecy menghentikan taksi dan menaikinya. Ia harus segera pulang karena putranya pasti sedang menunggu.
Tak memakan waktu yang lama, taksi tersebut sampai di tempat tujuan penumpangnya. Jecy turun dan langsung berlari menerobos tirai hujan yang semakin deras.
Wanita itu sampai di rumah pada pukul setengah sebelas malam. Dan benar saja, Liam sedang menanti kepulangannya dengan wajah ngantuk yang cemberut.
"Mom...! Mommy kenapa terlambat pulang? Katanya hari ini tidak lembur," rajuk bocah kecil yang memakai piyama bergambar beruang itu. Bibirnya mengerucut.
"Liam," Jecy ingin sekali memeluk buah hatinya, tapi seluruh pakaiannya basah karena kehujanan, "Mommy minta maaf. Hari ini terlambat pulang."
Ia dilanda kekhawatiran setiap harinya. Sebab, Liam hanya bisa dititipkan di penitipan anak sampai sore hari. Kemudian anak berumur empat tahun itu akan menunggu ibunya yang bekerja sepanjang hari di rumah sendirian.
Melihat kondisi sang ibu yang basah kuyup, bocah kecil itu berlari masuk ke dalam kamar. Dua menit berikutnya, Liam kembali dengan membawa handuk untuk diberikan kepada ibunya.
Jecy menerima handuk itu dengan tersenyum, putra kecilnya sangatlah perhatian. Dia tidak tahan menggerakkan tangannya untuk mengelus surai hitam tebal milik Liam, "Kenapa kau belum tidur? Ini sudah larut malam."
"Liam belum mau tidur karena menunggu mommy pulang, agar kita bisa tidur bersama."
Liam sangat bersikeras menunggunya. Bagaimana jika tadi dia tidak bisa kabur dari Leon? Apa yang akan terjadi pada putranya yang ditinggal sendirian? Apakah Liam akan menangis karena ibunya menghilang?
Jecy tidak sanggup membayangkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, dia tidak ingin meninggalkan anak laki-lakinya. Dia hanya berharap kepada Tuhan supaya bisa hidup tenang bersama Liam seorang.
Jecy mengelus kening anaknya. Lihat, bayi kecil yang ia besarkan seorang diri kini telah tumbuh sehat. Dia anak yang montok, bahkan bobotnya sering membuatnya kesusahan untuk menggendong.
Dia mengingat saat kelahiran Liam dulu. Dia berjuang antara hidup dan mati tanpa keluarga yang mendampingi. Ditengah kesakitan hebat yang dia alami, Jecy percaya anaknya adalah berkah dari Tuhan yang harus dia jaga.
Liam menarik tangan Jecy, langkah kaki kecil itu membawa ibunya ke kamar mandi, "Mommy harus segera mengganti baju agar tidak sakit. Liam tidak ingin mommy sakit. Nanti akan Liam ambilkan baju hangat."
Jecy terkekeh lirih, "Baiklah, setelah itu ayo kita tidur bersama."
__ADS_1
**
Jecy terbangun ketika merasa sebuah kecupan manis pada wajahnya. Sinar mentari dari celah ventilasi sedikit mengaburkan penglihatannya. Badannya terasa pegal, sakit kepala dan terasa tidak nyaman. Ia akan bangun namun entah kenapa matanya terasa berkunang-kunang. Bahkan kepalnya ikutan berputar.
Apa dirinya sakit karena hujan semalam?
"Mommy bangun, Mom."
Suara cempreng Liam membuat Jecy tersenyum. Apa anaknya sudah bangun sejak pagi?
"Mommy!"
Bocah itu memanggil Jecy sekali lagi agar segera bangun. Liam tahu ibunya harus pergi bekerja.
"Sayang sudah mandi?" tanya Jecy dengan parau.
Kakinya diluruskan mencari posisi nyaman. Jecy sedang tidak enak badan, matanya perih dan dia yakin kantung mata panda memperburuk keadaannya. Kemudian dia mengelus kening Liam sebelum mengecupnya.
"Menunggu mommy, Liam ingin mandi bersama," Oh, manis sekali perkataan putranya. Jari mungil Liam menunjuk pada hidung Jecy, mata hazel itu menajam ketika mendapati pancaran sendu ibunya, "Apa mommy baik-baik saja? Mommy terlihat kelelahan? Mommy sakit?"
Liam semakin khawatir. Dia mendekatkan keningnya pada dahi Jecy. Dulu ibunya sering melakukannya sewaktu dia terserang demam flu, memeluknya seharian tanpa mengeluh sedikitpun. Katanya bisa meredakan demam dengan membaginya ke orang lain.
Cubitan gemas Jecy berikan di hidung kecil Liam, "Tidak sayang, mommy hanya sedikit merasa kelelahan, keterusan menggendong Liam yang berat."
Godaan sang ibu disambut gerutuan lucu Liam, "Ayo sekarang kita mandi, Liam ke kamar mandi dulu, ya. Mommy menyiapkan pakaian."
Tidak ingin putranya semakin bertanya lebih jauh, Jecy lebih dulu menyuruhnya segera menuju kamar mandi.
Ketika Jecy bangkit dari ranjang, kepalanya semakin bertambah pusing, segala yang dia lihat seperti berputar-putar. Objek di sekitar terlihat terlihat buram dan berbayang. Ia memegangi kepalanya, mencoba mencapai kesadaran dengan berkedip berulang kali. Namun gagal, pandangannya justru terus semakin bertambah kabur.
Kepalanya semakin berat, hingga perlahan pandangannya ditelan kegelapan seutuhnya.
__ADS_1
Bruk!
**
Lagi-lagi Leon bertindak di luar kebiasaan. Dia melupakan sarapan pagi sampai mere-schedule kegiatannya untuk hari ini. Segala pertemuan dicancel atau diwakilkan. Dia tidak ambil pusing dengan beberapa agenda pertemuan, mau rapat bersama klien penting atau bukan.
Pria berdarah campur itu justru memacu mobilnya ke sebuah alamat tempat Jecy tinggal. Segalanya berubah menjadi tidak terkontrol sejak dia bertemu kembali dengan wanita itu, dan Leon membenci rasa ingin tahu berlebih jika menyangkut wanita yang masih terus menganggu pikirannya.
Leon hanya butuh pertanggung jawaban dari Jecy agar dia bisa tidur tenang──tanpa bermimpi erotis lagi. Jika dia tidak bisa memiliki Jecy yang sudah bersuami, maka dia akan membayar berapapun untuk membuat wanita itu kembali tidur dengannya.
Dia meyakini, obsesinya terhadap Jecy akan hilang jika dia mencicipi tubuh wanita itu sekali lagi. Leon hanya harus membebaskan keinginan berlebihnya. Setelah penyakit anehnya sembuh, dia tidak akan peduli pada Jecy lagi.
Mengenakan jas hitam dipadu kaca mata lensa gelap guna menutupi sebagian lebam di wajahnya, dan di sinilah sekarang Leon berada.
Rumah──lebih cocok jika disebut kontrakan satu petak yang membuat pria itu mengerutkan dahi, "Tikus got itu senang sekali tinggal di tempat kumuh seperti ini," desisnya lirih.
Bau udaranya lembab tak sehat. Tak ada bedanya dengan tempat tinggal Jecy di Distrik Skid Row dulu. Bangunan satu lantai di depannya bisa dikatakan tempat tinggal paling buruk konstruksinya, betonnya keropos serta ditumbuhi lumut yang Leon percaya akan segera rata dengan tanah jika ada angin kencang lewat.
Sol sepatu beradu tanah basah dan berlumpur, ia merasa jijik sampai ingin meludah. Kira-kira sudah berapa lama Jecy tinggal di tempat seperti ini?
Leon menggelengkan kepala enggan memedulikan hal itu. Hidup di kolong jembatan pun dia menyakinkan diri untuk tidak mempedulikan Jecy. Salah wanita itu menikah dengan pria miskin yang tidak mampu memberi tempat tinggal yang layak.
Ketika sudah berdiri di depan pintu, pria itu sedikit ragu. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Jantungnya terlalu berisik sekadar untuk memompa aliran darah.
Leon tidak ketakutan, dia hanya kebingungan. Apa yang harus dia ucapkan? Salam bertamu? Jangan gila, itu bukan gayanya. Baru semalam dia menculik Jecy, yang ada dia akan dihantam kembali. Lagipula temperamennya mudah tersulut.
Lantas apa kata pertama yang harus Leon ucapkan?
Krek! Tangan Leon yang hendak mengetuk tertahan di udara ketika pintu di depannya terbuka. Liam keluar dari balik daun pintu dengan menangis histeris, bocah kecil itu langsung menubruk kakinya.
"Hiks, tolong mommy...!"
__ADS_1
_To Be Continued_